Bagaimana Warga Marunda Memanfaatkan Tahi Minyak Beracun

Oleh: Mulia Ramdhan Fauzani - 10 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Warga memanfaatkan tahi minyak untuk meratakan tanah. Limbah ini berbahaya, baik bagi manusia atau alam.
tirto.id - Seonggok limbah padat hasil olahan minyak kelapa sawit terlantar di seberang SDN 02 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Di sekelilingnya terpasang plang larangan beraktivitas dan garis polisi. Material serupa tanah itu diduga terkontaminasi limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Warga sekitar menyebutnya "tahi minyak".

Kepala bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Mudarisin, mengatakan tahi minyak sangat berbahaya. Material ini, misalnya, pasti mudah terbakar dan menimbulkan kerusakan pada tanah.

"Kalau dampak ke kesehatan, tergantung. Misalnya mengandung oli bekas atau logam berat, ya, itu bahayanya luar biasa. Tetapi kalau hanya minyak goreng, berbahaya, tapi tidak sebesar oli bekas atau logam berat," ujar Mudarisin ketika ditemui reporter Tirto di lokasi limbah, Rabu (9/1/2019) kemarin.

Meski bahaya, warga Marunda telah bertahun-tahun menggunakan tahi minyak untuk banyak hal. Misalnya meratakan jalan yang miring atau berlubang.

Menguruk Tahi Minyak karena Gratis

Tahi minyak selama bertahun-tahun jadi uruk dan dipakai untuk keperluan lain karena "didapatkan secara gratis". Selain itu hal ini juga mungkin terjadi karena pengawasan yang lemah dari pemerintah.

Dedi, warga blok C5 Rusun Marunda, adalah salah satu warga yang memanfaatkan limbah ini. Pada tahun lalu, lahan di gedung C5 diuruk dua kali dan selalu pakai ini. Beberapa blok rusun lain masih pakai block paving.


Saat itu, ia dan penduduk blok C5 lainnya diminta pengelola rusun menguruk lahan parkir gedung yang permukaannya tak rata. Bahan baku menguruk—tahi minyak itu—disediakan oleh Unit Pengelola Teknis (UPT) rusun.

"UPT meminta warga, 'pak, ada ini [tahi minyak] tolong kerja bakti, ya'," kata Dedi menirukan permintaan pengelola rusun ke warga.

Berdasar informasi dari Dedi, UPT membeli tahi minyak dari seorang warga rusun yang membawanya dari salah satu pabrik pengolah minyak goreng di KBN Cakung.

Tak ada warga yang tahu apa kandungan tahi minyak. Mereka cuma tahu kalau itu bau dan berkualitas jelek dibanding block paving atau bahan baku uruk lainnya.

"Licin kalau kena air. Kan, lembek. Kalau kami standar satu [parkir motor] juga pasti mendem," jelas Dedi. Meskipun begitu, ia dan penduduk rusun merasa tak punya hak untuk mengeluh lantaran tahi minyak disediakan UPT secara gratis.

Menguruk Tahi Minyak untuk Jalur Pedestrian

Tahi minyak bukan hanya dipakai di sekitar gedung rusun. Tahi minyak juga ditemukan di sepanjang jalan akses rusun. Di atasnya para penduduk dan warga lain berjalan seperti biasa, tak sadar kalau yang mereka injak itu material beracun. Ditambah lagi, bau minyak tak lagi tercium lantaran dicampuri pasir.

"Ini pertengahan tahun 2018 kemarin diuruk [tahi] minyak. Awalnya bau. [Diuruk karena] tadinya jalannya enggak rata, miring-miring," ucap Dedi menunjuk trek pejalan kaki di seberang pos keamanan blok C2.


Lahan urukan tahi minyak juga didapati di depan Sekolah Dasar Negeri 2 Marunda. Lahan para pedagang yang melapak diuruk dengan bahan serupa.

Burhanudin, Ketua RT 5, mengatakan warga sebetulnya tahu kalau tahi minyak itu berbahaya. Tapi, katanya, kebutuhan akan lahan yang rata dan aman dianggap lebih penting. "Dulu banyak yang menegur. Tapi, ya, lama kelamaan warga diam, soalnya sudah bagus. Sekarang rapi lihatnya, dah."

Vakum Karena Disorot Media

Hilda Damayanti, Lurah Marunda, mengaku kalau dia sebetulnya sudah sering melarang warganya menguruk pakai tahi minyak. Namun, tegurannya tidak dihiraukan karena kebutuhan warga akan bahan baku menguruk yang harganya terjangkau.

"Saya sudah sering memberi tahu. Tapi karena gratis dan ketidaktahuan mereka bahwa ini berbahaya, kami enggak terlalu didengar," ujar Hilda.

Untungnya aktivitas ini terendus media massa, kata Hilda, terutama ketika tahi tanah yang tadi disebut ada di depan SDN 2 tiba-tiba terbakar karena terik matahari pada 26 Desember 2018. "Ada kejadian seperti itu membuat masyarakat melek. Mereka perlu melihat lewat mata kepala sendiri bahwa itu berbahaya."

Pemberitaan seketika melumpuhkan aktivitas jual beli tahi minyak di Marunda. Murni (52) pedagang sayur di blok C Rusun Marunda, mengungkap bahwa salah seorang kenalannya yang terlibat dalam distribusi tahi minyak tengah "bersembunyi".

"Sekarang, mah, lagi bahaya. Jangan coba-coba deh [beli tahi minyak]. Yang beli, yang dagang, yang antar tahi minyak lagi dicari-cari," ujar Murni.

Baca juga artikel terkait LIMBAH atau tulisan menarik lainnya Mulia Ramdhan Fauzani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mulia Ramdhan Fauzani
Penulis: Mulia Ramdhan Fauzani
Editor: Rio Apinino