Menuju konten utama

BGN Bantah Balita di Cianjur Meninggal Karena Konsumsi MBG

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kematian balita berinisial MAB.

BGN Bantah Balita di Cianjur Meninggal Karena Konsumsi MBG
Puluhan balita dan ibu di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mendapat pertolongan medis di puskesmas setempat karena mengalami keracunan usai menyantap menu MBG. Doc: ANTARA/Ahmad Fikri
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Seorang balita berusia dua tahun di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dikabarkan meninggal dunia usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Balita berinisial MAB tersebut sempat mendapatkan penanganan intensif selama 12 jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, setelah sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Leles dalam kondisi tidak stabil.

Hingga kini, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan makanan yang dikonsumsi.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan," kata Kepala Dinkes Cianjur, Made Setiawan, seperti dikutip Antara, Sabtu (26/4/2026).

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, membantah meninggalnya balita MAB diakibatkan program MBG.

"Tidak benar meninggalnya bayi usia 2 tahun di Cianjur karena Program MBG," tegas Nanik dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Nanik menjelaskan, makanan MBG diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles kepada penerima manfaat, termasuk MAB, pada 14 April 2026 dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Menu yang disajikan meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.

Namun, pada malam harinya serta keesokan pagi, orang tua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri di luar program MBG.

Gejala baru muncul dua hari kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, saat anak mulai mengalami muntah-muntah. Nanik mengeklaim, dari total 2.174 penerima manfaat yang menerima MBG pada 14 April, taak ada satu pun yang mengalami gangguan pencernaan.

"Hal ini menjadi indikator bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi aman dan layak konsumsi," ujarnya.

Nanik juga menegaskan bahwa balita MAB terakhir mengonsumsi MBG pada Selasa, 14 April 2026. Sementara pada Rabu, 15 April 2026, anak tersebut tidak mengonsumsi MBG karena menolak makan.

Gejala kemudian muncul pada Kamis, 16 April 2026 sekitar pukul 06.00 pagi, berupa muntah dan diare. BGN pun menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya penerima manfaat 3B tersebut.

"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda M. Abdul Bais. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan," ungkap Nanik.

Sementara itu, Direktur RSUD Pagelaran Irfan Nur Fauzi menjelaskan, balita tersebut tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis setelah menjalani perawatan awal di Puskesmas Leles. Menurut Irfan, korban akhirnya meninggal dunia dengan diagnosis syok septik, dengan riwayat diare sejak awal penanganan.

"Pasien balita ini rujukan dari Puskesmas Leles dan langsung mendapat penanganan di IGD karena kondisinya tidak stabil, lemas, pusing, dan tangan serta kaki bengkak. Kami memberikan penanganan selama 12 jam," katanya.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana