Bulan Madu Kedua Indra Sjafri

Oleh: Iswara N Raditya - 2 Februari 2017
Dibaca Normal 3 menit
54 tahun yang lalu, Indra Sjafri lahir. Indra kini memasuki bulan madu yang kedua bersama Timnas U-19.
tirto.id - Anak muda berumur belasan tahun itu tampak serius, teramat serius malah. Ia sendiri, hanya ditemani sepeda butut yang tergolek tak jauh dari tempatnya duduk di atas tanah. Tak banyak yang dilakukannya, ia cuma termangu namun tetap fokus. Raganya diam, tapi mata, telinga, dan otaknya bekerja, merekam setiap prosesi yang sedang terjadi di depannya.

Lelaki belia menjelang usia remaja itulah Indra Sjafri. Saat itu, ia tengah khusyuk mencermati dibangunnya sebuah rumah di dekat kampungnya, di salah satu sudut pesisir Sumatera Barat sana. Sejak SMP, ia memang sudah tergila-gila pada proses. Indra yang baru saja puber itu tidak ingin kehilangan momen dalam proses menuju suatu perwujudan.

“Setiap ada proyek pembangunan, entah itu membangun waduk, rumah, atau apa saja, saya selalu mencari waktu untuk menonton. Apalagi jika ada alat-alat berat, wah, saya sangat senang dan bisa berjam-jam diam menontonnya,” kenangnya seperti dikisahkan dalam buku Indra Sjafri: Menolak Menyerah karya FX Rudy Gunawan.

Kesukaan sekaligus kebiasaan itu terbawa sampai kini, hingga saat Indra Sjafri menjadi salah satu pelatih sepakbola terbaik di Indonesia. Pelatih yang tidak mengutamakan hasil secara instan, melainkan perjalanan proses untuk mencapai sesuatu yang lebih bermakna.

“Saya seperti tersihir oleh seluruh kegiatan membangun sesuatu tahap demi tahap. Setiap tahap dalam proses pembangunan itu menarik sekali di mata saya. Seperti ada suatu keajaiban dalam semua proses itu,” tutur Indra Sjafri.

Menolak Menyerah

Suasana di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar pada Sabtu akhir pekan terakhir di bulan Oktober 2016 itu cukup panas. Suara kencang terdengar dari tribun penonton yang disesaki oleh ribuan suporter Bali United. “Coret, coret Indra Sjafri, coret Indra Sjafri sekarang juga!” begitu bunyinya menggema.

Hasil imbang 2-2 melawan Bhayangkara FC dalam lanjutan kompetisi Indonesia Soccer Championship A (ISC A) 2016 itu tidak bisa diterima oleh sebagian Semeton Dewata, sebutan untuk fans setia Bali United. Mereka minta Indra Sjafri dipecat lantaran Laskar Tridatu terlalu sering gagal menang, bahkan beberapa kali takluk di kandang sendiri.

Indra Sjafri tak gentar dengan ancaman pemecatan. Selama penguasa klub masih percaya kepadanya, ia menolak menyerah. Namun, jika memang harus terdepak, Indra siap bertanggungjawab. "Saya tidak tahu apa yang diinginkan suporter. Tapi, saya akan melakukan apa yang diharapkan oleh manajemen kepada saya," tegasnya kala itu.

Di akhir musim, Indra Sjafri tetap aman meskipun Bali United hanya finish di peringkat 12 dari 18 tim peserta. Faktanya, manajemen klub yang bermarkas di Gianyar itu memang tidak pernah memecatnya. Hanya Tuhan dan tugas negara yang akhirnya memisahkan sang pelatih dari Bali United.

Ya, menjelang hari ulang tahunnya yang ke-54, Indra Sjafri mendapat panggilan dari PSSI untuk membesut Timnas Indonesia U19. Ini adalah kesempatan keduanya setelah bergelimang jaya dan puja-puji pada 2013 silam bersama armada muda Garuda Jaya.

Piala AFF U19 direngkuh. Korea Selatan selaku pemegang 12 kali juara Piala Asia usia muda pun disikat. Sayang, gara-gara persoalan non-teknis, Evan Dimas dan kawan-kawan melemah. PSSI yang saat itu dipimpin La Nyalla Mattalitti pun melayangkan surat pemecatan untuk Indra Sjafri pada 2 November 2014.

Tapi, kini sang pelatih telah kembali.


Infografik Indra Sjafri

Berkah Buah Kesabaran

Indra Sjafri dilahirkan pada 2 Februari 1963 di Lubuk Nyiur, sebuah desa kecil di tepi Samudera Indonesia yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Di kampung yang berjarak lebih dari 75 kilometer dari Padang itu, ia besar dalam kehidupan yang sarat nuansa adat Minangkabau.

Sejak kecil, sepakbola sudah menjadi hobi wajib Indra Sjafri. Meski sempat menjalani hidup normal sebagai karyawan di salah satu kantor pos di ibukota provinsi, ia akhirnya merumput juga. PSP Padang adalah satu-satunya klub dalam karier Indra Sjafri sebagai pemain bola profesional.

Kiprahnya di atas lapangan nyaris tak terdengar, pastinya kalah gaung dengan rekan-rekan seangkatannya yang kini juga jadi pelatih macam Aji Santoso, Widodo C. Putro, bahkan Nil Maizar. Indra Sjafri tak pernah berkesempatan memperkuat tim nasional di masa edarnya.

Namun, kesetiaan sekaligus kesabaran itu ternyata berbuah manis di fase kehidupan Indra Sjafri selanjutnya. Tetap di sepakbola, proses panjang yang telah dijalani Indra Sjafri menjadikannya sebagai pelatih muda yang paling mencuri perhatian di tanah air.

Semua itu berawal dari tahun 2009. Selepas membesut PSP Padang tak lama usai gantung sepatu, PSSI kala itu menunjuknya untuk mencari bibit-bibit unggul sepakbola dari berbagai daerah. Statusnya meningkat setelah PSSI mempercayainya untuk menangani tim nasional U12, kemudian berlanjut ke U17, U18, hingga ke U19.

Di timnas usia muda, berbekal para pemain hasil blusukannya, Indra mengharumkan nama bangsa dengan meraih gelar juara turnamen sepakbola tingkat Asia. Berturut-turut dari tahun 2012 hingga 2013, Indonesia dibawanya menjadi raja di Hongkong dalam turnamen HKFA, yang pada akhirnya berpuncak sebagai jawara Piala AFF U19 2013.

Proses Adalah Segalanya

Ketika sepakbola nasional didera kisruh akut sejak 2012, Indra Sjafri masih mampu menorehkan prestasi. Sekali lagi, ia menolak menyerah. Dengan kondisi yang sangat tidak ideal dan perhatian seadanya dari para pengampu kebijakan, Indra tak lantas manja.

“Kalau misalnya negara ini dianggap orang enggak punya duit, enggak apa-apa. Tetap berjalan dan kami sudah terbiasa tertempa seperti itu. Saya yakin bisa memberi yang terbaik untuk negara ini. Kami siap miskin!” tandasnya waktu itu.

Indra Sjafri barangkali adalah pelatih tim nasional Indonesia yang mempelopori gaya blusukan. Ia tak segan-segan masuk-keluar kampung, menyambangi pelosok-pelosok daerah di sudut-sudut negeri untuk berburu pemain yang dinilai benar-benar pantas mengenakan Garuda di dadanya.

Hasilnya, Bhinneka Tunggal Ika pun mewujud dalam skuad Timnas Indonesia U19 besutan Indra Sjafri. Dari ujung barat Indonesia sampai timur Nusa Tenggara bahkan Papua, para pesepakbola muda pilihannya bersatu menggalang kekuatan di bawah panji-panji Garuda Jaya.

Sebut saja Zulfiandi dari Serambi Mekkah, M. Hargianto dari ibukota negara, Evan Dimas dari Surabaya, hingga Maldini Pali dari Celebes, Ilham Udin Armayn dari Ternate, bahkan Yabes Roni Malaifani yang ditemukan di Pulau Alor, juga Rudolof Yanto Basna dari Sorong, serta masih banyak lagi para pemain muda orbitan Indra Sjafri yang kini menunjukkan taji di Liga Indonesia.

Menarik untuk dinanti kelanjutan proses Indra Sjafri selanjutnya di bulan madu keduanya bersama Timnas U19. Sewajarnya manusia, bisa saja ia dicap gagal jika PSSI menghendaki kesempurnaan secepatnya. Tapi yang pasti, Indra Sjafri menolak menyerah karena baginya, proses adalah segalanya kendati hasil nyata tetap saja sebagai tolok-ukurnya.

Baca juga artikel terkait INDRA SJAFRI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight