Menuju konten utama

Bali Ramai di Akhir Lebaran: Wisatawan Domestik Ambil Alih

Berbagai destinasi wisata di Bali mengalami peningkatan kunjungan signifikan, bahkan ada yang lebih dari 10 kali lipat dibanding hari biasa.

Bali Ramai di Akhir Lebaran: Wisatawan Domestik Ambil Alih
Potret objek wisata Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/03/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

tirto.id - Momen libur Lebaran bagi sebagian wisatawan domestik jadi kesempatan untuk berlibur, tak hanya ke kampung halaman tapi juga ke kota lain dalam negeri. Fenomena ini terlihat setidaknya di Pulau Dewata, Bali.

Meskipun kunjungan wisatawan mancanegara masih berada dalam tingkat yang lebih rendah akibat low season, tempat-tempat wisata di Bali, sepanjang periode akhir Maret 2026, mencatat lonjakan angka yang signifikan dibandingkan hari libur biasa.

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, melihat arus balik Lebaran terjadi bersamaan dengan bertambahnya jumlah wisatawan yang akan berlibur di Bali. Pada tempat-tempat wisata di Indonesia, khususnya di Bali, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan domestik sebesar 1,49 persen.

“Kita minta untuk mempersiapkan, utamanya Ketapang, karena akan terjadi arus balik yang mengarah ke Bali untuk bekerja. Tetapi di sisi lain juga kemungkinan akan ada tambahan wisatawan yang masih belum selesai. Ini menjadi bagian yang harus kita amankan,” kata Sigit ketika berada di 91 Command Center ITDC, Nusa Dua, Bali, Selasa (24/03/2026).

Pernyataan Kapolri tersebut tercermin dari kondisi di destinasi wisata, seperti Tanah Lot. Terpantau pada Rabu (25/03/2026), objek wisata di lepas pantai Desa Beraban, Tabanan, itu masih dikerumuni pengunjung yang berbondong-bondong menanti matahari terbenam (sunset) dan menikmati debur ombak yang menghantam bebatuan.

Newsplus Lonjakan Wisatawan Domestik di Bali

Potret objek wisata Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/03/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Salah satunya Ani (42) yang berasal dari Semarang. Ani pernah berkunjung ke Bali pada tahun 2025, tetapi memutuskan untuk kembali lagi bersama keluarganya setelah mendapat jatah libur Lebaran tahun ini. Selain pergi ke Tanah Lot, Ani sempat berkunjung ke Ubud, Bali Zoo, dan Nuanu.

“Ini sudah hari ketiga saya berada di Bali. Paling istimewa pemandangannya, karena apa yang tidak ada di Semarang, ada di sini. Lautnya beda dengan yang ada di Semarang, kalau di sini lautnya membuat saya tenang,” kata Ani ketika bertemu dengan kontributor Tirto di Tanah Lot, Rabu (25/03/2026).

Serupa dengan Ani, Angel (18) dan Celyn (12) yang berasal dari Jakarta juga memutuskan untuk pergi ke Tanah Lot pada libur panjang kali ini. Setelah mendapatkan cuti dari tempat kerja, keluarga Angel memutuskan pergi ke Bali untuk mengunjungi anak perempuan yang sedang berkuliah di Universitas Udayana itu.

“Keluarga dalam rangka libur, lagi cuti. Cutinya sambil ke Bali karena saya kuliah di sini. Saya membawa keluarga pergi ke Tanah Lot karena mau lihat pura dan ombak-ombak. Saya senang karena Bali itu ada banyak pemandangan,” ungkap Angel.

Perjalanan ini adalah kunjungan kedua dari keluarga tersebut ke Tanah Lot. Namun, dalam kunjungan kedua tersebut, mereka merasa lebih menikmati karena ombak di sana yang sudah melandai. Melihat kondisi ombak yang bersahabat tersebut, mereka memutuskan untuk mengunjungi beberapa lokasi foto, seperti batu karang di tepi pantai.

Tidak hanya wisatawan yang merasakan kebahagiaan ketika mengunjungi tempat wisata di Bali. Wayan Sugiama (34), yang berprofesi sebagai fotografer di Tanah Lot, juga merasakan tambahan rezeki ketika musim libur tiba. Menurut Sugi, meskipun banyak tempat wisata baru yang bermunculan di Bali, Tanah Lot tetap menjadi destinasi yang ramai.

“Setelah Nyepi kemarin itu, mulai tinggi kunjungan wisatawan domestik. Mulai ada yang datang dari Jawa. Kalau wisatawan internasional, biasanya pada bulan Juni, Juli, atau Agustus. Kalau sekarang, karena musim liburan dan cuti bersama, ini yang domestik banyak,” kata Sugi di sela pekerjaannya.

Newsplus Lonjakan Wisatawan Domestik di Bali

Potret objek wisata Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/03/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Sugi telah bekerja sebagai fotografer dan pengurus daya tarik wisata Tanah Lot selama 15 tahun. Bersama dengan Sugi, terdapat kurang lebih 120 fotografer aktif yang mengais pundi-pundi di objek wisata Kabupaten Tabanan tersebut. Oleh para fotografer, satu bingkai foto cetak dibanderol Rp20.000.

“Kalau pendapatan mungkin memang tidak menentu, seperti kita berdagang. Namun, biasanya dapat dari pengunjung objek wisata Tanah Lot yang tidak membawa ponsel atau kamera untuk mengabadikan momennya di sini,” tambahnya.

Angka Kunjungan di Sejumlah Objek Wisata Bali Meningkat Tajam

Manajer Daya Tarik Wisata Tanah Lot, Wayan Sudiana, mengungkap kunjungan harian wisatawan ke Tanah Lot menembus lebih dari 4.000 orang dengan didominasi oleh wisatawan domestik. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan rata-rata kunjungan normal yang berada di angka 1.500 orang per hari.

Jumlah wisatawan domestik yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh momentum libur panjang keagamaan dan cuti bersama yang dimanfaatkan wisatawan untuk berlibur bersama dengan keluarga atau sanak saudara.

Meskipun demikian, terlihat penurunan jumlah wisatawan dari kawasan Timur Tengah akibat dinamika global.

Newsplus Lonjakan Wisatawan Domestik di Bali

Potret objek wisata Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/03/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Tidak hanya Tanah Lot saja yang dipadati wisatawan. Kebun Raya Bali, yang terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, juga melaporkan kenaikan angka wisatawan selama libur Lebaran 2026. Objek wisata Kebun Raya Bali tersebut menawarkan pemandangan alam pegunungan sekaligus pembelajaran Botani.

Selama libur panjang, rata-rata kunjungan ke Kebun Raya Bali berada di kisaran 4.000 hingga 5.000 orang per hari. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan hari biasa yang hanya mencatatkan 400 hingga 500 pengunjung per hari. Dibandingkan dengan tahun 2025, angka tersebut meningkat 40 persen.

Salah satu aktivitas yang disajikan selama momentum libur panjang oleh Kebun Raya Bali adalah bazar ‘Poelang Kampoeng’. Bazar tersebut diadakan untuk mengobati kerinduan pengunjung akan kampung halaman, terlebih untuk mereka yang tidak dapat melaksanakan mudik di tahun ini.

“Aktivasi kegiatan ini dirancang untuk mendorong kunjungan ke Kebun Raya pada periode setelah Lebaran, sekaligus meningkatkan kualitas waktu kunjungan pengunjung. Program ini bertujuan untuk menghidupkan suasana Kebun Raya dengan rangkaian aktivitas yang berkesan dan dikenang pengunjung,” kata Senior Manager Operasional PT Mitra Natura Raya, Afandika Akbar Utama.

Newsplus Lonjakan Wisatawan Domestik di Bali

Situasi Kebun Raya Bali yang terletak di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, ketika adanya aktivasi wisata Poelang Kampoeng, Minggu (22/03/2026). Foto: Humas Kebun Raya Bali

Objek Desa Wisata Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli mengalami peningkatan kunjungan wisatawan. Manager Daya Tarik Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiasa, menjelaskan kenaikan kunjungan wisatawan terlihat sejak awal libur Lebaran pada 17 Maret 2026 dan setelah Nyepi pada 21 Maret 2026.

“Hari biasa sebanyak 2.000 wisatawan, sedangkan untuk libur panjang ada di kisaran rata-rata 3.714 wisatawan atau meningkat 98,82 persen,” kata Sumiasa ketika dihubungi Tirto, Senin (23/03/2026).

Pengunjung sepanjang Maret 2026 di Desa Penglipuran didominasi oleh wisatawan domestik, yakni 18.713 orang, sementara wisatawan mancanegara adalah sebanyak 5.098 orang. Kunjungan tersebut diproyeksikan akan terus meningkat hingga akhir dari libur Lebaran pada Minggu (29/03/2026).

Di Kabupaten Gianyar, kunjungan ke Bali Zoo juga mengalami peningkatan yang signifikan setelah libur Nyepi, yakni pada 20 hingga 23 Maret 2026. Peningkatan tersebut terlihat dari angka kunjungan yang biasanya berada di rentang 800 hingga 1.200 orang per hari menjadi lebih dari 2.000 kunjungan per hari.

“Peningkatan ini didominasi oleh wisatawan domestik, termasuk pengunjung lokal Bali, serta wisatawan mancanegara yang turut memanfaatkan momen liburan untuk berkunjung ke Bali Zoo,” kata Kepala Bidang Humas Bali Zoo, Emma Kristiana Chandra, ketika dihubungi pada Senin.

Salah satu aktivasi yang diluncurkan oleh Bali Zoo adalah berinteraksi dengan satwa kapibara (Hydrochoerus hydrochaeris) yang viral dengan sebutan ‘Mas Bro’. Bali Zoo memiliki masing-masing tiga ekor kapibara jantan dan betina yang ditempatkan di dekat Kafe Capy agar pengunjung dapat melihat hewan tersebut sambil menyantap hidangan.

Kunjungan Wisatawan Alami Peningkatan Setelah Nyepi

Kunjungan wisatawan domestik setelah Nyepi mengalami kenaikan sampai dengan 6 persen. Menurut Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Bali, I Made Mendra Astawa, hal tersebut tidak lepas karena wisatawan ingin menikmati suasana baru setelah Nyepi. Pada hari Ngembak Geni atau satu hari setelah Nyepi, wisatawan mulai melakukan perjalanan di beberapa destinasi wisata.

“Mungkin yang sangat signifikan kunjungannya yaitu ke Penglipuran, Jatiluwih, dan Tenganan, itu tinggi sekali kunjungannya. Boleh dikatakan, ada kenaikan rata-rata kunjungan sekitar 50 persen dari kunjungan normal,” terang Mendra kepada Kontributor Sandra Gisela yang melaporkan untuk Tirto, Kamis (26/03/2026).

Berdasarkan pengamatan dari Forum Komunikasi Desa Wisata Bali, wisatawan yang masuk ke destinasi wisata tersebut berkisar antara 3.000 hingga 4.000 pengunjung per hari. Mereka mengatakan, wisatawan cenderung mencari hidden gem dan sesuatu yang berbeda di Bali, seperti Penglipuran yang merupakan salah satu desa terbesar di ASEAN dan Jatiluwih sebagai destinasi terindah.

Newsplus Lonjakan Wisatawan Domestik di Bali

Potret objek wisata Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/03/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Mendra merinci, terdapat 243 desa wisata di Bali yang masing-masing menyajikan keunikannya tersendiri. Namun, terdapat perbedaan karakteristik antara wisatawan domestik dan internasional dalam mencari tempat wisata.

Wisatawan domestik cenderung pergi ke tempat yang viral, sementara wisatawan mancanegara mencari sesuatu yang baru dan tidak terlalu ramai.

Wisatawan yang masuk ke Bali pada periode Lebaran secara dominan adalah wisatawan domestik. Hal tersebut disebabkan karena kunjungan wisatawan internasional baru menanjak pada bulan April. Peningkatan kunjungan wisatawan pada momentum Lebaran mengisi kekosongan Bali di triwulan pertama (Januari hingga Maret) yang umumnya low season.

“Saat Lebaran, terjadi overflow kunjungan wisatawan, padahal Bali di Januari ke Maret adalah low season. Namun, tahun ini terlihat kembali kepada tahun sebelum pandemi, sehingga perputaran [ekonomi] di Bali tidak begitu bagus. Sekarang kita berharap pemerintah bisa membuka keran kembali, bagaimana pun Bali adalah jendela Indonesia untuk memperkenalkan pariwisata,” jelasnya.

Wisatawan domestik yang masuk ke Bali pada periode libur Lebaran dominan berasal dari Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Wisatawan tersebut mulai menggemari tren berwisata dari desa ke desa, sebab Bali memiliki karakteristik tempat wisata yang saling berdekatan satu sama lain.

“Ketika turun dari Gilimanuk, mereka sudah bertemu dengan beberapa desa wisata. Ada desa wisata yang berbasis kampung Nasrani, itu banyak sekali terjadi kunjungan-kunjungan pilgrim trip dan edukasi. Demikian juga di Tabanan, ada yang namanya Desa Pinge yang mengembangkan budaya pertanian dalam konsep rumah. Ketika ada tamu, mereka memberikan pelayanan,” ungkap Mendra.

Selain itu, menurut Mendra, tren wisatawan pada tahun ini juga bergeser untuk melihat way of life atau cara hidup orang Bali. Ketika pergi ke tempat wisata seperti itu, wisatawan akan disuguhkan beberapa aktivasi wisata lokal, seperti kuliner khas di kampung, tempat pemandian atau pemelukatan, serta air terjun yang masih alami.

“Bali masih sering dikunjungi wisatawan karena masyarakat Bali menerima orang banyak datang. Namun, yang harus dipikirkan adalah bagaimana menciptakan rasa aman, tertib, indah, dan bersih, yang menjadi kenangan orang datang. Itu tentu akan menjadi daya tarik dan wisatawan akan mengatakan mereka akan datang kembali ke Bali,” imbuhnya.

Melihat trennya, lonjakan kunjungan wisatawan dalam negeri ke Bali memang kerap terjadi pada momen Lebaran. Pada tahun 2019, 2022, 2024, dan 2025, kunjungan wisatawan domestik di sekitar momen Hari Raya Idul Fitri bahkan lebih tinggi dibanding momen akhir tahun.

Perang Timur Tengah Tidak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Selain momentum libur Lebaran, sorotan juga tertuju pada perang yang masih berkecamuk di Timur Tengah. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat terdapat 377 penerbangan yang dibatalkan dan 50.000 penumpang yang tidak bisa datang ke Indonesia. Meskipun demikian, Bali masih dipadati wisatawan yang ingin menghabiskan waktunya untuk berlibur.

“Kami melihat di masa Lebaran ini, ada peningkatan kunjungan sebesar 3,5 persen peningkatannya dibandingkan masa Lebaran tahun lalu. Walaupun dalam keadaan situasi di Timur Tengah yang tidak menentu, tetapi trennya kami mendapatkan peningkatan 3,5 persen. Begitu juga okupansi hotel ada di angka 60 hingga 65 persen saat ini,” ungkap Menteri Pariwisata, Widianti Putri Wardhana, ketika berkunjung ke Bali Safari and Marine Park, Rabu (25/03/2026).

Wisatawan di Bali Safari and Marine Park, tempat Menteri Pariwisata melakukan kunjungan, juga dilaporkan mengalami peningkatan selama masa liburan. Widianti mengungkap, jumlah wisatawan di lembaga konservasi satwa tersebut berkisar antara 2.000 hingga 5.000 wisatawan di masa puncak (peak period).

“Jadi image Bali tetap terjaga dan tentunya kita tahu, Bali adalah destinasi yang aman dari semua gejolak yang ada di Timur Tengah. Ini destinasi yang menarik dan aman. Kami juga akan membuat strategi untuk meningkatkan konektivitas di negara-negara terdekat kita, memperbanyak promosi dengan meningkatkan event di perbatasan juga,” beber Widianti.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Bali, I Wayan Sumarajaya, menyambut positif tren kedatangan wisatawan yang meningkat tersebut. Dinas Pariwisata Provinsi Bali memiliki target 6,9 juta wisatawan per tahun untuk masuk ke Pulau Dewata.

Selain keberadaan wisatawan domestik yang mendongkrak perputaran ekonomi di sektor pariwisata pada momentum libur Lebaran, Sumarajaya melihat pangsa pasar pariwisata Bali masih didominasi oleh Australia, India, Cina, dan Korea Selatan, sehingga kondisi perang di Timur Tengah tidak berpengaruh signifikan terhadap pariwisata Bali.

“Saya memang melihat dalam liburan ini, terutama wisatawan Nusantara, memang cukup membeludak untuk di Bali. Ini suatu hal yang positif bagi kita, mudah-mudahan ini bisa berlanjut pada bulan-bulan berikutnya walaupun kita masih ada di low season,” terang Sumarajaya.

Baca juga artikel terkait WISATAWAN DOMESTIK atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Reporter: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Alfons Yoshio Hartanto