Bentrok Israel-Palestina di Masjid Al-Aqsa

Oleh: Yantina Debora - 22 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Bentrok antara warga Palestina dan pasukan keamanan Israel sering terjadi di komplek Masjid al-Aqsa.
tirto.id - Israel mulai meningkatkan pengamanan di komplek Haram al-Syarif yang merupakan komplek bangunan suci oleh umat Muslim di Yerusalem Timur. Detektor logam dipasang di pintu masuk komplek dan Israel menurunkan sebanyak lima batalion tambahan yang dikerahkan untuk mengamankan wilayah tersebut termasuk wilayah Tepi Barat.

Pada Jumat (14/7/2017) tiga warga Palestina melepaskan tembakan di kompleks suci itu dan menewaskan dua polisi Israel tewas. Tiga pelaku pun ditembak mati oleh polisi lainnya.

Setelah serangan tersebut, pemerintah Israel menutup sementara kompleks suci itu. Ketika kembali dibuka, Israel memasang logam detektor demi keamanan tempat suci tersebut. Namun, pemasangan detektor itu malah memicu boikot warga Palestina.

Warga Palestina yang ingin beribadah di Masjid al-Aqsa yang berada dalam komplek suci itu tak ingin masuk melalui pintu detektor. Mereka pun memilih untuk beribadah di luar. Ketegangan antara warga Palestina dan keamanan Israel makin meningkat. The Red Cross mengungkapkan bahwa setidaknya 50 warga Palestina terluka dalam bentrokan yang terjadi pada selasa (18/7/2017).


Bentrokan yang kian meningkat membuat pemerintah Israel mengambil langkah dengan melarang laki-laki berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke Kota Tua Yerusalem guna menunaikan salat Jumat di Masjid al-Aqsa.

"Izin masuk ke Kota Tua dan Temple Mount (Haram al-Syarif) akan dibatasi bagi pria berusia 50 tahun ke atas. Perempuan semua usia akan diizinkan masuk," demikian pernyataan kepolisian Israel.

Tindakan sepihak Israel itu membuat marah warga Palestina. Israel Dinilai ingin memperbesar kendali atas Haram al-Syarif. Berbagai negara di dunia mengecam tindakan Israel, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia mengecam tindakan pasukan keamanan Israel membatasi akses ke Kompleks Al-Aqsa. Hal itu melanggar hak umat Muslim untuk bebas melakukan ibadah, menurut pemerintah Israel.

Ketegangan terkait Masjid al-Aqsa bukan baru sekali terjadi. Komplek suci itu sering dilanda berbagai bentrok antara warga Palestina dengan pasukan keamanan Israel. Pada 2014, Masjid al-Aqsa ditutup untuk pertama kalinya sejak 1967. Penutupan itu juga akibat bentrok yang terjadi antara polisi Israel dan warga Palestina terkait Hejazi, seorang warga Palestina yang dibunuh karena diduga menembak dan melukai Yehuda Glick, seorang pegiat kanan ekstrem yang menjadi pemimpin dalam mengkampanyekan agar umat Yahudi bisa beribadah di Haram al-Sharif.


Rencana membawa umat Yahudi untuk beribadah di komplek suci umat Muslim itu sudah digaungkan sejak 2005 oleh Revava, sebuah organisasi di Israel yang memiliki koneksi dengan sayap kanan kelompok Kach. Mereka berencana untuk membawa 10.000 umat Yahudi ke komplek tersebut sehingga memancing ketegangan dengan warga Palestina yang menggunakan komplek itu sebagai tempat ibadah.

Infografik bentrok di masjid al aqsa


Berdasarkan perjanjian damai 1994 antara Israel dan Yordania, status pelindung al-Aqsa di bawah kendali Yordania dan tempat-tempat suci Islam lainnya di Yerusalem timur yang kini telah diduduki Israel. Di bawah status quo, umat Yahudi diperbolehkan masuk ke dalam komplek Haram al-Sharif namun tidak diperbolehkan untuk beribadah.

Pada 2015, tepat satu bulan sebelum Ramadan, Yordania dan Israel mencapai sebuah kesepakatan baru untuk meredakan pertikaian yang sering terjadi di Haram al-Sharif. Pada kesepakatan itu, Israel setuju untuk menghilangkan batasan usia bagi umat Muslim yang ingin beribadah di Masjid al-Aqsa. Israel juga setuju untuk berhenti menyita kartu identitas perempuan, melarang simbol politik Israel di wilayah.

Kesepakatan itu dilakukan setelah bentrok antar polisi Israel dengan warga Palestina mulai memanas saat warga Israel masuk ke dalam masjid al-Aqsa. Mereka masuk ke salah satu masjid suci umat Islam itu guna memperingati okupasi Israel di Yerusalem Timur pada 1967 yang dikenal dengan “Jerusalem Day.”

Tindakan itu membuat warga Palestina marah dan melakukan protes. Protes yang dilakukan berujung bentrok. Awalnya Israel menutup akses bagi semua warga Palestina baik laki-laki maupun perempuan yang berusia di bawah 30 tahun antara pukul 7.00 hingga 11.00 di hari minggu.


Setelah kesepakatan baru antara Israel dan Yordania itu disepakati, awalnya semua kembali normal dan tampak damai, tetapi bentrok kembali terjadi. Sejumlah warga Palestina melakukan protes karena Israel mengizinkan pengunjung dari umat Yahudi masuk ke masjid al-Aqsa saat Ramadan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh umat Muslim yang ingin beribadah. Protes itu berujung bentrok yang menyebabkan sejumlah warga Palestina menderita luka-luka akibat terkena gas air mata dari polisi Israel.

Bentrok yang terus terjadi di wilayah suci itu antara warga Palestina dan keamanan Israel membuat pemerintah setempat menerapkan aturan yang sama yakni melarang laki-laki dari warga Palestina yang berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke dalam Masjid al-Aqsa. Mereka yang melawan pun dihadang dengan granat dan peluru karet.

Masjid al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Muslim itu adalah tempat ibadah salat Jumat bagi ribuan warga Palestina di Kota Tua Yerusalem Timur. Setelah Yerusalem Timur diokupasi Israel, wilayah Kota Tua dan situs suci umat Islam itu terus bergejolak. Israel seperti acuh dengan kesepakatan yang dilakukan dengan Yordania.

Sehingga apa yang dilakukan Israel dengan berbagai tindakan represifnya di komplek suci itu dipandang warga Palestina sebagai upaya Zionis untuk menguasai dan mengontrol situs suci Haram al-Sharif.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight