tirto.id - Pemerintah menegaskan komitmennya menerapkan prinsip Build Back Better dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Melalui pendekatan tersebut, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada perbaikan pascabencana, tetapi juga membangun wilayah yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Posko Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh, Safrizal ZA, mengatakan seluruh program yang dijalankan dalam Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RIPRR) mengacu pada semangat Build Back Better agar hasil pembangunan memberikan manfaat jangka panjang.
"Dengan semangat Build Back Better, kami berupaya agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan lancar sehingga mampu menghadirkan pembangunan yang lebih baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Aceh," ujar Safrizal.
Implementasi Build Back Better diwujudkan melalui lima klaster prioritas yang dijalankan Satgas PRR Aceh, yakni pemulihan permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial, serta tata kelola. Kelima klaster tersebut dirancang saling terintegrasi sehingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berlangsung secara menyeluruh.
Pada klaster pemulihan ekonomi, pemerintah menggandeng berbagai kementerian dan lembaga untuk mempercepat kebangkitan sektor-sektor unggulan daerah. Salah satunya melalui dukungan Kementerian Pertanian yang telah menyiapkan 4 juta bibit kopi untuk disalurkan kepada masyarakat di kawasan Gayo sebagai upaya memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat.
"Bantuan ini merupakan bagian dari upaya untuk menstimulasi, mengakselerasi, dan memulihkan kembali perekonomian Aceh yang sebelumnya sempat terdampak," kata Safrizal.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi berlangsung selama tiga tahun, mulai 2026 hingga 2028. Selama periode tersebut, pemerintah akan melakukan evaluasi setiap tahun guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target dan dapat terus disempurnakan.
"Setiap tahun kita evaluasi progres pelaksanaannya. Jika masih terdapat kekurangan, akan dilakukan perbaikan pada tahun berikutnya sehingga program yang dijalankan semakin optimal," ujarnya.
Evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan pada akhir periode pelaksanaan pada 2028. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan apakah seluruh target rehabilitasi dan rekonstruksi telah tercapai atau masih diperlukan langkah lanjutan untuk menyempurnakan proses pemulihan.
Dengan pendekatan Build Back Better, pemerintah berharap rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh tidak hanya mampu mengembalikan kondisi pascabencana, tetapi juga menciptakan fondasi pembangunan yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.
tirto.id merupakan salah satu media di Indonesia yang telah tersertifikasi IFCN (International Fact Checking Network).
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































