Cerita Ibu Milenial Menjadi Blogger Penuh Waktu

Cerita Ibu Milenial Menjadi Blogger Penuh Waktu
Ilustrasi. FOTO/Istock
15 November, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Penghasilan bulanan dari aktivitas ngeblog tak kalah menggiurkan dibandingkan kerja kantoran.
tirto.id - Bukan hal baru jika ngeblog dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan. Rupiah yang didapat dari ngeblog bisa sangat signifikan dan tidak kalah dari penghasilan sebagai pekerja kantoran jika seorang blogger sudah memiliki reputasi yang baik dan bagus. Makanya tidak sedikit yang memilih menjadi blogger setelah mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya, atau bahkan mengundurkan diri dari pekerjaan hanya untuk menjadi blogger penuh-waktu.

Kelebihan lain menjadi blogger adalah keleluasaan dalam hal mengatur waktu dan tempat bekerja. Celah ini yang kemudian dilihat orang, termasuk para ibu milenial, untuk menekuni aktivitas ngeblog. Mereka masih tetap memiliki waktu untuk keluarga tanpa menutup potensi mandiri secara finansial.

Tentu saja uang tidak datang begitu saja hanya karena mereka ngeblog. Ada ribuan blogger, tetapi tidak semuanya dapat memaksimalkan blognya untuk menambah penghasilan. Perlu usaha tidak sebentar agar sebuah blog dapat dipercaya oleh pembaca atau klien.

Satu hal yang pasti, mereka  harus membangun blognya dengan konten-konten menarik. Semakin banyak konten dikunjungi dan dibaca, maka semakin besar pula peluang menghasilkan uang. Para blogger dapat memetik rupiah dengan cara menempatkan iklan di blog, menjadi buzzer, atau publisher adsense, hingga menjadi endorser produk. Syaratnya: konten menarik, dan itu dihasilkan secara kontinyu.

Hal itulah yang dikisahkan Kurnia Amelia Subarkah (29) kepada Tirto. Ia membiayai pendidikan kedua anaknya di sekolah dasar dari hasil ngeblog. Sebagai orang tua tunggal, Amel harus lebih banyak meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian kepada kedua anaknya. Sehingga ia butuh pekerjaan yang tak mengikat waktu dan tempat.

“Menulis di blog lebih nyaman karena seperti rumah sendiri, bebas.”

Baca juga: Benarkah Minuman Keras Membantu dalam Menulis?

Perempuan yang mulai menulis blog empat tahun lalu ini dapat menghasilkan 5 juta rupiah dalam sebulan dengan menulis 5-16 artikel. Itu belum termasuk aktivitas buzzer atau kampanye produk tertentu, serta hadiah dari berbagai lomba blog, dan media sosial. Konten yang dipilih Amel di dalam blognya, www.ameliasubarkah.net, lebih banyak fokus di gaya hidup, event, parenting, kesehatan, dan beberapa mengenai teknologi.

Dari hasil mengikuti lomba blogger, Amel bisa mendapat gawai, uang tunai, dan voucher belanja. Cukup lumayan meringankan beban belanja bulanan. Beberapa acara dari produsen produk tertentu juga membikin ia dan kedua anaknya dapat rekreasi secara cuma-cuma.

“Selain menyenangkan karena bisa menyalurkan hobi nulis, waktunya juga fleksibel. Kadang brief acara yang harus dihadiri untuk diulas hanya lewat email. Kalau datang paling lama 5 jam saja,” katanya.

Penghasilan sebesar Rp 5 juta per bulan, menurut Amel, masih terbilang kecil dibandingkan blogger lainnya yang telah memiliki nama. Elisa Koraag, misalnya, mengaku bisa meraup Rp 7,5-15 jt per bulan di luar produk dan voucher.

Baca juga: Profesi MUA, Mendulang Uang dari Merias Orang

Ia mulai aktif ngeblog sejak 2006 di www.nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com. Ketika itu ia sudah menjalani masa pernikahan selama 10 tahun dan memiliki dua orang anak. Isi blognya masih berupa catatan-catatan harian, tips-tips parenting, keluarga, dan hubungan suami-istri. Belum terlalu beragam karena kegiatannya masih disambi bekerja di sebuah perusahaan marketing.

Pada 2011 ia memutuskan berhenti bekerja, sebab pekerjaannya kerap memaksanya bepergian ke luar kota. Ketika itu, Elisa sudah berada di titik jenuh dan ingin kembali mengurus anak. Keputusannya berhenti kerja otomatis memengaruhi frekuensi menulis di blog. Ia jadi fokus membuat konten-konten lebih menarik dan bervariasi.

“Saya rindu mengurus anak yang sudah saya tinggal sejak bayi,” kata Elisa kepada Tirto.

Ternyata, keputusan untuk berhenti kerja membuatnya makin menikmati hidup. Elisa mengaku bahagia karena tak perlu dikejar laporan kantor atau terjebak macet. Dan yang utama tak perlu kehilangan masa penting bersama keluarga. Sejak 2012, konten blognya juga kian bervariasi. Kini, tulisan Elisa bisa dinikmati di alamat www.elisakoraag.com.

Baca juga: Bayi Lebih Suka Dipijat Ayah-Ibunya Ketimbang oleh Terapis

Cerita Ibu Milenial Menjadi Blogger Penuh Waktu

Eksistensi para blogger makin berkibar karena kebutuhan publikasi banyak perusahaan. Sehingga blogger berpotensi memiliki nilai tawar yang cukup baik untuk memutuskan mengambil tawaran kerja sama. Untuk mempermudah para blogger memilah tawaran sekaligus memediasi kerjasama dengan pihak perusahaan, maka pada 2014 Elisa membuat komunitas blogger bernama “Komunitas Blogger Cihuy”.

“Ngeblog tak hanya menyenangkan, tapi bisa juga menambah teman dan jaringan lewat komunitas serta memantau sosial media anak dan suami,” tukasnya.

Amel dan Elisa merupakan contoh ibu milenial yang sepenuhnya fokus mendedikasikan diri untuk menulis di Blog. Karena fokus itulah mereka meraup penghasilan yang dibilang lumayan. Tapi, pendapatan blogger yang santai dan tidak ngoyo seperti Suciati Cristina (30) alias Uci juga tak bisa dibilang kecil.

Per bulan, pemilik blog www.cigrey.com ini bisa menulis 8-10 artikel dengan bayaran Rp 150-300 untuk sponsor post, Rp 600-750 per event, dan Rp 100-450 untuk kegiatan buzzer. Jika dirata-rata ia bisa mengumpulkan Rp 2 juta per bulan.

“Dengan ngeblog kita bisa menulis pengalaman pribadi yang bermanfaat buat pembaca,” katanya kepada Tirto.

Baca juga: Politik di Era Industri Buzzer

Tak Mudah Menjadi Blogger

Meski memiliki pendapatan menggiurkan, namun, profesi blogger belum banyak dilirik. Dikutip dari Antara, pada 2015 jumlah blogger di Indonesia hanya 3,5 persen dari 88,1 juta pengguna internet di Indonesia. Sebabnya, menjadi blogger bisa dibilang susah-susah-gampang. Konsistensi dalam menulis harus dijaga. Bagian ini yang kadang sulit untuk dipertahankan.

Amel mengatakan cara blogger menghasilkan uang tak bisa dibilang instan. Karena mereka harus aktif di beragam media sosial untuk membentuk “personal branding”. Etika dan citra diri di ragam media sosial tersebut harus diperhatikan, karena tak jarang perusahaan yang bekerja sama melacak latar belakang sang blogger dari isi media sosialnya.

“Jangan suka share hoax atau nyinyir, ini penting banget,” kata Amel memberi tips.

Baca juga: Buzzer, Berita Palsu, dan Teladan Nabi Muhammad

Untuk menjadi blogger berkualitas, katanya, perlu untuk terus memperbaiki tulisan. Caranya dengan mengikuti pelatihan menulis, melek teknologi, serta perkembangan media sosial. Dengan begitu kualitas tulisan akan bertambah bagus dan otomatis menarik banyak pihak untuk bekerja sama.

“Masuk juga ke berbagai komunitas blogger, karena di sana banyak ilmu tentang blogging dan job.”

Tips terakhir dari Amel adalah bersabar. Sebab meski telah membuat tulisan bagus dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam perjanjian kerja sama, terkadang perusahaan tak membayar mereka sesuai janji, baik secara nominal maupun waktu pembayaran.

“Saya bahkan pernah dibayar sampai telat 4 bulan. Jadi blogger juga tak menentu penghasilannya setiap bulan” keluh Amel.

Baca juga artikel terkait BLOGGER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - adi/zen)

Keyword