Synchronize Festival 2023

Beni Satryo & Haru Hura di Synchronize Fest 2023

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 14 Sep 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Synchronize Festival paham bahwa kombinasi nostalgia, nama naik daun, dan mereka yang sedang merintis jalan, akan memberikan kepuasan bagi banyak orang.
tirto.id - Beni Satryo merajah tiga hal dalam kepalanya.

1. Iwan Fals

2. Yogyakarta

3. Perempuan yang membuatnya jatuh cinta sekaligus patah hati

Ini adalah kisah tentang Beni, tiga rajah di hatinya, dan Synchronize Festival 2023.

Bagian 1: Beni Satryo dan Iwan Fals

Hari ini dimulai juga. Hari pertama Synchronize Festival 2023, saya sudah menandai para penampil yang mau saya tonton. Sebelum break Magrib, ada dua nama yang saya tandai: Primitive Monkey Noose (PMN) dan Thee Marloes.

Nama pertama adalah band dari Kalimantan Selatan. Mereka memainkan punk rock yang dibumbui dengan elemen musik dari Kalimantan Selatan: panting. Di ruangan Gigs Stage yang selalu penuh dengan elemen sesak dan seru itu, saya menyaksikan band yang dikomandoi Richie Petroza itu menghentak.

Lagu-lagu mereka, sedikit banyak, adalah tandingan setara bagi Celtic punk. Paduan antara instrumen musik modern, dipadukan dengan alat musik tradisional, menghasilkan irama yang unik--terutama suara panting yang dipetik kencang dan menyayat.

Ditambah lagu mereka bisa dibilang anthemic, penuh dengan reff yang bisa menempel di kepala dengan cepat--meski menghapal liriknya perlu perjuangan lebih keras, mengingat lirik mereka ditulis dalam bahasa Banjar.

Berbekal lirik yang saya catat sebelum mereka manggung dan setengah darah Banjar, saya menyanyikan “Kada Kawa Kawan Ae” dan beberapa lagu mereka dengan semangat. Kekurangan mereka hanya satu: suara panting yang terdengar kurang kencang.

Lepas dihajar PMN, saya memilih ngaso di XYZ Stage dan menunggu penampilan Thee Marloes. Pilihan tepat, di jadwal yang tepat pula. Siang sudah minggat, panas Jakarta tak begitu terasa. Orang sudah menyemut di bibir panggung, sedangkan para personelnya berbaur dengan penonton. Saya melihat Natassya Sianturi, vokalis mereka, asyik menyapa para penonton.

Sore itu rasanya puas sekali menyaksikan Thee Marloes secara langsung untuk pertama kalinya. Mereka bermain rapih. Natassya bernyanyi seolah dia alergi nada fals. Lagu-lagu seperti “Saman Doye” milik The Black Brothers yang dijadikan pembuka, “Love Potion”, “Beri Cinta Waktu”, lagu baru “Logika”, dan tentu saja “Midnight Hotline”, dilibas dengan enteng belaka. Di balik keyboard, pesonanya berpendar bersamaan matahari yang mulai terbenam.

Selepas break Magrib, ini adalah waktunya Beni Satryo tampil.

Seharian, saya menyaksikan penyair lulusan Fakultas Filsafat UGM ini banyak merenung dan menyendiri sejak kami datang di venue. Ia memang sedikit kurang nyaman dengan keramaian. Kami memaklumi, membiarkannya diam dan tak bergairah, dengan kepala ditutup handuk warna putih sepanjang hari.

“Aku cuma pengen nonton Bhang Iwan aja hari ini,” katanya.

Bagi banyak jutaan manusia, Iwan memang manusia setengah dewa. Ia dihormati sekaligus dicintai, dianggap sebagai penyuara kaum-kaum terbungkam. Iwan juga berani melawan penguasa dengan kritik yang tajam tapi akrab bagi kaum akar rumput dan miskin kota.

Namun bagi Beni, kedekatan dengan Iwan adalah sesuatu yang personal. Beni menjadikan Iwan sebagai sosok ayah yang memberikan petuah hidup, bukan sebagai seorang pahlawan yang mengemban misi menyelamatkan hidup banyak orang. Ia mencontohkan “Nak”, yang terdengar seperti nasihat gagah baginya.

Duduk sini nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Karena itu, ia begitu ingin menjadi Iwan dengan caranya sendiri. Ketika kelas 2 SMP, Beni, yang masih dikenal dengan nama aslinya, Irfan Satryo Wicaksono, punya dua teman akrab dari Pondok Gede--nama daerah yang diabadikan jadi lagu “Ujung Aspal Pondok Gede”. Daerah ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang jadi basis OI terbesar di seluruh Indonesia.

Dengan dua karibnya ini, Beni mulai coba-coba jadi Iwan. Ia main gitar dan bernyanyi. Suatu hari temannya mengajak Beni menginap di terminal.

“Biar kayak ‘Berandal Malam di Bangku Terminal’,” ajak temannya bersemangat.

Beni mengangguk seperti kena hipnotis. Tapi dia anak yang lebih sayang ibunya ketimbang ajakan-ajakan menggoda khas remaja puber. Maka Beni berpamitan dan menjelaskan maksudnya: mau menginap di terminal biar seperti Iwan Fals.

“Aku diamuk,” kata Beni. “Dicaci langit, tak sanggup menjerit, hihihi” tambahnya, sembari mrenges.

Tahun 2003, dia dan teman-temannya jalan kaki dari Terminal Cileungsi menuju Taman Buah Mekarsari, sekitar tiga kilometer. Tujuannya: menonton Iwan Fals tampil. Sepanjang jalan, ada ratusan, atau bahkan ribuan OI yang juga jalan kaki dan saling menyapa. Sore itu, hati Beni penuh, ambrol karena rasa bahagia yang meluap. Itu konser pertamanya, dan sampai sekarang masih terus dikenang dengan manis.

“Di Mekarsari, Bhang Iwan menyanyikan ‘Kesaksian’ sebagai lagu terakhir. Semua keluarga diajak ke atas panggung. Raya masih bayi, digendong. Cikal juga masih remaja,” kenang Beni terharu.

Dua puluh tahun kemudian, rasa haru yang sama menampar-nampar Beni hingga air matanya menggenang di pelupuk. Ia yang seharian seperti kehabisan energi karena harus berada di lautan manusia, tak lagi peduli. Penuh antusiasme seorang berandal malam di bangku terminal yang pasrah menjilati awan hitam, dia merangsek ke depan.

Ada Iwan Fals, ada Sawung Jabo. Mereka yang melahirkan “Kesaksian”, “Bento”, hingga “Hio”. Di drum, Raya sudah bukan lagi bocah kecil yang digendong Mbak Yos. Ia dengan gape menjadi penjaga ritme bagi Iwan dan Jabo yang malam itu jadi bintang utama.

Orang bernyanyi dan menari seperti sebuah sekte ketika “Hio” dimainkan. Merasa seperti anak yang dibesarkan dengan kurang kasih sayang saat “Bongkar” dikumandangkan. Mereka lantas menjelma aktivis jalanan yang meledek para penguasa ketika “Bento” dimainkan.

Dan Beni Satryo kembali menjadi Irfan Wicaksono ketika “Kesaksian” menggema, memecah semua kesunyian yang sejak siang mengendap di kepala.

Orang orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan
Aku bernyanyi menjadi saksi

Beni seperti terbangun malam itu. Selesai Iwan Fals dan Sawung Jabo turun panggung, energinya masih penuh. Ia berceloteh hingga dini hari. Beni pernah berkata bahwa ketika twit-nya dibalas oleh Iwan, hidupnya sudah komplit. Namun panggung Iwan dan Jabo di Dynamic Stage malam itu, mengingatkan Beni akan dua cita-citanya yang belum terkabul hingga sekarang.

“Aku ingin ngasih buku puisiku. Terus keinginan terbesarku itu Bhang Iwan gitaran dan aku nyanyi ‘Lingkaran Keheningan’.”


Bagian 2: Beni Satryo dan Yogyakarta

Demi hari kedua, saya sengaja menumpang menginap di hotel bareng teman-teman Tirto.id yang juga liputan--Fifa Chazali, Beni, dan Zulkifli Songyanan. Tujuannya adalah datang sedini mungkin untuk menonton satu band keramat: Vox.

Tepat pukul 14.00, lima belas menit setelah pintu gerbang dibuka, saya sudah di depan panggung sayap kiri. Saya melihat wajah tak asing, Mohamad Zaki dan Farras Fauzi, dua sobat media yang berasal dari Surabaya.

Vox memang layak dirindukan. Saya pertama dan terakhir menonton mereka pada Juli 2012 di Rolling Stone Cafe (RIP). Tak lama setelah itu, meski satu dua kali manggung, mereka seperti tertelan kesibukan masing-masing.

Vega Antares jadi sumber daya andalan Republik Cinta dan jadi produser bagi banyak musisi, termasuk Bilal Indrajaya. Joseph Sudiro menjadi tenaga ahli di sebuah perusahaan minyak. Gabriel Mayo tetap main musik, begitu pula Donnie Setiohandono yang juga sempat membantu Silampukau.

Melihat mereka kembali di panggung, rasanya begitu menyenangkan. Ada aroma kuat nostalgia, terutama bagi para perantau Kota Buaya. Mulai dari “My Baby Blue”, “Menjadi Dewasa”, juga “Surabaya #1” mengundang koor massal sepanjang konser.

Kehadiran gitaris baru, Wahyu Sudiro (adik Joseph), membuat band ini terasa lebih solid sekaligus lebih segar. Walau tidak terlalu tampak bisa mengimbangi perang guyonan bapak-bapak antara Joseph dan Vega, Wahyu menjadi sosok sekufu bagi Vega perihal permainan gitar--termasuk duel akrobat gitar di tengah set.

Dari atas panggung, mereka juga mengumumkan akan segera merilis album kedua mereka yang sudah diperam belasan tahun. Teasernya dibawakan jadi lagu penutup: “Hidup Tak Selalu Bahagia”, yang sebenarnya sudah pernah beberapa kali dibawakan.

Sungguh sebuah album yang layak ditunggu!

Sebelum cerita fokus pada Beni, saya ingin mengatakan betapa pahala besar bakal dilimpahkan bagi para penyelenggara Synchronize Festival. Mereka paham bahwa kombinasi antara nostalgia, nama-nama naik daun, dan mereka yang sedang merintis jalan, akan memberikan kepuasan bagi banyak orang.

Di hari kedua dan ketiga, puas adalah sebuah understatement. Di Gigs Stage, saya dengan rela menjadi bantalan bagi mereka yang moshing dan stage diving demi bisa menonton Lips!! paling depan.

Dahsyat! Set mereka terhitung pendek, sebab hampir tiap lagu mereka berdurasi hanya sekitar dua menit. Tapi buset, stamina dan daya ledak mereka nyaris tak ada bandingan. Penonton juga menyambut dengan segala tingkahnya. MVP-nya tentu adalah mbak-mbak dengan kostum pisang--saya tak bisa membayangkan betapa panas kondisinya--yang diving dan moshing tanpa takut jadi pisang geprek.

Penampilan Lips!! malam itu mungkin jadi salah satu gigs terseru yang pernah saya tonton lima tahun terakhir.

Infografik Haru-Hura Synchronize fest 2023
Infografik Haru-Hura Synchronize fest 2023. tirto.id/Fuad


Malam itu, penampilan lain yang memukau adalah God Bless 50 Tahun. Setelah tirai dibuka, saya cuma bisa bengong melihat panggungnya. Megah! Kalau tak salah hitung, ada enam drum set yang dibuat jadi dua tingkat. Tiap kolaborator membawakan satu lagu God Bless yang diaransemen sesuai ciri musik mereka masing-masing. Visual tiap lagu juga terlihat memanjakan mata, apalagi dihadirkan via Jumbotron.

Saya kembali merinding membayangkan panggung Dynamic malam itu, apalagi ketika akhirnya God Bless muncul dan menyanyikan tiga lagu: “Ogut Suping”, “Semut Hitam”, dan “Rumah Kita”. Sebuah klimaks yang asoy sekali.

Namun bagi Beni, pemegang tahta hari kedua, si juara, sang kampiun, adalah KLa Project.

Mari kembali ke Yogyakarta. Almanak menunjukkan 2005. Beni masih jadi mahasiswa Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Ia optimis, meski sering tak tahu dia akan belajar apa di Fakultas Filsafat. Sing penting mahasiswa UGM, pikirnya.

Semester satu, dia belajar Tuhan itu benar ada atau tidak. Semester ketiga, Beni mulai memahami kenapa Machiavelli itu layak dijadikan panutan bagi para politisi. Semester sepuluh, Beni makin hobi garuk-garuk kepala. Semester 14, cita-citanya adalah jadi peternak lele.

Dalam periode mahasiswa baru hingga calon peternak lele sukses, Beni belajar menulis puisi. Jadi penonton musik setia. Suka joget dan berteriak “mainkan sastranya!”. Mencari uang dengan menjual puisi, seperti penjaja puisi di Danube yang ada di Before Sunrise. Hingga pernah ditasbihkan menjadi Pemimpin Redaksi Abadi di Lembaga Pers Mahasiswa Pijar.

Tanpa ia sadari, Yogyakarta pelan-pelan membawa banyak perubahan dalam dirinya. Ia jatuh cinta dengan kota ini, sekaligus patah hati. Sudahlah hati patah karena Yogyakarta, hatinya juga berserakan karena cinta. Remuk seremuk-remuknya. Ampun bossss, kata Beni tiap mengenang perasaan itu. Toh, dia tetap menjadikan ingatan akan perempuan itu sebagai rajah nomor tiga di kepalanya.

Dia lantas menggagas pameran yang terus dibicarakan sampai sekarang oleh banyak orang Yogyakarta: Pameran Patah Hati. Konsepnya segar: pengisi pamerannya akan memajang barang-barang peninggalan mantan. Saat itu istilah mantan, move on, dan nangis sembari divideokan, belum semarak. Beni mungkin salah satu yang mengawalinya.

Lepas dari pameran itu, Beni memutuskan minggat dari Yogyakarta.

“Buatku Jogja itu toxic. Harusnya, ketika kamu keluar dari sana, kamu bisa lebih mengembangkan dirimu, lebih menghargai dirimu. Karena Jogja itu kan, nggak hanya di sastra ya, juga di desain, di film. Ketika ada proyek yang misalnya di Jakarta harganya bisa ratusan juta, di Jogja cuma belasan juta. Tapi emang kotanya nyaman banget,” ujar Beni pada Kumparan, suatu ketika.

Maka saya tak heran ketika “Yogyakarta” dimainkan, kembali Beni mbrebes mili. Derajatnya berbeda dengan air mata untuk Iwan Fals dan Sawung Jabo. Ini terasa lebih personal, lebih nggrantes, dan tak bisa tidak, menarik Beni ke masa yang sebenarnya enggan ia kenang. Ampun bossss, isak Beni tiap ingat masa-masa itu lagi.

Lagu “Yogyakarta”, memang, dibawakan sesering apapun, di tengah banyak kritik terhadap Keraton atau UMR atau perkara sampah, tetap terdengar membius. Ia serupa klangenan, yang senantiasa menghadirkan perasaan hangat secara otomatis.

Iya, Yogyakarta tidak baik-baik saja. Semua paham itu, dan rasanya semua orang mendukung kota ini jadi lebih baik. Tapi ketika “Yogyakarta” dimainkan, yang terbayang di kepala ya Yogyakarta ala mooi indie. Hidup selo dan bersahaja, banyak makanan enak, diskusi budaya di mana-mana, begitu juga pentas musik, meski tak ada lagi orang duduk bersila karena sudah ditelan deru kota.

Sebelum “Yogyakarta” dimainkan, Beni tampak menikmati betul setlist Klakustik sore itu. Repertoar klasik dibawakan dengan apik. Mulai dari “Terpuruk Ku di Sini”, “Belahan Jiwa”, “Menjemput Impian”, hingga “Tak Bisa Ke Lain Hati” yang melahirkan istilah ikonik bulan merah jambu. Kami semua bernyanyi seperti dua bocah yang menyerahkan diri dengan sukarela dalam kubangan kenangan, pahit atau manis tak lagi penting.

Bagi Beni, mutlak rasanya, KLakustik adalah penampilan yang berkesan di sepanjang tiga hari Synchronize Festival 2023. Di hari pertama, Beni bersuka ria ketika Soneta manggung. Di hari kedua, Beni moshing pertama kalinya sejak mungkin belasan tahun silam, ketika Lips!! tampil. Sedangkan di hari ketiga, dia juga berjoget santai ketika The Coconuttreez tampil, dan jadi kordut (korak dangdut) ketika para Orkes Melayu naik di District Stage. Namun, sekali lagi, belum ada yang bisa mengalahkan dua raja yang dirajak di kepala hati Beni: Iwan Fals dan KLa Project.

“Buat aku, penampilan KLa Project itu adalah tentang sastra tinggi dan cerutu. Menikmati patah hati dengan gaya. Lagu 'Yogyakarta' ngga pernah bikin bosan meski dimainin sejuta kali. Makin membius. Bikin kangen disakiti,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait SYNCHRONIZE FEST 2023 atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight