tirto.id -
Cherry District dirancang sebagai ruang pertemuan bagi berbagai elemen dalam ekosistem kreatif yang berkaitan dengan musik independen. Tidak hanya menghadirkan karya musik, acara ini juga menampilkan berbagai produk turunan dari kultur musik, mulai dari rilisan fisik, merchandise, hingga publikasi cetak.
Tahun ini, Cherry District melibatkan puluhan pelaku kreatif. Di antaranya 19 tenant merchandise band, 10 toko merchandise independen, 13 penerbit buku, 11 record store, serta sekitar 50 pelaku art merchandise yang turut meramaikan area pameran.
Penyelenggaraan acara ini juga menggandeng sejumlah komunitas dan organisasi dalam ekosistem kreatif, seperti Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Cherrymerch, Jogja Records Store Club, serta Bursa Seni. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan pelaku industri, komunitas, dan penikmat musik dalam satu ruang interaksi.
Selain menjadi area marketplace kreatif, Cherry District kini juga berkembang sebagai ruang penyelenggaraan berbagai program turunan yang memperkaya wacana seputar skena musik independen.
Selama sepuluh hari pelaksanaannya, sejumlah program kolaboratif turut dihadirkan, antara lain pemutaran film dalam program Bioskop Musik oleh Pehagengsi bersama Rekam Skena, sesi Kultum Skena-Nya oleh Skenu, hingga aktivitas Live Screen Print oleh Tutbek.
Selain itu terdapat pula berbagai kegiatan interaktif seperti workshop yang digelar oleh Rupakara.room dan Hunting Full Senyum, sesi pemutaran rilisan vinil dalam Spinning Session oleh Koloni Rekords, serta Hearing Session bersama Debarbar. Program lain yang turut meramaikan agenda adalah talkshow dan DJ set dari sejumlah pelaku skena.
Dengan ragam kegiatan tersebut, Cherry District tidak hanya berfungsi sebagai ruang jual-beli produk kreatif, tetapi juga sebagai medium dokumentasi, arsip, dan diskursus yang mendukung keberlanjutan skena musik independen.
Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Swasembada Kreasi dan pengelola Gelora Inovasi Kreativitas UGM, serta menjadi bagian dari rangkaian Ramadhan Fest di kawasan GIK UGM Yogyakarta.
Cherry District terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi tanpa tiket masuk. Melalui penyelenggaraan ini, Cherry District menegaskan perannya sebagai ruang distribusi karya, tempat bertemunya ide dan komunitas, sekaligus wadah percakapan bagi ekosistem musik independen menjelang penyelenggaraan Cherrypop 2026.
Informasi mengenai jadwal program dan kegiatan harian dapat diikuti melalui akun Instagram resmi Cherry District di @cherry_district.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id































