tirto.id - Duka mendalam masih menyelimuti wajah Gusti Pulungan. Pria 66 tahun itu kehilangan anak sulungnya, Zulham Effendu alias Maleh (42), yang menjadi satu dari 18 korban meninggal dalam kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan, Rabu (6/5/2026).
Meski kondisinya tak memungkinkan karena sakit-sakitan, Gusti Pulungan mau tak mau harus berangkat dari kampungnya di Bogor, Jawa Barat, ke Palembang. Kehadirannya dibutuhkan untuk proses identifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang.
Sebenarnya, Gusti telah mengutus anaknya yang lain datang ke Palembang untuk mencari kabar langsung terkait nasib Maleh. Namun, berdasarkan permintaan tim medis, tak ada orang lain yang bisa diambil sampel DNA selain orang tua dan anak kandung korban.
Bersama keluarganya, Gusti tiba di Palembang menggunakan mobil pribadi pada Jumat (8/5/2026) pagi. Selanjutnya, dia dipanggil Tim DVI untuk pengambilan sampel DNA berupa urine dan air liur.
“Sudah diambil (DNA). Kata dokter tunggu dua minggu lagi hasilnya keluar,” ungkap Gusti Pulungan, Sabtu (9/5/2026).
Gusti merupakan ayah kandung Maleh yang menjadi sopir cadangan bus ALS nahas tersebut. Dia kaget bukan main mendapat kabar anaknya menjadi salah satu korban kecelakaan maut itu.
Gusti masih mengingat jelas terakhir kali bertemu dengan Maleh tiga tahun lalu. Saat itu, dia tak sengaja bertemu Maleh yang sedang makan bersama temannya di sebuah rumah makan di Bogor.
Gusti pun diajak makan sambil bercerita setelah sekian lama tak bertemu.
“Tiga tahun lalu ketemu di rumah makan itu, makan bareng, ngobrol, nanya kabar. Tapi pas saya mau bayari dia tidak mau, saya malah ditraktir,” kata Gusti.
Ketika itu, Maleh tak sempat mampir ke rumah menemui ibunya. Gusti memaklumi anaknya jarang pulang karena kesibukan bekerja sebagai kru bus antarkota antarprovinsi.
Gusti memahami konsekuensi pekerjaan anaknya. Maleh harus terus melanjutkan perjalanan mengantar penumpang ke tempat tujuan.
“Kalaupun dia ke Bogor tak sempat ke rumah. Kalau saya ke Medan juga belum tentu dia ada di sana,” kata Gusti.
Pertemuan singkat itu masih terngiang dalam ingatan Gusti. Dia kagum dengan kegigihan Maleh dalam mencari nafkah bagi istri dan kedua anaknya.
Gusti menuturkan, Maleh adalah sosok pekerja keras. Sejak lulus SMA, Maleh langsung mencari pekerjaan hingga diterima sebagai kernet bus ALS.
Maleh kemudian menikah dan menetap di Medan, Sumatera Utara. Setelah puluhan tahun menjadi kernet, Maleh mendapat promosi menjadi sopir cadangan bus ALS.
Gusti mengaku seminggu terakhir selalu teringat dan merasakan kerinduan mendalam kepada Maleh. Namun, perasaan itu dianggapnya lumrah sebagai seorang ayah.
“Nggak tahu juga kenapa, seminggu ini saya ingat Maleh terus. Biasanya nggak. Lagi makan keinget, pas tidur juga kebawa mimpi,” kata Gusti.
Ternyata firasat itu menjadi pertanda bahwa Gusti tak akan bertemu lagi dengan Maleh untuk selamanya. Gusti mendapat kabar bahwa Maleh meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
“Saya kaget, tidak tahu mau ngomong apa pas ditelepon keluarga dan sopir ALS. Ternyata ini alasan kenapa saya selalu teringat anak saya,” kata Gusti.
Setelah pengambilan sampel DNA, Gusti langsung berangkat ke Medan untuk menemui menantu dan cucunya. Dia berharap jenazah Maleh segera teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
“Rencananya dibawa ke Medan, di sana ada istri dan anak-anaknya,” tutup Gusti.
Penulis: Irwanto
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id

































