Bisnis Satelit Bernilai Ribuan Triliun yang Makin Melejit

Ilustrasi satelit GPS Navstar-2F. FOTO/Wikicommon
Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Kurang lebih ada 1.300 satelit aktif yang mengorbit Bumi, semua itu adalah pundi-pundi uang.
Pada 4 Oktober 1957, Uni Soviet mampu mengguncang dunia. Mereka sukses meluncurkan Sputnik, satelit buatan manusia pertama di dunia, ke luar angkasa. Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika Serikat kala itu, mengatakan dengan intonasi menghibur “setelah segalanya terjadi, Rusia hanya sanggup menempatkan bola kecil di udara,” tulis Thomas O’Toole di The Washington Post. Lyndon B. Johnson, pemimpin mayoritas Senat AS, dengan gamblang mengatakan peluncuran Sputnik membuatnya “berpikir bahwa Amerika Serikat tidak akan berada di posisi terdepan dalam segala hal.”

Sputnik, yang berarti “teman perjalanan” adalah satelit berbentuk bulat berwarna perak yang membawa empat antena. Berdiameter 56 cm dengan berat 83 kg, satelit tersebut sanggup mengitari Bumi tiap 98 menit sekali. Sputnik menggunakan gelombang radio untuk menjangkau keperluan di Bumi.

Satelit, sebagaimana dikutip dari laman NASA, merupakan benda yang mengitari atau mengorbit objek yang lebih besar dari ukurannya. Terdapat dua jenis satelit, alamiah dan buatan manusia. Frasa “satelit” umumnya mengacu pada “buatan manusia.” Satelit buatan manusia, seperti Sputnik, punya misi tertentu, terutama untuk mendukung kehidupan manusia. Misi tersebut tercipta karena satelit punya posisi unggul: berada di angkasa.

Dalam laporan berjudul “2017 State of the Satellite Industry Report” yang dirilis Satellite Industry Association (SIA), misi satelit dibagi dalam empat bagian: telekomunikasi, observasi Bumi, sains, dan keamanan nasional.

Contoh satelit yang punya misi tertentu ialah Telstar untuk misi komunikasi. Satelit komunikasi hasil kerja sama antara AT&T, Bell Laboratories, NASA, British General Post Office, dan French National Post, sebagaimana ditulis Richard Lewis dalam artikelnya yang terbit di Bulletin of Atomic Scientist edisi Desember 1962, mengatakan Telstar diciptakan karena dinilai sanggup memberikan infrastruktur komunikasi yang lebih murah dibandingkan mengembangkan jaringan telepon kabel Trans-Atlantik.


Misi-misi satelit tersebut punya banyak manfaat bagi manusia. Sebagaimana dikutip dari laman berita Massachusetts Institute of Technology, kala gempa bumi terjadi di Port-au-Prince, Haiti, pada 2010, negara tersebut sanggup memberikan analisis bencana berbasis pencitraan satelit hanya dalam tempo 24 jam. Melalui satelit, area-area yang rusak sanggup dipetakan dengan baik dan membuat otoritas keamanan sanggup bekerja dengan maksimal.



Bisnis Satelit yang Melejit


Lebih dari 60 tahun semenjak Sputnik diluncurkan, ada lebih dari 1.300 satelit aktif yang mengorbit Bumi saat ini. Tak terkecuali satelit-satelit yang dimiliki Telkom Indonesia. Semenjak 1976, Telkom telah mengoperasikan sembilan satelit, yakni Palapa A1 (yang diluncurkan 9 Juli 1976), Palapa A2 (yang diluncurkan 11 Maret 1977), Palapa B1 (yang diluncurkan 16 Juni 1983), Palapa B2P (yang diluncurkan 21 Maret 1987), Palapa B2R (yang diluncurkan 14 April 1990), Palapa B4 (yang diluncurkan 14 Mei 1992), Telkom-1 (yang diluncurkan 13 Agustus 1999), Telkom-2 (yang diluncurkan 15 November 2005), dan Telkom-3S (yang diluncurkan 15 Februari 2017).


Pada 4 Agustus 2018, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk akan meluncurkan satelit “Merah Putih” atau Telkom-4. Vice President Corporate Communication Telkom Indonesia Arif Prabowo kepada Tirto, mengatakan peluncuran satelit Telkom, selain digunakan untuk menunjang layanan-layanan milik Telkom, juga ditujukan untuk memenuhi tingginya permintaan dari sisi bisnis. Selain dalam negeri, satelit yang diluncurkan Telkom pun dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan bisnis internasional, khususnya di kawasan Asia Selatan.

Booz & Company, firma riset pasar, dalam publikasi berjudul “Why Satellites Matter: The Relevance of Commercial Satellites in the 21st Century, A Perspective 2012-2020” mengatakan satelit merupakan industri bernilai €100 miliar. Satelit menjadi tulang-punggung bagi telepon lintas benua, siaran televisi yang menyebar ke berbagai area, hingga dimanfaatkan sebagai petunjuk global bagi manusia, alias global positioning system (GPS).

Angka berbeda dipaparkan dalam laporan SIA, dari tahun ke tahun, semenjak 2007, pendapatan yang diperoleh industri satelit terus mengalami peningkatan. Pada 2007 industri ini hanya menghasilkan pendapatan $122 miliar, lalu naik dua kali lipat jadi $247 di 2014. Secara keseluruhan, industri satelit menghasilkan pendapatan senilai $260,5 miliar di 2016 atau sekitar Rp3.600 triliun. Service Provisioning alias Satellite Service menjadi penyumbang pendapatan terbesar pada industri ini yakni senilai $127,7 miliar.

Secara umum, bisnis satelit, sebagaimana termuat dalam publikasi tersebut, mencakup dalam enam bagian, yakni: Ground System/Equipment (yang dikuasai 20 perusahaan global), Satellite Manufacturing (yang dikuasai 20 perusahaan global), Launch (yang dikuasai kurang dari 10 global), Satellite Operation (yang dikuasai 50 perusahaan global), Equipment Manufacturing, dan Service Provisioning (yang dikuasai lebih dari 1.000 perusahaan telekomunikasi, lebih dari 1.500 perusahaan ISP, dan lebih 10.000 perusahaan TV berbasis satelit global). Telkom merupakan salah satu bagian perusahaan Service Provisioning.

Ada beberapa alasan mengapa industri satelit terus merangkak naik. Publikasi Booz & Company yang mengutip prediksi Cisco, mengatakan pada 2016 tercatat ada penggunaan data khusus video sebesar 86 persen dari lalu-lintas IP dunia. Menurut mereka, jaringan komunikasi berbasis tanah tak akan sanggup memenuhi seluruh permintaan tersebut. Satelit merupakan teknologi yang bisa diandalkan.

Laman berita MIT yang mengutip makalah yang ditulis Danielle Wood, kandidat doktor di Engineering System Division MIT, terjadi perubahan filosofi penciptaan satelit. Dahulu, satelit merupakan industri spesial, yang hanya dikuasai negara-negara tertentu. Konsekuensinya penciptaan satelit pun mahal, dengan tidak adanya jalur produksi massal. Satelit diciptakan hanya satu atau dua unit saja oleh negara-negara kuat.

Namun, semenjak dekade 1980-an, banyak perusahaan kecil dan tim-tim riset universitas yang menciptakan satelit. Akibatnya, negara-negara seperti Nigeria, Malaysia, Thailand, sanggup menciptakan satelitnya sendiri. Selain itu, satelit kini tak hanya dominasi perusahaan telekomunikasi tapi sudah merambah ke perbankan, seperti Bank BRI yang memiliki satelit sendiri. Ini salah satu yang menciptakan gairah baru industri satelit, yang berakibat pada meningkatnya bisnis satelit di dunia makin melejit.

Baca juga artikel terkait SATELIT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight