Bagi Orang Jepang, Menghilang Kadang Lebih Baik daripada Bunuh Diri

Ilustrasi Pria termenung di bangku kayu. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 3 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Orang-orang Jepang memutuskan untuk menghilang dan memulai hidup baru lantaran tak kuat dipaksa hidup sesuai standar norma sosial di masyarakat.
tirto.id - Pemerintah Jepang menganaktirikan Sanya, sebuah area yang pernah menjadi bagian dari Tokyo, namun diabaikan sejak 1960an karena identik dengan kemiskinan, kejahatan, pengangguran, dan kematian. Sanya menghilang dari peta Tokyo.

Pada 2009, Laura Liverani dari Japan Today mencatat bahwa petunjuk jalan yang paling lumrah ditemukan di Sanya adalah kalimat “Pengemudi diharap berhati-hati terhadap para pejalan kaki yang berjalan atau tidur di trotoar.”

Laporan itu menggambarkan sebagian orang tidur di pinggir jalan karena mabuk. Menurut pandangan mata Liverani, Sanya adalah kota mati yang terasa depresif. Penduduknya adalah lansia, wisatawan yang mencari harga super murah, dan siswa yang berasal dari luar Jepang.

“Kalau kamu bertanya letak Sanya ke orang-orang Tokyo, mereka tidak akan memberitahu kamu dengan terang-terangan,” tulis Liverani.

Pandangan miring soal Sanya sudah ada sejak zaman Edo (1603-1868). Pada masa itu Sanya adalah kawasan pemukiman pekerja rendahan. Sanya juga menjadi surga penginapan murah. Tak heran setelah Perang Dunia II, Sanya menampung orang-orang yang kehilangan rumah.


Sekarang situasinya belum banyak berubah. Tahun lalu seseorang bernama Mago Yoshihira berniat memberdayakan penduduk Sanya yang sebagian besar adalah lansia yang berprofesi sebagai buruh lepas. Setiap minggu ia datang ke Sanya dan menggagas inisiatif memungut sampah bersama warga setempat yang bekerja sebagai pemulung. Yoshihira pun membangun tempat tinggal sejenis hostel yang bisa ditempati para tunawisma.

“Orang-orang yang tinggal di sini tidak mampu beradaptasi dengan gaya hidup masyarakat Tokyo pada umumnya. Mereka datang ke Sanya karena ingin diterima apa adanya,” kata Yoshihira kepada Savvy Tokyo, November tahun silam.

Ada kalanya orang-orang tersebut membuat identitas baru demi memastikan dirinya benar-benar terlepas dari kehidupan lamanya. Pelarian mereka tidak diketahui orang-orang dekat. Kadang, mereka bahkan tak tampak sebagai orang yang hendak menghilang.

Di tempat tersebut Yoshihiro juga bertemu orang berusia 25 tahun yang menjadikan Sanya tempat pelarian. “Ia mendapat kekerasan dari atasan di kantor lamanya. Hasilnya, ia menderita kecemasan sosial.”

Pilih Menghilang

Di Jepang, ada banyak kisah tentang orang-orang muda yang menghilang dan Sanya sebagai “distrik buangan” adalah salah satu lokasi yang biasa dituju.

The Vanished: The “Evaporated People” of Japan in Stories (2016) memuat kisah Denji, seorang pria yang menghilang selama 30 tahun. Sebelumnya Denji bekerja sebagai staf pemasaran sebuah perusahaan. Suatu hari ia menyatakan bahwa ritme kerja di kantor terlalu cepat kepada atasannya. Sehari setelahnya, posisi Denji langsung ditempati oleh pria yang lebih muda. Denji pun stress tapi ia tidak berani mengaku kepada istrinya bahwa ia dipecat. Walhasil ia berpura-pura berangkat kerja setiap hari. Menjelang tanggal gajian, ia pergi ke Sanya tanpa memberitahu siapapun dengan membawa sisa uang yang dia miliki di bank.

“Ada banyak orang seperti aku di Tokyo yang mengumpulkan sampah botol bekas,” katanya kepada Lena Mauger, penulis The Vanished. “Di Sanya aku melakoni kerja apapun, jadi kurir, tukang sapu, kuli pindahan, kasir, pramusaji, teknisi. Sebagian pekerjaan itu buruk tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”

September 2019 lalu, Channel News Asia (CNA) melansir tayangan dokumenter terkait fenomena orang yang memutuskan menghilang (johatsu). Tayangan tersebut menyebut bahwa pada 2017 ada 85.000 orang hilang di Jepang dan sekitar 74.000 di antaranya berhasil ditemukan. Namun para sosiolog dan aktivis LSM meyakini jumlah orang hilang lebih banyak dari itu. Hanya saja tak banyak yang melapor soal kasus orang hilang.

CNA mewawancara sosiolog Hiroki Nakamori yang menyatakan bahwa salah satu penyebab seseorang memutuskan menghilang adalah kultur Sekentei yang dianut di Jepang.

Studi Yumiko Maekawa dan Atsuko Kanai berjudul “Effects of Sekentei on seeking psychological help in Japan” yang terbit dalam Online Journal of Japanese Clinical Psychology (2015) mencatat bahwa Sekentei bisa dimaknai sebagai citra diri di mata orang lain.

“Sekentei adalah prinsip utama dalam budaya Jepang yang menuntut seseorang untuk menghormati dan mematuhi norma sosial, menjaga citra, dan tidak mempermalukan diri sendiri lewat tindakan di luar norma sosial,” tulis Maekawa dan Kanai.


Orang-orang yang memegang prinsip Sekentei cenderung jadi orang yang sangat tertutup dan enggan membicarakan masalah mereka meski kepada orang terdekat. Mereka sangat takut merasa malu dan khawatir mendapat perlakuan diskriminatif apabila menceritakan masalah pribadi mereka. Menurut Maekawa dan Kanai, hal itu juga yang membuat mereka tidak mau meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater apabila mereka memiliki masalah.



Ketika diwawancarai Time pada 2 Mei 2017, Takehiko Kariya, dosen sosiologi asal Oxford, menyatakan bahwa fenomena orang menghilang di Jepang ini wajar. Sebab, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, seluruh siswa dan siswi di Jepang diajarkan untuk bersikap kreatif dan mengekspresikan diri. Namun, dunia kerja dan masyarakat pada umumnya masih belum siap. Sehingga ketika masuk ke dunia kerja, mereka akan terjebak dalam lingkungan yang kaku dan memaksa mereka untuk menaati aturan yang sudah turun temurun.

Bila anak-anak muda “kreatif” ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, mereka akan dianggap sebagai orang lemah dan bikin malu keluarga.

“Ketika mereka dihadapkan dengan beberapa pilihan seperti bunuh diri, bekerja terlalu keras, atau menghilang dan memulai hidup baru. Jadilah menghilang opsi yang lebih baik,” kata Jake Adelstein, mantan Jurnalis di Jepang kepada Time.

Agustus lalu, World Population Review mencatat bahwa Jepang menempati peringkat ke 14 negara dengan korban bunuh diri terbanyak di dunia. Data tersebut menunjukkan bahwa dalam kurun waktu satu tahun, ada 23.532 orang yang bunuh diri di Jepang. Sebagian besar di antaranya adalah laki-laki berusia 20-44 tahun. Sementara korban bunuh diri perempuan biasanya berusia 15-34 tahun.

Penyebab laki-laki memutuskan bunuh diri biasanya adalah perceraian, dipecat dari pekerjaan, dan tidak bisa menafkahi keluarga. "Hal tersebut membuat mereka merasa sudah mempermalukan diri sendiri dan keluarga sampai-sampai bunuh diri jadi cara paling terhormat untuk menebus dosa tersebut," catat World Population Review.

"Orang-orang Jepang tidak mengenal konsep mengekspresikan atau menyalurkan kemarahan atau stres. Warga negara Jepang adalah orang-orang yang berorientasi pada aturan. Anak-anak muda dipaksa menaati aturan dan tidak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan," kata Wataru Nishida, psikolog di Tokyo Temple University kepada BBC.

Sebenarnya tingkat bunuh diri di Jepang menurun pada 2018. Menurut laporan Statista, pada tahun 2018 jumlah orang bunuh diri di Jepang adalah 16,5 per 100.000 orang.

Kasus bunuh diri di Jepang konsisten mengalami penurunan sejak 2009. Pada 2009, jumlah korban bunuh diri di Jepang adalah 25 per 100.000 orang. Jumlah tersebut adalah yang bunuh diri tertinggi di Jepang. Pada tahun itu, Jepang tengah mengalami resesi ekonomi terburuk pasca-perang dunia II.

Tapi berkurangnya jumlah orang yang bunuh diri tersebut tidak bisa dibilang sebagai prestasi karena, menurut laporan Japan Times, peringkat bunuh diri anak berusia 10-14 tahun meningkat pada 2018. Penyebabnya adalah stres akibat pelajaran dan lingkungan sekolah.


Sampai saat ini belum ada data resmi terkait perbandingan jumlah orang bunuh diri dan orang yang memutuskan menghilang di Jepang. Pemerintah hanya menyebut bahwa kasus orang menghilang masih terus terjadi.

Selain tekanan dalam pekerjaan dan lingkungan sosial, utang uyang menumpuk juga jadi alasan orang menghilang.

Bagi beberapa perempuan, menghilang dari masyarakat adalah jawaban untuk kekerasan domestik. Pada jenis kasus seperti ini, proses kabur dan menghilang jadi hal yang direncanakan secara matang dan melibatkan tenaga profesional. Masih menurut laporan CNA, ada jenis usaha di Jepang yang membantu orang “pindahan”. Layanan tersebut mengatur strategi kabur dari rumah, mencarikan daerah tempat tinggal baru yang aman bagi klien, memastikan klien tidak bisa ditemukan kerabatnya.

Berapa tarifnya? Ratusan ribu yen.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN JIWA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight