Banjir Ponsel Cina di India yang Meresahkan

Reporter: Suhendra - 10 Jan 2017 15:19 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Negara mana yang tak khawatir dengan barang-barang Cina yang begitu masif menyerbu pasar? India salah satunya. Masifnya produk ponsel pintar buatan Cina di Negeri Hindustan di akhir tahun lalu mulai meresahkan. Muncul ajakan untuk boikot.
tirto.id - "Please take a Oath, not to use Chinese goods .....
Ban Chinese things ... Save our country...."

Pesan ajakan memboikot produk Cina semacam ini sempat ramai di India Oktober tahun lalu. Luapan keresahan yang berisi uneg-uneg soal dukungan Cina pada Pakistan, masalah perbatasan kedua negara, hingga cengkeraman bisnis Cina di pasar India.

Serbuan produk Cina di pasar India ini bisa terlihat dari segmen produk ponsel pintar atau smartphone. Huffingtonpost India pernah membuat daftar 19 ponsel Cina yang mengisi pasar India. Jumlah ini jelas jauh dibandingkan dengan ponsel-ponsel lokal yang bisa dihitung dengan jumlah jari antaralain Micromax, Karbonn, Lava, I-Ball, dan Celkon.


Ponsel Cina dengan beragam merek ini berhasil mengambil pangsa pasar yang signifikan di India dari strategi penjualan offline maupun online. Berdasarkan laporan survei terbaru International Data Corporation (IDC), penjualan ponsel di 30 kota di India tumbuh 20,4 persen pada triwulan III-2016. Kontribusi peningkatan ini ditopang dari ponsel Cina seperti yang terjadi pada saat hari perayaan hari besar di India Agustus-Oktober, yang mendorong 40 persen penjualan ponsel tahunan di India.

"Jumlah pangsa pasarnya lebih dari 40 persen di 30 kota selama perayaan Diwali (Oktober), terutama ditopang dari produk 4G. Oppo dan Vivo secara kontinyu menggoyang pasar dengan kualitas yang superior, dan secara masif membangun pemasaran," kata Senior Market Analyst IDC India, Upasana Joshi.

Survei IDC itu juga mengungkapkan Samsung masih merajai pasar dari seluruh merek ponsel di India pada Oktober yang mencapai 26,1 persen, disusul oleh produk Lenovo yang hanya 13,4 persen, Xiaomi mengambil pasar 10,7 persen. Sedangkan produk lokal seperti Micromax hanya 6,8 persen, dan Intex cukup puas di angka 5,3 persen.

Survei lainnya menunjukkan angka yang lebih fantastis. Booming ponsel Cina di India, telah menguasai pangsa pasar 51 persen pada November 2016. Berdasarkan Counterpoint Research, pangsa pasar ponsel lokal India jatuh, sedangkan ponsel Cina justru sebaliknya.

“Ini untuk kali pertama merek ponsel Cina secara total mencapai pangsa pasar 51 persen, hasilnya pasar merek ponsel India jatuh di bawah 20 persen, dari puncaknya di awal tahun sebesar 40 persen. Di beberapa bulan telah mengalami pergeseran, yang mana menunjukkan volatilitas pasar ponsel pintar di India,” kata Direktur Riset Counterpoint Research Neil Shah, yang berbasis di Hong Kong, dikutip dari businessinsider.in.

Padahal pada September 2016, pangsa pasar ponsel lokal India masih menguasai 34 persen, bersanding dengan ponsel non Cina seperti Samsung dan Apple dengan pangsa pasar 32 persen. Produk ponsel Cina mampu perkasa dalam rentang harga $75-200. Sementara itu, merek lokal seperti Micromax dan Intex harus berjuang di segmen bawah pada rentang harga $90 yang pasarnya datar di India, dan mengandalkan penjualan transaksi secara tunai. Ini tentu perlu segera dijawab oleh pembuat ponsel lokal India.

“Ini tidak baik bagi India, ketika pemerintah Cina mendukung perusahaannya masuk ke pasar India, dan menjual ponsel pintar mereka. Menurut saya, ini jadi tantangan bagi perusahaan ponsel India,” kata Managing Director Karbonn Mobiles Pradeep Jain.

INFOGRAFIK Handphone Cina di India


Masuknya ponsel pintar Cina ke India bukan tanpa alasan. Tahun lalu Forbes membuat tulisan yang berjudul “Why Chinese Smartphone Giants Need India”. Analisanya sederhana saja, pada 2011 pengguna ponsel di Cina hanya 16,6 persen dari total penduduk mereka. Namun, tahun lalu jumlah pengguna sudah naik jadi 45,5 persen atau 560 juta orang di Cina, telah melek dengan ponsel. Dari kondisi ini, diperkirakan dua tahun ke depan pasar ponsel di Cina akan melambat dengan pertumbuhan hanya 5 persen, tak seperti yang terjadi pada 2011 dan 2012 lalu.

Nah, produsen Cina mencoba mencari jawaban, dengan menggarap pasar India yang punya 1 miliar lebih penduduk. Pada 2015, pengiriman ponsel ke India mencapai 100 juta unit, ini menempatkan India sebagai pasar terbesar kedua setelah Cina, bahkan menyalip AS yang sebelumnya di posisi kedua. IDC mencatat triwulan III-2016 ada 363,2 juta unit pengiriman ponsel pintar di seluruh dunia atau naik 5,2 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Pemimpin pasar masih didominasi oleh Samsung yang menguasai 21 persen, disusul Apple 12,5 persen, selebihnya ponsel Cina seperti Huawei, Oppo, dan Vivo yang ketiganya menguasai 22 persen.

Penetrasi ponsel Cina yang masif secara global, juga khususnya di India, membuat pemerintah setempat mengambil langkah antisipasi dengan melakukan hambatan perdagangan non tarif. Sebelum adanya survei-survei “hujan” ponsel Cina di India, pada April lalu pemerintah India melakukan pengetatan impor ponsel Cina ke negaranya untuk ponsel yang tak memiliki International Mobile Station Equipment Identity (IMEI) sebagai fitur keamanan, bersamaan pengetatan impor susu dari Cina.

Namun, apapun alasannya, India memang mengalami defisit perdagangan dengan Cina, selama April 2015-Februari 2016, mereka tekor berdagang dengan Cina hingga $48,68 miliar.

“Defisit perdagangan dengan Cina disebabkan karena ekspor Cina begitu kuat untuk produk manufaktur yang permintaan berkembang pesat seperti telekomunikasi dan listrik, sedangkan India ekspor ke Cina pada produk menengah,” kata Menteri Perdagangan India Nirmala Sitharaman seperti dikutip dari laman dnaindia.com.

Cina dan India merupakan dua raksasa ekonomi. Pada 2008 lalu, Cina, India, dan Indonesia, masih mampu tumbuh positif di tengah krisis global. Ponsel pintar hanya contoh kecil dari pertarungan kedua raksasa, dan yang menarik, penentunya adalah rakyatnya sendiri. Para konsumen ponsel di India yang lebih kepincut dengan barang impor asal Cina daripada lokal, setidaknya dalam konteks hingga akhir tahun lalu.

Medio 1990-an, penyanyi kawakan India, Alisha Chinoy dengan lagu made in India "meledak" hingga sampai ke kuping-kuping orang Indonesia. Lagu made in India memang tak ada urusannya dengan ponsel Cina atau barang impor lainnya, tapi bisa menggambarkan pada waktu itu bagaimana orang India cintanya dengan “produk” lokal, sampai-sampai memilih pasangan pun yang penting dari lokal India, meski sudah banyak melihat dunia luar dari Jepang, Rusia, Australia, hingga Amerika.

Dekhi hai saari duniya, Japan se leke Russia
Australia se leke America
Dekha hai pyaar ka sapna, dil chaahe koi apna
Mil jaaye gar ek saathiya, ek desiya
Made in India, made in India
Ek dil chaahiye that's made in India
O ho ho ho made in India, ek pyaara soniya
Ek dil chaahiye that's made in India

Saat lagu itu populer, Cina memang belum ada apa-apanya, belum jadi raksasa ekonomi dunia. Kini, bila ada single baru lagu India, barangkali "sang naga" layak disebut-sebut, karena mampu menghujani pasar ponsel di Negeri Hindustan.

Baca juga artikel terkait PONSEL CINA atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight