15 Juli 1946

Belanda Kembali Menguasai Indonesia Timur dan Bertindak Brutal

Ilustrasi Mozaik Serah Terima Inggris-Belanda. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 15 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Setelah Jepang kalah, Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia timur.
Hubertus Johannes van Mook, Letnan Gubernur Jenderal untuk bekas wilayah Hindia Belanda, tiba di Makassar pada 14 Juli 1946. Perutusan dari daerah Kalimantan dan daerah-daerah lain di Indonesia timur juga datang ke Makassar. Mereka hendak menghadiri sebuah peristiwa bersejarah setelah Jepang angkat kaki.

Kala itu, bekas wilayah Hindia Belanda berada dalam kontrol dan wewenang tentara Sekutu: Inggris dan Australia. Tugas mereka salah satunya menjaga keamanan dan ketertiban.

Ketika Jepang masih berkuasa, Hindia Belanda dibagi menjadi tiga wilayah militer. Sumatra adalah wilayah dari Tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang ke-25 yang berkedudukan di Bukittinggi. Jawa wilayah Tentara Angkatan Darat Kekaisaran ke-16 yang berkedudukan di Jakarta. Sementara Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, serta Maluku dan sekitarnya merupakan wilayah Armada Selatan Ke-2 Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang berpusat di Makassar. Sampai tahun 1950, kawasan di sebelah timur Kalimantan dikenal sebagai Timur Besar.

Ketika Jepang kalah pada 1945, tentara Inggris dan Australia sebagai bagian dari Sekutu menguasai ketiga wilayah tersebut. Di Kalimantan sebelah timur dan kawasan Indonesia Timur lainnya tentara Australia berjuang mati-matian merebut daerah-daerah itu dari pendudukan Jepang yang sulit dikalahkan. Sementara tentara Belanda yang kacau balau dan tak dapat diandalkan.

Ketika van Mook tiba di Makassar, tentara Australia yang berada di Makassar dan sekitarnya telah digantikan oleh tentara Inggris.

Sikap Sekutu yang diwakili Inggris menguntungkan Belanda yang kontribusinya dalam Perang Pasifik tidak bisa dibanggakan. Pada masa-masa perang itu, dengan berdirinya Nederlandsch Indië Civiele Administratie (NICA), Belanda lebih sibuk mencari cara untuk menguasai kembali Hindia Belanda dengan memanfaatkan fasilitas dari Sekutu.

Posisi Belanda di sekitar Sulawesi Selatan, seperti dicatat Barbara Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII (1989:118), menjadi semakin kuat dengan dipindahkannya markas besar NICA dari Morotai ke Makassar. Belanda bahkan sempat melobi agar tanggungjawab kawasan ini diberikan kepada mereka ketika tentara Australia pulang ke negaranya. Namun, lobi itu ditolak dan Inggris mengirimkan Brigade ke-80 untuk menggantikan Australia.

Pada April 1946, NICA menangkap dan membuang Sam Ratulangi--Gubernur Sulawesi versi Republik Indonesia yang berkedudukan di Makassar—ke Serui, Papua.

Setelah tentara Jepang dilucuti dan ketertiban perlahan diusahakan oleh tentara Inggris dan Australia, maka tugas komando sekutu di Asia Tenggara alias South East Asia Command (SEAC) dianggap selesai.

Serah Terima dan Kekerasan

Sehari setelah van Mook tiba Makasaar, sebagaimana dicatat Ide Anak Agung Gde Agung dalam Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat (1985:97), di lapangan Karebosi dilangsungkan acara serah terima tanggung jawab pemerintahan dan keamanan seluruh wilayah Timur Besar (Indonesia Timur) dan Kalimantan, dari tentara Sekutu kepada Pemerintah Hindia Belanda yang diwakili van Mook.

“Dengan ini orang Inggris terbebas dari sebagian besar kewajibannya. Sedangkan Spoor mendapat kebebasan bertindak terhadap angkatan bersenjata Republik,” tulis Jaap de Moor dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015:257).




Setelah itu, Letnan Gubernur Jenderal van Mook bertindak cepat. Ia dan wakil-wakil daerah yang tidak terpengaruh Republik Indonesia di Jawa ramai-ramai keluar kota Makassar, menuju ke daerah yang lebih sejuk, yaitu ke distrik Malino di Kabupaten Gowa.

“Hari berikutnya dimulai konferensi di Malino,” tulis Harry Poeze dan kawan-kawan dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950 (2008). Konferensi tersebut bertujuan membentuk negara-negara bagian termasuk Negara Indonesia Timur (NIT).


Meski kekuasaan berpindah dari tentara Inggris ke Belanda, namun hal itu tak mengendurkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap NICA.

Di Indonesia Timur, saat itu kekuasaan militer berada di tangan Kolonel de Vries, yang hingga akhir 1946 kewalahan menghadapi gangguan keamanan. Kondisi tersebut membuat Spoor mendatangkan satu kompi pasukan khusus pimpinan Kapten Raymond Westerling. Pasukan ini kemudian melahirkan tragedi berdarah pembantaian rakyat Sulawesi Selatan.

Tanpa Inggris, KNIL dan NICA harus bekerja lebih keras menjaga daerah yang baru saja mereka kuasai kembali. Hal ini kemudian membuat militer Belanda bertindak lebih keras dan brutal terhadap rakyat Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight