Burung Merpati 1 Miliar & Bagaimana Tren Hobi Muncul di Masyarakat

Infografik Membeli Barang Mahal Musiman
Sejumlah joki memanggil merpati yang diterbangkan pada Kejuaraan Balap Merpati tingkat nasional di Lapak Mayagraha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2019). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/pd/18
Oleh: Irfan Teguh - 4 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pelbagai hobi pernah jadi tren di Indonesia. Harga barangnya kerap melejit tinggi dan menjadi bisnis yang menggiurkan.
tirto.id - Dua burung merpati melaju cepat di udara. Sementara di sudut lapangan, dua orang mengepak-ngepakkan pasangan burung-burung tersebut. Dua orang itu berdiri dalam semacam kotak imajiner berukuran raksasa yang dibatasi empat tiang bambu di keempat sudutnya.

Kotak tersebut lazim disebut 'kolong'. Di tengah kolong terdapat dua meja kecil tempat merpati mendarat. Itulah arena perlombaan merpati kolong meja yang kini tengah digandrungi.

Selain itu, ada juga perlombaan merpati kolong tinggi yang tanpa meja. Jadi, merpati langsung mendarat di tanah.

Seperti pertandingan pada umumnya, kedua perlombaan itu disertai dua orang wasit. Yang satu bertugas meniup peluit sebagai tanda dimulainya peserta mengepak-ngepakkan merpati dari bawah, dan satu lagi membantu menentukan merpati mana yang lebih dulu mendarat.

Jayabaya, merpati milik Aristyo Setiawan yang tergabung dalam tim Embatama Bandung, kerap mengukir prestasi gemilang. Ia mengalahkan lawan-lawannya dengan berkali-kali mendarat lebih cepat pada meja yang berada di tengah kolong, seperti pada lomba nasional Persatuan Merpati Tinggi Indoneisa (PMTI) Vitarest 2018.


Kegemilangan Jayabaya menarik minat Robby, pehobi merpati yang juga sering ikut perlombaan dari tim Royal Bogor. Pada pekan terakhir Juni 2019 ia berani membeli Jayabaya senilai 1 miliar rupiah.

Sebelum memutuskan membeli Jayabaya, Robby terlebih dahulu mempelajari penampilannya sejak 2018. Karena performa Jayabaya semakin membaik, ia pun merasa tak akan salah membeli merpati tersebut.

Aristyo Setiawan awalnya merasa berat untuk melepas burung kesayangannya. Untuk menghindari penawaran para peminat, ia sengaja mematok harga tinggi.

Menurutnya, mula-mula penawaran datang senilai 700 juta rupiah dari orang Banten. Lalu penawaran kedua datang dari Robby senilai 750 juta rupiah. Melihat angka yang begitu besar, ia sempat goyah, tapi belum mau melepas merpatinya. Ketika Robby akhirnya menawar Jayabaya senilai 1 miliar rupiah, ia pun tak kuat lagi. Jayabaya akhirnya dilepas.

“Mungkin Pak Robby takut keduluan, jadi Pak Robby berani bayar segitu. Saya juga kaget kok, ada yang sanggup ngeluarin 1 miliar rupiah buat seekor burung. Kalau paketan misalnya pernah ada 12 ekor sampai 20 ekor seharga 700 juta rupiah, tapi ini satu burung,” ujarnya seperti dikutip Kompas.

Keberanian Robby mengeluarkan uang begitu banyak untuk mendapatkan satu burung merpati memang mengundang banyak decak kagum, terutama dari kalangan yang tak tahu soal perlombaan merpati.

“Ini hobi. Kalau sudah hobi kita nyarinya kepuasan. Jadi, berapa banyak uang yang keluar saya enggak hitung, enggak saya rinci,” tuturnya.

Langkah nekat Robby sebetulnya agak terukur. Sebab, sebagaimana penuturan Aristyo, pelbagai prestasi yang diukir Jayabaya pernah mendatangkan uang tak sedikit. Rata-rata hadiah pada setiap perlombaan merpati bisa mencapai 75 sampai ratusan juta rupiah.

Penawaran atas burung sebetulnya ada yang lebih spektakuler. Seekor burung cinta atau lovebird pernah mencapai nilai 2 miliar. Namun saat itu sang pemiliknya tidak melepasnya.

Sigit Marwanta, pemilik burung tersebut, menyebutkan setelah 400 kali juara 1 di pelbagai gelaran nasional, Kusumo (nama burung itu) sempat ditawar senilai 2 miliar yang terdiri dari mobil Alphard, Rubicon, dan tambahan 300 juta rupiah.

Pada November 2018 Kusumo mati—meninggalkan kisah tentang penawaran yang sangat tinggi atas dirinya.

Ketika Harga Tumbuhan dan Hewan Lain Melejit Tinggi

Kisah tentang melangitnya nilai jual merpati Jayabaya dan lovebird Kusumo lahir dari dunia perlombaan ketangkasan dan keindahan kicauan burung. Di luar itu, masyarakat Indonesia juga pernah dihebohkan dengan melejitnya harga pelbagai barang hobi lain, di antaranya tanaman anturium dan ikan louhan.

Pada masa jayanya, menurut Jantik K. Himawan seperti dilansir Gatra edisi 20 Agustus 2007, harga sebatang anturium setinggi telunjuk bisa mencapai 500 ribu rupiah. Dan yang ukurannya lebih besar bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Tak mengherankan, di mana-mana orang keranjingan anturium. Di kota besar, kota kecil, ataupun di desa. Baik sekadar penikmat maupun sekaligus sebagai petani dan pebisnisnya,” tulis Gatra.

Harganya yang melambung tinggi membuat anturium saat itu menjadi sasaran para pencuri. Untuk menghindari hal tersebut, para pemiliknya mesti mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Mereka tak jarang membuat keamanan berlapis pada kebun anturiumnya.

“Demi menjaga anturium, bahkan ada orang yang memboyong tanaman itu dalam kamar untuk diajak tidur bersama,” kata Ketua Koperasi Pinasti Karanganyar, M. Zamzami Ali, dalam Kompas edisi 28 Oktober 2007.


Tren anturium saat itu, menurut Pemimpin Redaksi majalah Trubus Onny Untung dalam surat kabar dan edisi yang sama, hanya terjadi di Indonesia. Sementara di negara-negara lain seperti Taiwan, Thailand, Hongkong, dan Amerika harganya wajar.

Sementara menurut Ketua Florikultura Indonesia, Iwan Hendrayanta, kepada Kompas edisi 28 Oktober 2007, harga anturium yang melambung tinggi dipengaruhi prinsip supply and demand yang melibatkan para spekulan, dan digoreng oleh pelbagai pihak hingga harganya tak masuk akal.



Kisah anturium tak jauh berbeda dengan ikan louhan. Tren yang pernah melambungkan harga ikan tersebut dipengaruhi bermacam-macam faktor. Mula-mula ikan yang sempat dianggap sebagai binatang keberuntungan itu pada tubuhnya kerap terdapat pola tertentu yang mirip huruf kanji, latin, nomor, atau gambar-gambar yang berasosiasi pada shio.

Lama-lama, memelihara louhan dianggap dapat mendatangkan pelbagai faedah bagi pemiliknya. Iskandar, seorang penjual louhan, seperti dikutip Kompas (1/9/2002) mengungkapkan, “Penggemar lou han sekarang dari ibu rumah tangga, tukang batu, sampai para pejabat. Karena katanya yang pelihara bisa umur panjang, murah rezeki atau cepat naik pangkat.”

Penciptaaan mitos didukung pula oleh rekayasa para importir dan pemain besar lainnya dalam bisnis ikan ini. Mereka membuat pelbagai acara seperti seminar, kontes, atau pelatihan-pelatihan memelihara ikan hias, sehingga bisa meluaskan pasar.

“Biasanya orang asosiasi atau importir yang bikin tren,” ujar seorang penggemar ikan hias di Bandung seperti dikutip Kompas.

Kini harga anturium, sebagian ikan louhan, dan lovebird tidak setinggi saat sedang tren. Pembelian-pembelian luar biasa dengan harga yang spektakuler kiranya belum terjadi lagi. Mereka bersinar dan redup dengan begitu cepat. Keberanian pembelian dan uang yang berputar di dalamnya serupa perjudian yang selamanya berada pada tubir penuh risiko.

Apakah harga burung merpati yang biasa ikut perlombaan, yang kini melonjak tajam itu, akan mengalami hal yang sama? Kita tahu, tren selalu berubah secara dinamis.

Baca juga artikel terkait HOBI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight