Buka Puasa Bersama: Lebih dari Sekadar Kenikmatan di Lidah

Oleh: Patresia Kirnandita - 30 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Makan bersama merupakan salah satu momen yang banyak dinikmati sepanjang Ramadan. Apa saja hal-hal baik yang implisit dari menikmati kesempatan berkumpul sembari berbuka puasa?
tirto.id - Pukul empat sore lebih lima belas, Surya sudah merapikan meja kubikelnya dan bergegas pulang. Dari jendela kantornya di lantai sepuluh, dia bisa melihat kendaraan menyemut di sepanjang Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Pada petang bulan-bulan lain, biasanya ia memilih kembali ke rumah selepas Isya. Namun, khusus bulan Ramadan ini, ia memaksa diri turut berjejal di tengah kemacetan demi tiba sebelum adzan Magrib berkumandang.

Pada bulan Ramadan, orang biasanya selalu menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama, entah itu bersama keluarga ataupun teman-temannya. Tidak selalu di rumah, tetapi juga di tempat-tempat makan yang biasanya juga sudah terbiasa menyediakan fasilitas hidangan buka puasa.

Jadwal buka puasa bersama pun biasanya sudah mengantre. Mulai dari dengan teman-teman SMA, kuliah, teman arisan, hingga teman-teman kantor lama. Sebagian menganggapnya sebagai ajang reuni. Mendekatkan diri dengan orang-orang yang sudah lama tidak disapa untuk macam-macam kepentingan, atau melepaskan sejenak rutinitias individual menjadi alasan-alasan klasik mengapa banyak orang ingin berbuka bersama pada bulan ini. Dengan latar budaya kolektif di Indonesia yang begitu kental, makan bersama jadi sesuatu yang sakral terlepas dari potensinya untuk dikomodifikasi oleh aneka industri.

Apakah hanya alasan-alasan ini saja yang menjadi keuntungan makan bersama pada Ramadan?

Psikolog klinis sekaligus salah satu penggagas The Family Dinner Project, Dr. Anne K. Fishel, mengungkapkan berbagai keuntungan yang didapatkan dengan makan bersama keluarga secara general. Katanya, berdasarkan riset teranyar, kebiasaan makan bersama dapat menekan angka penyalahgunaan zat-zat terlarang dan tingkat depresi remaja, serta memperbaiki situasi psikologi anak-anak yang berpengaruh terhadap nilai akademis mereka. Pada saat makan bersama, tentu terjadi percakapan di dalamnya. Inilah yang bisa memicu anak-anak yang sedang belajar berbicara atau membaca untuk menguasai kosakata lebih cepat.

Ketika orangtua menyajikan masakan dari dapur sendiri pada momen makan bersama, anak-anak dapat menyerap tradisi dari sepiring makanan yang mereka santap. Resep adalah salah satu warisan budaya keluarga yang dapat melekat pada benak setiap orang dan hal ini bervariasi dari satu rumah ke rumah lainnya. Di samping itu, Robin Fox, dosen Antropologi di Rutgers University, New Jersey, menyatakan bahwa makan bersama keluarga mengajarkan anak-anak untuk menjadi anggota masyarakat dan budaya. Berbagai nilai dan normativitas dapat ditransfer oleh orang-orang dewasa di meja makan, baik melalui percakapan secara langsung maupun aksi-aksi kecil seperti berdoa bersama, menuangkan hidangan ke piring anggota keluarga lainnya, atau mengucapkan terima kasih kepada si pembuat makan.

Makan bersama keluarga juga menjadi ajang yang tepat untuk meneruskan cerita sejarah internal kepada anak-anak. Hal ini menjadi signifikan bagi perkembangan psikologi si anak karena berkaitan dengan cara penilaian diri dari pengenalan terhadap akar keluarga alias historisasi diri.

Infografik Tradisi Makan Bersama Keluarga


Bagaimana dengan keuntungan yang didapatkan dari buka puasa bersama teman-teman? Momen yang sering kali diidentikkan dengan ajang reuni ini rupanya juga membawa tidak sedikit dampak positif bagi seseorang. Dalam reuni, seseorang akan mengakses nostalgia bersama teman-temannya. Berbeda dari trauma, nostalgia lazimnya mencakup peristiwa-peristiwa manis pada masa silam yang berarti bagi kehidupan seseorang sampai tidak bisa terlupakan.

Sejumlah penelitian menunjukkan poin-poin plus dari nostalgia. Studi yang dimuat di Personality and Social Psychology Bulletin misalnya, menyatakan bahwa nostalgia bisa membuat seseorang lebih optimistis terhadap hidupnya. Sementara temuan penelitian yang termaktub di Journal of Personality and Social Psychology memperlihatkan bahwa nostalgia dapat digunakan untuk memerangi kondisi mental yang negatif seperti perasaan kesepian, kegagalan, atau kehilangan tujuan hidup. Kenangan-kenangan indah yang terlontar saat reuni bisa membuat seseorang menyadari bahwa dirinya berharga atau berarti bagi orang lain.

Lebih jauh lagi, interaksi yang terjadi saat reuni pada momen makan bersama dapat pula mengurangi risiko seseorang terjangkit penyakit Alzheimer Dementia. Penyakit ini ditandai dengan menurunnya kemampuan mengingat seseorang dan kemampuan untuk membuat keputusan.

Dengan banyaknya keuntungan yang dapat diperoleh dari makan bersama, tentu tidak heran jika banyak orang rela mengejar momen berbuka puasa bersama.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight