Menuju konten utama
Wawancara Khusus

Bentrok Suporter & Aparat: Kita Bisa Tak Dipercaya Internasional

P-PNSI juga khawatir jika bentorkan antara suporter dan aparat terus terjadi akan ditunggangi pihak-pihak lain terutama di tahun politik.

Bentrok Suporter & Aparat: Kita Bisa Tak Dipercaya Internasional
Header Wansus Sekjen PNSSI, Richard Achmad Supriyanto. tirto.id/Tino

tirto.id - Penanganan bentrok antar suporter klub sepak bola di tanah air kembali disorot. Polisi menembakkan gas air mata saat terjadi kericuhan dalam pertandingan Gersik United Vs Deltras Sidoarjo pada Minggu (19/11/2023).

Peristiwa terjadi usai tuan rumah Gersik United kalah 1-2 dengan tim tamu Deltras Sidoarjo di Stadion Gelora Joko Samudro, Jawa Timur. Dalam video yang beredar, terlihat polisi menembakkan gas air mata ke arah suporter yang berkerumun di area stadion. Padahal, para suporter telah menahan hingga memohon kepada polisi agar menghentikan tembakan gas air mata.

Namun, tampaknya upaya itu diabaikan anggota polisi. Bahkan, suporter yang mengingatkan polisi tersebut terlihat diintimidasi secara verbal hingga akan dicambuk menggunakan sebuah kayu.

Akibat peristiwa ini, sebanyak 28 korban alami luka-luka: 17 dari suporter dan 11 dari polisi. Lalu, delapan suporter ditetapkan sebagai tersangka. Empat di antaranya masih anak-anak.

Padahal aturan penggunaan gas air mata secara jelas sudah dilarang oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Bahkan pasca Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang lebih juga, Kapolri telah mengeluarkan Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2022 yang menebalkan larangan penggunaan gas air mata, granat, asap, dan senjata api oleh petuigas kepolisian dalam pengamanan.

Polisi seolah tidak belajar dari kasus Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 lebih nyawa dan ratusan lainnya luka-luka hingga cacat permanen. Dalam merespons peristiwa brutalitas aparat tersebut, Tirto melakukan wawancara khusus dengan Sekjen Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia (PN-SSI), Richard Achmad Supriyanto, Rabu (21/11/2023).

Update terkini ada berapa korbannya? Lalu bagaimana kondisi mereka saat ini?

Korban ada sekitar 28 orang, 17 dari suporter dan 11 dari polisi. Kondisi suporter, korban yang luka-luka segala macam sudah ada yang sudah bisa pulang, dan pihak kepolisian memberikan santunan. Sama-sama buat kesepakatan, bahwa polisi bukan musuh suporter dan suporter juga bukan musuh polisi.

Menurut Anda, apakah tindakan aparat menembakan gas air mata berlebihan dan sesuai dengan SOP atau standar FIFA?

Ya sebenarnya kan kalau bicara standar FIFA tidak ada standar, tidak ada aturan mekanisme itu (Polisi klaim mengamankan pakai gas air mata).

Ya kan gini, kepolisian itu kan bertindak kadang-kadang inginnya cepat ya. Mungkin menembakkan gas air mata itu bisa lekas membubarkan massa. Padahal tidak begitu. Itu justru jadi perlawanan massa. Karena massa ini kan dalam posisi tidak terkontrol emosinya.

Artinya, akhirnya tidak hanya massa yang di situ. Orang lain juga banyak jadi korban. Kan kalau kita lihat ada video juga itu, gas air mata keluar dari area stadion yang akhirnya ke jalan dan sebagainya.

Sama seperti aturan soal pertandingan bahwa kalau dari Perpol (Peraturan Kapolri) Nomor 10 Tahun 2022 itu, kalau ada kejadian keributan dalam stadion, enggak bisa polisi masuk. Harus steward-nya dulu yang masuk dan sebagainya. Kecuali kalau sudah tidak bisa menangani, baru mereka meminta permintaan dari pihak pengamanan (Kepolisian), sebenarnya seperti itu.

Tindakan polisi tembak gas air mata kan dilarang dalam aturan FIFA dan Perpol Nomor 10 Tahun 2022. Tetapi masih dilakukan oleh polisi. Bagaimana menurut Anda?

Iya itu harus dikaji ulang. Artinya misalkan kita sama-sama tahu ini kan pandangannya ada di bagian polisi dan juga bagian intel. Nah ini, harus dikaji ulang sejauh mana efek domino dan sebagainya.

Jangan sampai terjadi di dalam suasana kita lagi masuk ke Piala Dunia U-17. Lalu juga FIFA berkantor di Indonesia. Artinya kan ini jadi sorotan, tidak hanya media, tapi juga dari negara yang masih di Indonesia yang masuk 16 besar Piala Dunia U-17, ini kan sorotan dunia. Akan berdampak Indonesia tidak lagi dipercaya publik sepak bola kalau terjadi seperti ini.

Nah, kita ini khawatir kalau sering terjadi begini, takutnya ditunggangi hal-hal yang lain. Karena ini tahun-tahun politik, kita enggak pengen itu terjadi. Karena kan kita belum pernah tahu ada sejarah yang di Gresik itu dengan Sidoarjo berbenturan (bentrok atau rivalitas suporter) seperti itu.

Nah ini yang kita coba, kita khawatir kalau sering terjadi justru jadi dimanfaatkan pihak lain. Makanya kita mendorong ke teman-teman semua agar sama-sama mawas diri, agar coba bisa mengontrol emosi dan sebagainya.

Berdasarkan catatan Anda sebagai suporter dan Sekjen P-PNSI, kejadian polisi menembak suporter dengan gas air mata sudah sering terjadi?

Ya kalau terjadi kejadian ya, sudah hampir sering. Sebelum peristiwa Kanjuruhan itu sudah sering. Kalau datanya harus disusun. Tapi kalau yang pasti, peristiwa besar itu kejadian yang belum lama dari Kanjuruhan, itu kan yang di Stadion Jatidiri Semarang ya, yang teman-teman juga kena gas air mata. Lalu kalau bicara jauh ke belakang, Persija vs Persipura, itu kan juga polisi pakai gas air mata.

Dengan adanya kondisi ini terulang, kondisi penembakan gas air mata terulang, menurut Anda, artinya polisi tidak belajar dari Tragedi Kanjuruhan?

Iya, polisi tidak belajar dari peristiwa Kanjuruhan. Artinya tinggal lagi-lagi pimpinan-pimpinan tadi itu, segera upgrade diri terkait pengawasan sepak bola ini. Karena yang dihadapi anak-anak muda, anak-anak pecinta sepak bola, cinta sama klubnya, militansi dibandingkan penonton kan gitu. Jadi harus bergerak, setiap pertandingan Panpel harus sering bekerjasama dengan tangan teman-teman suporter untuk meredam kejadian-kejadian di lapangan.

Sebenarnya ada upaya preventif kah ketika menangani kerusuhan suporter saat pertandingan sepakbola agar tidak ada penembakan gas air mata yang menimbulkan korban?

Tahap awalnya pasti kan itu ada rakor (Rapat koordinasi) ya, ada Panpel (Panitia Pelaksana), pihak keamanan dari kepolisian, federasi, teman-teman suporter hingga pihak-pihak lainnya yang terkait. Setelah itu pihak kepolisian dan panpel melakukan pendekatan ke masing-masing suporter agar tetap kondusif saat menonton pertandingan. Itu biasanya bagian intel untuk komunikasi deteksi, apalagi kalau terlibat dengan kedua supporter besar, misalkan gitu, itu pasti keamanannya juga dua kali lipat.

Setelah itu, ketemu lagi pertemuan formal atau non-formal, lalu ada deteksi lagi. Jadi tahapnya sebelum nanti di saat apel bersama, tentunya itu sudah jadi protap (Protokol tetap) nanti.

Kemudian H-2 jam sebelum pertandingan melakukan apel bersama antara panpel, kepolisian, suporter melalui korlap (Koordinator lapangan) yang dilibatkan sebagai panpel juga, Dinas Kesehatan, petugas pemadam kebakaran, dan pihak terkait lainnya.

Kalau pihak keamanan kan, dia pasti sekalian pakai Perpol Nomor 10, patokannya itu, makanya harus disinkronkan antara, aturan security officer-nya FIFA, sama Perpol. Selama ini hanya, saya belum tahu ya, selama ini kan hanya workshopnya seperti officer saja, harusnya ada hal yang dibahas terkait soal itu.

Memang di beberapa Polda itu sudah menjalankan soal koordinasi, soal security officer soal FIFA, dan juga ada contohnya Kapolda Jabar itu pernah melakukan waktu Pak Suntana. Nah saya enggak tahu nih, kalau Polda lain sudah melaksanakan itu belum.

Ketika terjadi potensi kerusuhan, biasanya yang menangani dari korlap suporternya masing-masing diminta tolong teman-temannya dibubarin, kasih pengertian, kamu yang maju depan. Kan gitu, polisinya di belakang korlap atau belakang steward, untuk mengerti itu. Supaya tidak terjadi bentrokan seperti yang sudah-sudah.

Nah, itu kalau saya belajar dari yang pernah saya lakukan di Jakarta (saat menjadi Ketua Umum Jakmania), jadi teman-teman itu akan takutnya bukan sama polisi, tapi sama teman sendiri atau sama pimpinan organisasinya. Mereka lebih menghargai dan segan.

Atas kejadian polisi tembak gas air mata ini, apa saja catatan bagi kepolisian hingga PSSI?

Yang kita ingatkan keamanan adalah, jangan sedikit-sedikit langsung direspons dengan reaktif. Bahwa penanganan sepakbola masa kini perlu juklis dan juklaknya (Petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya), perlu metodenya.

Nah ini yang harus juga segera Kapolri (Listyo Sigit) coba tindaklanjuti, soal misalkan usulan dari Pak Erick (Ketum PSSI) terkait soal polisi olahraga. Nah kalau di Inggris, bahwa pertandingan olahraga atau sepak bola itu mendeteksinya jauh-jauh sebelum pertandingan.

Mereka deteksi kelompok-kelompok yang mana yang agak keras, didekatkan dan segala macam. Lalu misalkan juga kalau di Inggris itu ada tim satwa, ada anjing pelacak, ada berkuda dan sebagainya.

Itu sebenarnya ada beberapa perwira-perwira kita di Indonesia sudah belajar di sana, cuman memang aktualisasinya tidak dalam sebuah badan. Akhirnya mereka bertugas dengan secara profesional, tapi bertugas di tempat-tempat lain. Nah, hal-hal itu harus segera diaktualisasi oleh kepolisian kita.

Jika terjadi permasalahan atau kerusuhan itu juga harus jadi masukan pihak keamanan. Jadi kalau menurut saya, terkait kejadian-kejadian ini harus dievaluasi. Artinya ini yang punya pasukan kepolisian, lalu juga Intel, kenapa bisa? Harusnya biasanya kan sudah ada rakor itu kan dibahas sebelum pertandingan.

Ya mungkin dari federasi (PSSI), tidak hanya (Security Officer) SO-nya yang diundang dalam workshop, tapi SO juga harus melibatkan suporternya dalam proses itu, supaya sama-sama mengerti dan paham.

Syukur-syukur memang LIB (Liga Indonesia Baru) memberikan kewajiban semua klub harus ada fun engagement dalam proses membantu penanganan di klub dan juga penanganan di suporter.

Termasuk juga manajemen, sekarang banyak manajemen-manajemen sepak bola instan juga gitu. Maksudnya dia punya klub, tapi dia enggak tahu pengamanan lapangan, panpel gimana, ngurus perizinan, segala macam. Jadi maksud saya, federasi juga harus aware dalam memberikan workshop gitu, jangan sekadar memberikan workshop teknisnya doang, tapi non-teknisnya juga dikasih tahu.

Bagaimana harapan ke depan untuk para suporter?

Iya, teman-teman di seluruh Indonesia ya, kita semua belajar hal yang sama terkait soal sepak bola agar sama-sama kita beredukasi, belajar, untuk menangani sebuah pertandingan sepak bola yang bersih, tidak terjadi apa-apa, lancar semuanya.

Baca juga artikel terkait BENTROK SUPORTER atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Olahraga
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri