Bahagia Bersama Pacar Virtual

Gatebox Virtual Home Robot dijadikan sebagai teman, asisten, dan pacar virtual oleh pemuda di Jepang. FOTO/Istimewa
Oleh: Arman Dhani - 3 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Relasi fisik dalam mendapatkan afeksi kini bukan prioritas, bagaimana romansa di masa depan?
Theodore Twombly adalah seorang pekerja keras yang memiliki pekerjaan mapan namun kesepian, ia nyaris memiliki segalanya, tapi semua itu tidak membuat Theo bahagia. Ia mengalami depresi dan tak mampu menjalin relasi personal dengan banyak orang. Ia seorang introvert, berkomunikasi dengan orang asing adalah hal yang tak mudah dilakukan.

Suatu hari, ia memutuskan membeli operating system (OS) dengan kecerdasan buatan yang didesain untuk bisa beradaptasi dan berkembang dengan interaksi pemiliknya. OS itu dilengkapi dengan administrator bersuara perempuan. Ia menamai OS itu sebagai Samantha.

Terpukau dengan kemampuan Samantha yang bisa belajar, berkembang, dan memahami kebutuhannya, Theodore merasakan sesuatu yang berbeda. Samantha, berbeda dengan mantan istri Theodore, selalu ada, peduli, tidak menuntut, dan kerap memberikan jalan keluar saat ia merasa tertekan. Theodore menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan sistem operasi komputer dengan kecerdasan buatan. Ini adalah inti film drama futuristik berjudul Her yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix dan Scarlett Johansson.

Namun, bisakah manusia memiliki relasi dengan sesuatu yang tidak nyata? Bagaimana jika kamu kesepian, membutuhkan afeksi, tetapi terlalu kikuk untuk memulai hubungan?

Teknologi dan kecerdasan manusia untuk mengakali kebutuhan personal tadi dengan melahirkan sebuah permainan digital. Di Jepang, orang-orang yang kesepian dan membutuhkan interaksi mendapatkan pemenuhan kebutuhan afeksi dari game. Mereka tak perlu bertemu dengan manusia dan bisa mendapatkan cinta dari layar ponsel belaka.

Sebuah perusahan di Jepang bernama Vinclu, saat ini memproduksi sebuah sistem operasi pengelola rumah yang digerakan oleh kecerdasan buatan. Sistem operasi ini mirip dengan JARVIS dalam film Iron Man. Bedanya, sistem operasi yang disebut sebagai Gatebox, akan dilengkapi dengan sebuah karakter anime holografik.

Produk ini akan dijual dengan nilai 321.840 yen atau sekitar $2.700. Ia ditargetkan untuk laki-laki kelas pekerja kesepian atau penggemar anime kelas berat yang ingin hidup bersama karakter anime favorit mereka.

Vinclu sebagai penyedia jasa dan pembuat sistem ini berencana membuat beberapa kepribadian. Gatebox diharapkan akan memiliki layanan dengan cerita, bukan sekadar produk teknologi dengan kecerdasan buatan. Gatebox berinteraksi dengan pemiliknya melalui suara dengan persona karakter animasi sebagai representasi OS.

Ia akan bisa mengirim pesan suara dan gambar kepada tuannya jika tidak sedang berada di rumah. Interaksi antara tuan dan sistem ini akan sangat intim seperti sepasang kekasih. Relasi yang bagi sebagian orang susah didapat dengan manusia nyata.

Karakter pertama yang dikembangkan adalah Azuma Hikari, yang didefinisikan sebagai “karakter perempuan yang mengayomi cocok untuk mereka yang hidup sendiri." Situs Gatebox mengklaim bahwa Azuma akan “melakukan apapun untuk pemiliknya.” Ini tentu akan membuat siapapun tergoda. Karakter ini suaranya diisi oleh Yuka Hiuamizu, karakter ini memiliki kisahnya tersendiri yang dijelaskan melalui manga melalui situs resmi Gatebox.

Apakah teknologi ini hanya untuk laki-laki saja? Tentu saja tidak.

CNN pernah menurunkan laporan tentang fenomena pacar virtual yang sedang merebak di kalangan perempuan milenial Jepang. Ayumi Saito yang baru berusia 22 tahun saat putus dengan pacarnya merasa sedih. Ayumi lantas mengunduh romance gaming atau gim romantis yang memiliki interaksi personal antara pengguna dan karakter dalam permainan itu. Di Jepang, ini adalah fenomena yang biasa. Jutaan orang mengunduh gim serupa untuk mengisi waktu atau mengisi kekosongan afeksi yang mereka rasakan.

Ada banyak alasan mengapa orang-orang Jepang susah mendapatkan pacar atau kurang suka dengan interaksi personal. Dalam wawancara bersama CNN, Saito yang saat ini berusia 31 tahun mengungkapkan bahwa pria jepang sangat pemalu dan tidak piawai membuat perempuan senang. Gim yang dimainkan Saito berjudul Metro PD: Close To You yang menggambarkan karakter detektif perempuan dalam usahanya memecahkan kasus kejahatan. Dalam permainan itu si detektif akan memulai hubungan romantik dengan partnernya.



Apa yang membuat gim romansa semacam ini digemari? Dalam permainan itu karakter yang ada akan memberikan afeksi secara cuma-cuma. Seperti ucapan “aku sayang kamu”, kepedulian dan sikap melindungi. Meski semua hanya virtual dan fana, tetapi mendapatkan perhatian semacam ini bisa jadi sangat berarti bagi mereka yang kesepian. Industri gim romantis bukan sekedar menjual romansa kosong, ia memiliki pengguna setia yang terus bertambah.

Pada 2014 nilai industri gim romantis mencapai 130 juta dolar, dengan jumlah populasi mencapai 44,2 persen, perempuan lajang Jepang yang berusia sekitar 18-34 tahun masih banyak. Gim ini tidak hanya memenuhi kebutuhan afeksi, tapi juga intimasi antar personal yang tidak bisa dipenuhi oleh manusia biasa. Dalam sejarahnya, gim romantis dengan konsep kencan ini lahir pada 1980.

Mulanya, karakter utama adalah laki-laki yang mengejar karakter perempuan. Pada 1994 perisahaan gim Jepang Koei memutuskan tradisi itu dengan membuat gim romansa pertama untuk perempuan berjudul Angelique.

Pebisnis asal Jepang Nanako Higasji dan suaminya, Yuzi Tsutani, melihat peluang pasar ini dan memanfaatkan euforia industri gim Jepang dengan baik. Perusahaannya Voltage, menjadi salah satu studio gim terkemuka dunia dalam hal permainan interaksi romantis berbasis ponsel. Saat ini Voltage telah membuat 88 gim dengan tema percintaan untuk perempuan dan telah dimainkan lebih dari 50 juta pengguna. Industri gim Jepang merupakan kedua terbesar di dunia. Berdasarkan laporan dari Global Games Market Report industri gim ponsel Jepang meraih pendapatan senilai 6,5 miliar dolar.

Apa yang membuat para perempuan Jepang demikian sayang dan jatuh cinta dengan karakter gim mereka? Ini disebabkan karakter gim tadi bisa berinteraksi layaknya pacar manusia. Mereka akan memberimu pesan, mengingatkan janji berkencan, dan interaksi lain yang kadang tidak didapatkan dari pacar manusia. Manusia-manusia urban yang terasing dari interaksi manusia, menemukan kedamaian dan pesona dari pacar virtual yang mampu memenuhi kebutuhan afeksi secara tuntas.

Seorang profesor diplomasi publik dari Kyoto University, Nancy Snow, mengungkapkan bahwa perubahan norma sosial berpengaruh pada penurunan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Berkurangnya pendapatan membuat kaum Adam di Jepang merasa kurang percaya diri untuk menarik perhatian perempuan. Terutama saat ingin mendekati perempuan karir atau yang sudah mapan secara finansial.

Sementara, perempuan Jepang menilai hidup sendiri atau tanpa pasangan hidup jauh lebih bermanfaat. Terutama bagi perempuan yang sedang berkarir. Bagi kaum Hawa di Jepang, menikah adalah “kuburan” bagi karir mereka. Karir yang sudah susah payah dibangun sejak awal bisa hancur karena sebuah keputusan untuk menikah. Gim romantik ini menghadirkan kebutuhan yang mungkin tak bisa dipenuhi oleh manusia tadi.

Pacar virtual memiliki kelebihan seperti ia tak akan memukul anda, mengecewakan anda melalui kata-kata kasar, atau meninggalkan anda saat sayang-sayangnya. Pacar virtual juga tidak akan peduli agama atau suku anda apa. Karena pacar virtual selalu memenuhi kebutuhan anda tanpa pandang bulu.

Baca juga artikel terkait KEKASIH VIRTUAL atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight