Betapa Sakitnya Kaum Hawa Saat Melahirkan

Ilustrasi seorang ibu setelah melahirkan. GETTY IMAGES
Oleh: Yantina Debora - 14 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Melahirkan adalah salah satu fase yang dilalui kebanyakan perempuan. Ia adalah pertarungan penuh risiko, mulai dari rasa sakit yang biasanya hampir tak tertanggungkan, hingga risiko kematian.
tirto.id - Hampir semua perempuan yang memilih bereproduksi akan merasakan ini: mual, sensitif terhadap bau, suasana hati yang mudah berubah hingga payudara yang mulai terasa lebih padat, sensitif, dan lebih kencang. Itu adalah masa di awal kehamilan. Ketika mulai merasakan nyeri pada punggung, sakit perut atau kram layaknya masa pramenstruasi, sulit tidur, keluar lendir kental bercampur darah dari vagina, merasakan kontraksi palsu dan air ketuban pecah, itu artinya waktu melahirkan sudah dekat.

Melahirkan sering disebut sebagai ujung dari penantian panjang selama masa kehamilan. Proses yang menyakitkan dan tak jarang menyebabkan kematian sang ibu. Inilah sebabnya ibu yang melahirkan kerap disebut sedang “bertaruh nyawa”.

Rasa sakit saat melahirkan disebabkan adanya aktivitas besar di dalam tubuh yang sedang berusaha mengeluarkan bayi. Para ilmuwan sudah membicarakan masalah melahirkan di pertengahan abad ke-20. Mereka berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat perempuan melahirkan. Mereka mengungkapkan masalah sakitnya saat melahirkan ada kaitannya dengan evolusi pada panggul perempuan. Perempuan yang ukuran panggulnya lebih lebar akan memudahkan perempuan saat melahirkan.

Pada 2012, Jonathan Wells yang mempelajari gizi anak di University College London bersama rekan-rekannya mengungkapkan bahwa pada zaman prasejarah, atau zaman berburu, masalah persalinan relatif kecil. Sedikitnya jumlah kerangka bayi yang ditemukan dari zaman itu mengindikasikan rendahnya tingkat kematian bayi yang baru lahir.

Namun, situasi ini kemudian berubah saat orang-orang mulai bercocok tanam atau bertani. Arkeolog mulai menemukan kerangka bayi yang baru lahir. Menurut Wells, peningkatan kematian bayi yang baru lahir pada zaman bercocok tanam disebabkan petani mulai tinggal di pemukiman sehingga lebih mudah tertular berbagai penyakit.

Wells dan rekan-rekannya juga menduga pergeseran dari berburu ke masa bercocok tanam menyebabkan perubahan perkembangan yang membuat persalinan jauh lebih sulit. Ada fitur mencolok yang menunjukkan perbedaan antara kerangka petani pertama dengan nenek moyang pemburu. Para petani memiliki tubuh yang lebih pendek dibandingkan para pemburu.

“Ini adalah pengamatan jitu bagi mereka yang mempelajari tentang melahirkan,” kata Wells, seperti dilaporkan BBC. “karena ada bukti hubungan antara tinggi badan perempuan dengan ukuran dan bentuk pinggulnya. Secara umum, semakin pendek tubuh seorang perempuan, panggulnya pun akan semakin kecil. Dengan kata lain, ada pergeseran yang hampir pasti membuat melahirkan sedikit lebih menantang.”

Selain itu, pada 2015, Barbara Fischer dari Konrad Lorenz Institute dan Philipp Mitteroecker dari University of Vienna melakukan penelitian soal panggul perempuan. Fischer dan Mitteroecker menyelidiki apakah ada korelasi antara ukuran kepala perempuan dan ukuran panggul. Kesimpulannya: perempuan yang ukuran kepalanya yang besar akan memiliki panggul yang besar juga.

Sejumlah Kesakitan

Proses melahirkan terkadang diawali oleh kontraksi braxton hicks atau kontraksi palsu. Disebut kontraksi palsu karena sakit akibat kontraksi ini muncul secara tidak teratur dan kemudian mereda. Setelah itu kontraksi saat akan melahirkan datang dengan teratur dengan kemunculan yang semakin cepat. Misalnya, kontraksi datang setiap 15 menit sekali, kemudian berubah semakin cepat menjadi 10 menit sekali.

Saat melahirkan, terjadi peregangan dan pelebaran mulut rahim. Kejadian itu terjadi ketika otot-otot rahim berkontraksi untuk mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim -kantong muskular yang berbentuk menyerupai buah pir terbalik- menegang selama masa kontraksi. Bersamaan dengan setiap kontraksi, kandung kemih, rektum, tulang belakang dan tulang pubik menerima tekanan kuat dari rahim. Berat dari kepala bayi ketika bergerak ke bawah saluran lahir juga menyebabkan tekanan.

Pada umumnya, rasa sakit karena kontraksi dimulai dari bagian bawah punggung, kemudian menyebar ke bagian bawah perut, bahkan bisa menyebar hingga ke kaki. Rasa sakit dimulai seperti sedikit tertusuk. Sebagian besar perempuan merasakannya seperti keram haid yang parah. Ada juga yang merasakannya seperti gangguan saluran pencernaan atau mulas diare. Secara medis, sakit karena kontraksi ini disebut visceral-dull and aching.



Sakit kontraksi dalam persalinan merupakan nyeri primer. Daerah yang mengalami nyeri primer antara lain punggung, perut, pinggang dan pangkal paha. Sebagai efek kontraksi, timbul juga nyeri sekunder seperti pusing, sakit kepala, tubuh gemetar, panas-dingin atau bergantian keduanya, keram, pegal-pegal, dan nyeri otot.

Selain sakit karena kontraksi, ibu juga akan mengalami sakit lain yakni saat bayi mulai muncul di vagina. Jaringan antara vagina dengan anus atau perineum terentang sangat kencang akibat kepala bayi yang mendorongnya sehingga terbuka. Rasa sakit tersebut akibat perobekan jaringan. Sebagian besar ibu merasakan seolah-olah bagian bawahnya akan meledak. Ada juga yang menggambarkannya rasa sakit itu seperti akan membuang kotoran setelah sembelit satu bulan. Secara medis, sakit ini disebut somatic-sharp and burning.

Risiko Melahirkan

Proses melahirkan adalah proses penuh risiko. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan bahwa sekitar 830 perempuan meninggal setiap hari karena komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Sekitar 99 persen dari seluruh kematian ibu terjadi di negara berkembang.

Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang pada 2015 adalah 239 per 100.000 kelahiran hidup versus 12 per 100.000 kelahiran hidup di negara maju. Antara 2016 hingga 2030, sebagian dari Sustainable Development Goals menargetkan untuk mengurangi angka kematian ibu global untuk kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Indonesia adalah salah satu negara yang terus berusaha menurunkan angka kematian ibu. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Yembise mengatakan angka kematian ibu (AKI) melahirkan di Indonesia masih sangat tinggi.

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyebutkan bahwa AKI di Indonesia adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) adalah 32 per 1000 kelahiran hidup, seperti dilaporkan Antara.

Baca juga artikel terkait MELAHIRKAN atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight