Cara Lindungi Privasi Online Anak: Jangan Lupa Selalu Berkomunikasi

Oleh: Kristina S - 15 Januari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Cara melindungi privasi online anak mulai dari ikut terlibat hingga mendiskusikan jejak digital mereka.
tirto.id - Pada era serba digital saat ini, sebagian besar anak-anak telah menggunakan internet secara masif.

Dilansir dari Kominfo, pengguna internet yang berumur 15-40 tahun mencapai 68 persen. Sementara di bawah 15 tahun sebanyak 10 persen.

Gencarnya pemakaian internet pada anak usia di bawah 15 sampai 40 tahun mendorong gerakan yang harus mampu meningkatkan pengawasan orang tua terhadap anaknya.

Bahkan di tengah situasi masa pandemi COVID-19, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu online seperti mencari informasi seputar tugas sekolah, menghubungi teman-teman dan melihat konten yang menyenangkan.

Menurut studi yang dipublikasikan oleh Kementerian Kominfo, ditemukan isu privasi yang menemukan bahwa banyak anak dan remaja yang memberikan informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon dan alamat sekolah.

Studi ini menelusuri aktivitas online yang melibatkan sampel anak dan remaja usia 10-19 tahun (sebanyak 400 responden) yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan.

Terkait laporan Forbes, menggunggah foto anak di media online dapat meninggalkan jejak digital yang lama dan sulit dihapus.

Akibat dari hal tersebut, identitas anak dapat dicuri, kemungkinan diskriminasi dan pelanggaran terhadap kerahasiaan.

Kemudian, Internet membawa perubahan yang semakin masif dan munculnya konten-konten negatif membawa perubahan terhadap kondisi anak.


Cara Lindungi Privasi Online Anak


Australian Government membuat 10 kiat-kiat privasi untuk orang tua dan pengasuh dalam meningkatkan pengawasan terhadap anak.

1. Memulai Percakapan Privasi

Untuk membantu melindungi informasi pribadi anak, orang tua harus melakukan pembicaraan tentang privasi mereka seperti menjelaskan kepada anak-anak, dan melaporkan sesuatu yang mencurigakan kepada orang tua.

Contohnya, bila ada orang yang tidak kenal menghubungi mereka, atau menerima pemberitahuan yang mencurigakan.

Orang tua juga harus menjelaskan informasi pribadi apa saja yang tidak boleh mereka berikan kepada orang lain dengan sembarangan, yang mencakup nama lengkap, sekolah,tanggal lahir, alamat rumah, dan telepon anak.

2. Ikut Terlibat

Untuk meningkatkan pengawasan, orang tua perlu terlibat di dalam lingkungan digital yang terus berkembang.

Salah satunya dengan mendukung dan menasihati anak-anak tentang perkembangan teknologi yang mereka gunakan. Ikut bergabung dan berbicara secara langsung jika muncul kekhawatiran.

3. Baca kebijakan privasi dan pemberitahuan pengumpulan

Terkait kebijakan privasi, harus dibaca dengan teliti. Kebijakan tersebut membantu anak memahami informasi apa yang dikumpulkan terkait data anak anda. Kebijakan meliputi bagaimana informasi tersebut digunakan dan dilindungi.

Libatkan anak untuk membaca dalam proses memeriksa kebijakan privasi dan pemberitahuan pengumpulan situs web, permainan dan aplikasi yang mereka gunakan untuk berpikir tentang apa yang mereka tukar terkait informasi pribadi dan apakah hal itu sepadan.

4. Sesuaikan pengaturan privasi

Pengaturan privasi tersebut penting untuk orang-orang dari segala usia, karena informasi pribadi seringkali dikumpulkan dengan cara yang tidak kita pikirkan sebelumnya.

Kontrol orang tua sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa anak-anak mengontrol informasi pribadi yang dikumpulkan webcam, mikrofon, dan cookie, serta yang dikumpulkan oleh situs web, aplikasi, serta game dan perangkat lunak berbasis internet.

Pengaturan privasi dapat disesuaikan dengan pengaturan privasi di akun media sosial anak, sehingga hanya teman mereka yang dapat melihat foto, pembaruan, dan informasi mereka.

5. Kembangkan dengan baik praktik sandi

Praktik sandi yang baik merupakan langkah pengamanan penting untuk menjaga informasi pribadi. Perlu ditekankan kepada anak-anak bahwa praktik sandi tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, terutama di dunia digital.

6. Diskusikan jejak digital mereka

Peningkatan konektivitas dengan teman di media sosial menghadirkan sejumlah manfaat dan peluang bagi anak-anak.

Tetapi anak perlu diberitahu jejak digital mereka akan bertahan selamanya. Orang tua harus membekali pemahaman bahwa setiap konten yang mereka konsumsi, bagikan, unggah dan unduh meninggalkan jejak digital.

Prinsip ini mencakup; saat anak berinteraksi dengan orang yang mereka kenal, mereka harus meminta izin saat membagikan informasi pribadi mengenai teman atau orang yang mereka kenal.

7. Ajari anak untuk berpikir sebelum mereka berbagi

Tujuan ini untuk memastikan bahwa anak mengetahui perbedaan antara jenis informasi yang pantas dibagi secara daring dan apa yang harus dirahasiakan.

8. Dorong penggunaan seluler yang aman dan cerdas

Pada tahap ini orang tua memberitahu terkait untuk mengunci perangkat seluler anak-anak. Hal ini juga mengajarkan anak bahwa dengan mudah seseorang dapat mengakses segala hal yang dimiliki anak, mulai dari akun media sosial hingga foto pribadi.

9. Waspadai iklan online

Iklan online memiliki banyak bentuk, termasuk pemasaran melalui iklan online yang dapat meretas profil rinci anak-anak.

Oleh karena itu, penting untuk mengelola dan mengontrol cookie dan penggunaan add-on serta adblocker. Ini merupakan alat bagus yang dapat digunakan.

10. Tekankan bantuan selalu tersedia

Pada tahap ini beritahu anak perihal masalah online yang mereka hadapi, anak-anak dapat melaporkan ke orang tua, sekolah atau layanan pemerintah.

Hal ini ditekankan untuk anak-anak bahwa saat mereka mendapatkan masalah secara online mereka selalu mendapat dukungan.

Menurut data UNICEF, mengenai Privasi Online anak, telah ditetapkan Hukum internasional tentang menghormati dan mewujudkan hak-hak anak yang berada pada usia di bawah 18 tahun.

Dengan demikian ada tanggung jawab bersama untuk melindung kebebasan berekspresi anak.

Hal ini dipandu oleh kepentingan terbaik anak, kewajiban publik dan tanggung jawab pribadi di mana harus diatur oleh seperangkat prinsip umum seperti:

1. Anak-anak berhak atas privasi dan perlindungan data pribadi mereka

2. Anak-anak berhak atas kebebasan berekspresi dan akses ke informasi dari berbagai sumber

3. Anak-anak berhak untuk tidak menjadi sasaran serangan atas reputasi mereka

4. Privasi dan kebebasan berekspresi anak harus dilindungi dan dihormati sesuai dengan kapasitas mereka yang terus berkembang.

5. Anak-anak memiliki hak untuk mengakses pemulihan atas pelanggaran dan penyalahgunaan hak mereka atas privasi dan kebebasan berekspresi, dan serangan terhadap reputasi mereka.


Baca juga artikel terkait HAK PRIVASI atau tulisan menarik lainnya Kristina S
(tirto.id - Teknologi)

Kontributor: Kristina S
Penulis: Kristina S
Editor: Dhita Koesno
DarkLight