Berharap Besar pada Mimpi BTN Menjadi Rumah bagi Milenial

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 8 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
BTN meluncurkan sejumlah program untuk memenuhi target penyaluran KPR milenial 2020, sebuah target yang tidak mudah.
tirto.id - Marshall McLuhan, seorang filsuf berdarah Kanada telah meramalkan efek kedatangan internet jauh sebelum sistem ajaib itu ada. Sebagaimana dicatat Paul Levinson dalam Digital McLuhan: A Guide to the Information Millenium (1999), ramalan ini muncul tatkala McLuhan menerbitkan buku keduanya, Understanding Media: Extension of A Man pada 1964.

“Kelak,” tulis McLuhan dalam bukunya, “akan datang sebuah era elekronik, dan pada era ini metode komunikasi bakal lebih berpengaruh ketimbang informasi yang ada dalam komunikasi itu sendiri.”

Sebagian besar warga dunia—bahkan kaum intelektual—mulanya lebih kerap menyebut teori McLuhan sebagai mimpi di siang bolong. Orang-orang ini pula yang kemudian menyesal ketika pada 1989 World Wide Web (WWW) dicetuskan oleh Tim Berns-Lee.

WWW, atau biasa disebut web adalah ruang informasi untuk mengidentifikasi sumber daya guna mengirimkan dan menyebarkan data ke jaringan internet berskala besar di seluruh penjuru dunia. Sejak kehadiran terobosan ini, internet semakin punya peran penting dalam segala aspek kehidupan.

Tak usah bicara muluk-muluk soal hal njelimet, peran tersebut tampak jelas terhadap tiga kebutuhan dasar manusia: pangan, sandang dan papan.

Perihal pangan, kemudahan jaringan internet memicu kehadiran teknologi-teknologi mutakhir untuk tahap pengolahan, distribusi hingga konsumsi. Sedangkan menyoal sandang, tak bisa dinafikkan bahwa internet berpengaruh terhadap tren fesyen dari masa ke masa.

Begitu pula dengan papan. Andre Ilham (27), seorang karyawan swasta asal Bogor, Jawa Barat punya cerita khusus soal betapa penting peran internet terhadap kebutuhannya akan tempat tinggal.

Lewat internet, belakangan Andre lebih leluasa memilih hunian untuk dia tempati. Sejak tahun lalu ia telah menjatuhkan pilihan untuk mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terhadap sepetak bangunan di perumahan yang tak jauh dari kantornya.

"Sekarang katalog online [daring] sudah banyak. Bagi saya pribadi, rasanya jadi lebih mudah karena enggak perlu lagi saya survei rumahnya satu per satu. Menghemat waktu," ujarnya kepada Tirto, Rabu (5/2/2020).

Andre bercerita bahwa dirinya mengajukan KPR lewat situs BTN Properti, yang bisa diakses siapa saja dengan membuka laman www.btnproperti.co.id.

BTN Properti merupakan laman dengan katalog 507.445 unit properti yang dijual oleh lebih dari 1.800 pengembang mitra Bank Tabungan Negara (BTN). Laman ini juga memfasilitasi kemudahan mengajukan booking alias pemesanan KPR dengan sistem daring.

Kisah Andre di atas mirip dengan potongan cerita Perdana (25), perantau asal Solo yang kini bekerja untuk perusahaan agensi di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Perdana juga menggunakan fasilitas BTN Properti untuk mengajukan KPR. Namun, dia memakai cara yang lebih kiwari, yakni aplikasi gawai berbasis Android. Aplikasi bernama BTN Properti Mobile yang baru dirilis penghujung 2019 ini diakui Perdana mempermudah dirinya dalam proses pengajuan KPR.

"Memang pada akhirnya tetap harus datang ke bank, tapi dengan fasilitas booking lewat smartphone rasanya jadi enggak capek,” ujar Perdana.

Hingga sekarang pengajuan KPR Perdana belum mendapat jawaban diterima atau tidak. Namun, apapun hasilnya nanti, Perdana merasa cukup terbantu dengan keberadaan BTN Properti Mobile.

“Kalau nanti ditolak ya gampang saja, lain kali akan mengajukan lagi,” sambungnya.

Mimpi Besar

Direktur Utama BTN, Pahala Nugraha Mansury menyebut aplikasi BTN Properti Mobile yang kompatibel dengan berbagai perangkat sebagai bagian dari terobosan untuk pasar generasi milenial. Istilah milenial, seperti termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merujuk pada mereka yang lahir pada rentang akhir 1980 hingga awal 2000an.

“Kami akan terus berinovasi,” ujar Pahala saat peluncuran BTN Properti Mobile di Jakarta, Rabu (18/12/2019). "Kali ini, kami berinovasi dengan menyajikan aplikasi BTN Properti Mobile yang memberikan berbagai kemudahan berbasis teknologi bagi generasi milenial.”

Sebagai bank pelopor KPR, Pahala menilai penting bagi BTN untuk tetap relevan menjadi opsi utama generasi muda dalam hal kredit kepemilikan rumah. Atas nama relevansi itu pula, BTN memproklamirkan beragam fitur canggih di aplikasi ini. Sebut saja 4D Tour Sevice, tracking kredit berkala, sampai fasilitas pemesanan lewat aplikasi.

Terobosan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Medio 2018, BTN sempat meluncurkan program cicilan rumah khusus untuk milenial bernama KPR Gaesss.

KPR Gaesss membawa berbagai kebijakan menggiurkan. Seperti dimasukkannya biaya proses KPR dalam plafon kredit, atau program suku bunga tetap 8,25 persen selama 2 tahun. Khusus untuk debitur rumah pertama, program ini menawarkan pemohon bisa membayar uang muka atau DP dengan minimal 1 persen saja.

KPR Gaesss juga memberikan diskon biaya provisi maupun administrasi sebesar 50 persen. Tenornya bisa disesuaikan hingga 30 tahun.

Sejauh ini program KPR Gaesss cukup diminati. Sampai akhir 2019 saja, menurut hitung-hitungan BTN penyaluran duit via KPR Gaesss menyentuh Rp9,3 triliun. Nilai penyaluran ini setara pembiayaan untuk 27.593 hunian.

Menariknya, angka tersebut belum cukup bikin BTN menepuk dada. Syahdan gebrakan lanjutan seperti aplikasi BTN Properti Mobile baru-baru ini tetap mereka luncurkan.

Menurut Pahala, yang kemudian membedakan terobosan aplikasi ini tinimbang langkah-langkah sebelumnya macam KPR Gaesss adalah penekanan pada fleksibilitas akses.

Lewat 4D tour service misal, konsumen bisa melihat pratinjau detail kondisi sebuah hunian cuma dalam genggaman tangan. Tak beda jauh dengan tujuan fitur tracking realtime serta proses pemesanan daring yang bisa bikin milenial mengajukan KPR kapan dan di mana saja.

Bersamaan dengan peluncuran BTN Properti Mobile ini pula, bank pelat merah tersebut melakukan peluncuran ulang program KPR Gaesss. Target BTN, di tahun 2020 pembiayaan KPR khusus milenial ini bisa menembus Rp11 triliun.

Bukan Target Mudah

Target BTN sangat mungkin tercapai, terutama menimbang prediksi Bank Indonesia (BI) terhadap permitaan properti di tahun 2020.

BI memperkirakan laju permintaan properti tahun ini makin menggeliat dengan tingkat pertumbuhan 8-10 persen.

Peluang juga ditopang data terbaru Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang menyebut jumlah generasi milenial yang belum punya rumah menyentuh 81 juta orang. Angka ini setara 31 persen populasi Indonesia.

Di saat bersamaan BI selaku bank sentral terus mendorong kenaikan angka permintaan properti dengan berbagai kebijakan relaksasi. Seperti pelonggaran rasio loan-to-value (LTV) dengan rerata 5 hingga 10 persen, sampai penurunan BI 7 days reverse repo rate (7DRR) menjadi lima persen. Dari kebijakan relaksasi ini BI berharap suku bunga perbankan makin merosot dan imbasnya ongkos kredit rumah ikut turun.

“Jika itu terjadi, saya kira akan jadi ceruk besar untuk BTN. Target mereka [penyaluran Rp11 triliun] masih realistis. Apalagi mereka salah satu yang terdepan soal kredit properti,” ujar pengamat properti sekaligus Direktur Riset Savills Indonesia, Anton Sitorus kepada Tirto, Jumat (7/2/2020).

Namun, realistis bukan berarti mudah. Setidaknya demikian menurut Anton.

Tantangan terbesar BTN adalah menyiapkan rumah dengan lokasi dan harga yang bisa menarik milenial. Anton menilai saat ini sulit menggaet milenial untuk kredit properti dengan harga di atas Rp500 juta.

“Ini yang perlu diperhatikan BTN. Koordinasi dengan pengembang menjadi penting. Mereka harus cermat. Sekarang, susah properti di bawah 500 [juta] di pusat ibu kota. Jika mau mencapai target itu, saya rasa gerakan mereka untuk menyediakan opsi rumah di daerah-daerah penyangga [Bekasi, Bogor, Tangerang dan sekitarnya] juga harus dipergencar.”

Ucapan Anton logis, sebab faktanya pada 2019 mayoritas pemohon KPR di BTN memang mengajukan cicilan rumah di daerah penyangga ibu kota. Jenis rumah paling laku pun bertipe 36 yang punya kisaran harga di bawah Rp200 juta.

Masih menurut Anton, tantangan lain yang tak kalah penting diperhatikan adalah menyoal stigma. Tahun 2017 lalu sebuah survei yang dilakulan Rumah.com menyebut 86 persen dari populasi milenial di Indonesia masih menganggap proses pengajuan KPR rumit dan berbelit-belit.

Kini program kredit properti memang relatif punya prosedur dan prasyarat lebih longgar. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sisa stigma lama itu masih ada.

"Yang namanya kredit, apalagi rumah, pasti prosesnya tetap butuh waktu dan itu tidak bisa dihindari. Jadi, pintar-pintarnya BTN saja saya kira. Mereka perlu meyakinkan para milenial ini, bahwa KPR enggak seribet layaknya stigma lama itu," tegas Anton.

Kejar Mandiri dari Subsidi

Ombak tak berhenti di situ. Dari dalam, target BTN juga bakal berhadapan dengan wacana pembatasan anggaran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) alias KPR subsidi dari pemerintah.

Pemerintah sebelumnya mengumumkan bakal menggelontorkan Rp11 triliun untuk pembiayaan FLPP 2020. Namun, angka ini menyusut jadi Rp9 triliun saja, sebab Rp2 triliun yang lain terpangkas untuk menutup kekurangan pembiayaan FLPP tahun 2019.

Jumlah tersebut dinilai terlalu kecil oleh asosiasi pengusaha perumahan, Real Estate Indonesia (REI). Sepanjang Januari 2020, REI sempat mengadakan serangkaian pertemuan dengan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun, pertemuan ini belum menghasilkan kemajuan berarti.

Dengan perkiraan hitungan kasar, dana FLPP 2020 hanya akan cukup menyubsidi sekitar 102.400 unit hunian, padahal REI memproyeksikan kebutuhan pada 2020 bakal menyentuh 280 ribu unit hunian.

"Itu tentu tidak cukup untuk memenuhi pencapaian total," ujar Ketua Umum REI, Soelaeman Soemawinata dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto.

Tak cuma pengusaha, pembatasan ini berpotensi besar mempengaruhi kinerja BTN. Sebab faktanya, tahun lalu FLPP menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan kredit perumahan BTN. Seperti dilansir Katadata, setidaknya sampai kuartal ketiga 2019 saja penyaluran KPR subsidi BTN (secara tahunan) tumbuh 25,54 persen menjadi Rp 111,64 triliun.

Pahala, di sisi lain, sadar betul akan situasi tersebut. Sejak menuntaskan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Rencana Bisnis Perbankan di Jakarta, 10 Januari 2020 lalu, ia selalu menegaskan bahwa BTN akan lebih berhati-hati bergerak tahun ini. Target pertumbuhan kredit rumah bersubsidi pun cuma dia patok berkisar tiga persen.

Kendati demikian, untuk segmen non-subsidi, Pahala tetap percaya diri pertumbuhan KPR BTN bisa menyentuh 17 persen. Sebab dia yakin, menjadi "rumah" bagi kaum milenial adalah target yang mampu dicapai BTN.

"[Kuncinya] kami harus lebih memperkuat porsi KPR non-ubsidi dari kalangan milenial, dengan inovasi produk layanan perbankan berbasis digital yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BTN atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Zakki Amali
DarkLight