Biografi S. Parman: Jenderal Intelijen AD yang Jadi Korban G30S

Kontributor: Yuda Prinada, tirto.id - 3 Okt 2022 06:05 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Berikut biografi S. Parman, pahlawan revolusi korban G30S yang dikenal sebagai jenderal intelijen di Angkatan Darat pada 1965.
tirto.id - Siswondo Parman adalah satu dari 7 pahlawan revolusi yang diculik oleh sekelompok tentara dari Resimen Cakrabirawa (grup bernama pasukan Pasopati) pada dini hari, 1 Oktober 1965. Dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 tersebut, hidup S. Parman berakhir.

Bersama jasad 6 perwira Angkatan Darat lainnya, tubuh S. Parman ditemukan tanggal 3 Oktober 1965 di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Jenazahnya lantas dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965.

Dari semula Mayor Jenderal (Mayjen), pangkat S. Parman dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal (anumerta). Gelar Pahlawan Revolusi pun disematkan pada namanya berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. III/KOTI/Tahun 1965.

S. Parman merupakan petinggi Angkatan Darat, sebagaimana 5 korban penculikan lainnya dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965: Ahmad Yani, R. Suprapto, MT Haryono, DI Panjaitan, dan Sutoyo Siswomiharjo. Satu korban lain, Pierre Tendean merupakan ajudan AH Nasution yang turut diculik karena dikira oleh anggota Pasukan Pasopati sebagai sang jenderal.

Di antara mereka yang diculik dalam G30S 1965, S. Parman terbilang paling unik. Pada 1965, dia sudah kesohor sebagai jenderal intelijen di Angkatan Daratan. Jabatan S. Parman, yang ia pegang sejak 1962, adalah Asisten I Bidang Intelijen.

Sama seperti jenderal-jenderal lain di lingkaran Ahmad Yani, S. Parman punya haluan politik yang berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebaliknya, kakak kandung Parman, yakni Ir Sakirman justru merupakan anggota Politbiro PKI.


Biografi S. Parman & Riwayat Kariernya Hingga G30S 1965

Siswondo Parman lahir tanggal 4 Agustus 1918, di Wonosobo, Jawa Tengah. Ayah Parman, seperti dicatat oleh Sutrisno dalam buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional: Volume 4 (1995:113), merupakan pedagang yang lumayan sukses di Wonosobo. Namanya Kromodiharjo.

Tidak heran, anak keenam dari 11 bersaudara itu bisa mengeyam pendidikan hingga level tinggi pada masa kolonial Belanda. Setelah lulus dari HIS di Wonosobo, S. Parman hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di MULO (sekolah menengah pertama).

Di kota yang sama, Parman juga menamatkan pendidikan di tingkat AMS (Algemeene Middlebare School/Sekolah Menengah Atas). Namun, sebelum masuk AMS, Parman sempat 2 tahun balik ke Wonosobo karena Kromodiharjo tutup usia dan ia harus membantu ibunya berdagang di toko.

Selepas lulus dari AMS di Yogyakarta, Parman merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool atau GHS). Di GHS, Parman tidak sampai lulus karena bala tentara Jepang keburu datang. Tanpa waktu lama, pasukan Dai Nippon membikin pemerintah Hindia Belanda pada 9 Maret 1942 resmi bertekuk lutut.

Era penjajahan Jepang menciptakan tikungan karier bagi Parman. Dari semula hendak jadi dokter, Parman masuk ke dunia militer. Suatu hari setelah kembali ke Wonosobo, dan sedang mengunjungi Cilacap, Parman direkrut oleh pasukan Kempetai (polisi militer Jepang) untuk menjadi penerjemah (Kempeiho). Parman kala itu memang sudah menguasai bahasa Inggris.

Menurut Harsya Bachtiar dalam buku Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD? (1989), Parman berperan sebagai kempeiho (penerjemah Kempeitai) di Yogyakarta selama tahun 1943-1945. Bekerja untuk Kempetai memberi banyak pengetahuan baru baginya, sekalipun aksi kejam satuan itu terpaksa ia lihat.


Setelah Jepang tumbang di Perang Dunia II dan kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, S. Parman sebentar menjadi anggota Komite Nasional Indonesia daerah Yogyakarta. Setelahnya, ia memutuskan masuk dunia militer lagi dengan bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Parman masuk kesatuan PT atau Polisi Tentara (Polisi Militer) yang baru saja berdiri. Dalam waktu singkat ia sudah selevel perwira dengan pangkat kapten di PT. Sejak Desember 1945, dia menjadi Kepala Staf di Markas Besar Polisi Tentara Yogyakarta.

Hingga Konferensi Meja Bundar pada akhir 1949 menandai berakhirnya Revolusi Kemerdekaan RI, Parman masih bertugas di jawatan yang beralih nama jadi Corps Polisi Militer (CPM). Karier Parman di CPM terbilang mulus, meski ia sempat tersandung masalah pada 1948.

Kembali mengutip dari catatan Sutrisno (1995:115), Parman yang saat itu berpangkat mayor dan menjabat Kepala CPM Markas Besar Komando Jawa harus meringkuk di penjara Wirogunan, Yogya. Keterlibatan Ir Sakirman dalam Peristiwa Madiun 1948, membuat Parman kena getah. Dia ditahan karena dituduh menyembunyikan Sakirman saat tidak bisa menyebutkan keberadaan sang kakak.

Ketika Agresi Militer Belanda II dimulai pada 19 Desember 1948, Parman baru dibebaskan. Selama masa genting tersebut, Parman turut bergerilya. Setelah pemerintahan RI pulih di tahun 1950, dia ditarik menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta.

Lompatan karier Parman terjadi pada tahun yang sama setelah ia turut terlibat dalam penanganan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Westerling yang melibatkan Menteri tanpa portofolio Sultan Hamid II. "Sultan Hamid II pada 5 April 1950 di tangkap oleh Major CPM S. Parman," demikian mengutip dari buku Derap 10 Nopember dalam Orde Baru (1967).

S. Parman kemudian menggantikan Ahmad Yunus Mokoginta sebagai Komandan Pusat CPM dengan pangkat Letkol sejak November 1950 hingga tahun 1953. Jabatan itu membuat ia berkesempatan menjalani kursus militer di AS selama satu tahun. Pada masa yang sama, Parman pun merangkap sebagai Kepala Staf Umum III Angkatan Darat.

Namun, setelah Peristiwa 17 Oktober 1952 yang melibatkan KASAD AH Nasution bareng sejumlah perwira militer di lingkarannya, S. Parman menanggalkan jabatan yang terakhir. Menurut Sutrisno (1995:116), Parman masih aktif di AD setelah 1952 meski hanya sebagai tenaga pengajar Pusat Pendidikan Angkatan Darat.

Benedict Anderson dan Ruth T. McVey dalam buku A Preliminary Analysis of The October 1, 1965 (2009:15), mencatat Parman termasuk tokoh kunci pendukung Nasution di Peristiwa 17 Oktober 1952. Namun, insiden yang membikin berang Presiden Soekarno itu tidak membikin karier militer Parman sepenuhnya macet. Empat tahun setelahnya, Parman ditarik Kementerian Pertahanan dan dikirim sebagai Atase Militer RI di London, Inggris pada 1959.

Ketika Presiden Sukarno mengangkat Ahmad Yani menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat pada tahun 1962, karier Parman sebagai pimpinan AD kembali terbuka lebar. Yani memilih Parman jadi pembantu utamanya, menempati posisi Asisten I Bidang Intelijen. Sejak saat itu, salah satu tugas Parman adalah mengintai aktivitas PKI, lawan politik utama bagi petinggi Angkatan Darat pada era 1960-an.

John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal (2008:213) menulis, Parman pernah sesumbar kepada seorang perwira militer AS pada pertengahan 1965, bahwa ia telah menyusupi PKI hingga paham betul isi sidang-sidang penting partai tersebut. Namun, Parman pun mafhum, pimpinan PKI tahu tubuh partainya disusupi sehingga membentuk grup kecil guna membahas isu-isu sensitif.


Penculikan S. Parman saat Peristiwa G30S 1965

Jaringan intelijen Parman ternyata gagal mengendus rencana penculikannya oleh Pasukan Pasopati pada dini hari 1 Oktober 1965. Merujuk pada catatan Benedict Anderson dan Ruth McVey dalam A Preliminary Analysis of The October 1, 1965 (2009:33), sebanyak 20-an tentara, menjelang subuh 1 Oktober 1965, mendatangi rumah S. Parman di Jalan Serang, Menteng, Jakarta Pusat.

Parman yang semalaman melekan bareng sang istri, segera keluar rumah begitu mendengar suara ribut. Semula ia menyangka ada perampokan di rumah tetangga. Belakangan ia baru tahu bahwa kegaduhan berasal dari beberapa tentara anggota Resimen Cakrabirawa yang datang menemuinya.

Kepada S. Parman, para tentara itu bilang menerima perintah dari Presiden untuk menjemput sang jenderal. Tanpa menunjukkan sikap curiga, Parman dengan tenang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengenakan seragam kemiliteran. Dia pun dibuntuti beberapa orang tentara.


Hingga diangkut kendaraan yang menuju Lubang Buaya, S. Parman tidak memberikan perlawanan. Meskipun demikian, ia tampaknya betul-betul sadar sedang dalam bahaya. Sebelum pergi, Parman berbisik pada sang istri, Sumirahayu agar segera menelepon Ahmad Yani. Sayangnya, para tentara yang membawa Parman juga merampas pesawat telepon di kediamannya.

Sekitar 15-an menit setelah sang suami meninggalkan rumah, Sumirahayu baru benar-benar yakin nyawa S. Parman sedang terancam saat mendengar aduan Mariatni, istri dari MT Haryono. Mariatni yang mendatangi rumah Sumirahayu, dengan isak tangis menceritakan suaminya baru saja tewas, dan dibawa oleh sekelompok tentara.

Peluru yang menembus tubuh MT Haryono belakangan diketahui keluar dari senjata Sersan Mayor Boengkoes, salah satu komandan Cakrabirawa. Haryono merupakan 1 dari 3 jenderal yang dibawa ke lubang buaya dalam kondisi tidak bernyawa, selain Ahmad Yani dan DI Panjaitan.

Tiga jenderal lainnya, yakni S. Parman, R. Suprapto, dan Sutoyo, bersama 1 korban salah tangkap, Pierre Tendean, masih hidup saat diculik. Nyawa mereka dipungkasi di kawasan Lubang Buaya.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN REVOLUSI atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Addi M Idhom

DarkLight