Asisten Menhan Prabowo: Konco Lawas hingga Eks Komandan Tim Mawar

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 2 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Lima orang yang diangkat Menhan Prabowo jadi asisten khususnya adalah purnawirawan jenderal. Sebagian adalah konco lawas, termasuk eks komandan Tim Mawar.
tirto.id - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto resmi mengangkat lima orang sebagai asisten khusus untuk masa kerja 2019-2024. Mereka adalah: Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Letjen TNI (Purn) Hotmangaradja Pandjaitan, Laksdya TNI (Purn) Didit Herdiawan, Mayjen TNI (Purn) Chairawan Kadarsyah Kadirussalam Nusyirwan, dan Marsda TNI (Purn) Bonar H Hutagaol.

Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor KEP/1869/XII/2019, pengangkatan yang berlaku per 6 Desember 2019 ini dimaksudkan untuk mendukung kelancaran tugas-tugas pemegang 'bintang tiga' tersebut.

Orang-orang ini sama sekali tak asing bagi Prabowo. Beberapa dari mereka adalah konco lawas sang mantan Danjen Kopassus cum mantan mantu Soeharto tersebut.

Sjafrie, misalnya, adalah rekan sang jenderal sejak masih 'hijau'. Seperti dicatat Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2014:377), Sjafrie dan Prabowo adalah sahabat yang sama-sama lulus dari Akabri Magelang tahun 1974.

Keduanya juga berdampingan saat terlibat dalam pusaran kerusuhan 1998. Mereka sama-sama menempati posisi strategis di Jakarta. Prabowo sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), sementara Sjafrie menjabat Panglima Kodam Jaya (Pangdam).

Kivlan Zein dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004:86) mencatat, keduanya berinteraksi cukup intensif pada pertengahan Mei. Penyebabnya, Pangdam Jaya saat itu kekurangan pasukan untuk mengatasi suasana membara di Jakarta. Pada saat yang sama, Pangkostrad punya sisa pasukan. Pasukan Prabowo akhirnya dialokasikan untuk membantu Pangdam Jaya.


A Pambudi dalam Sintong & Prabowo (2009:99) mencatat Prabowo dan Sjafrie berada di ruang yang sama tatkala BJ Habibie, saat itu menjabat Wakil Presiden daripada Soeharto, memberi instruksi agar seluruh TNI menenangkan masyarakat, juga pada pertengahan Mei.

“Pernyataan dan seruan ini disampaikan Habibie di Istana Wakil Presiden,” tulis Pambudi.

Prabowo dan Sjafrie terpisah ketika Soeharto lengser. Prabowo dibebastugaskan, sementara Sjafrie menyandang pangkat jenderal hingga pensiun pada Januari 2010.

Saat masih aktif dan setelah pensiun dari militer, Sjafrie sempat menyandang beberapa jabatan mentereng seperti Staf Ahli Panglima TNI (1998), Kapuspen TNI (2002), Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (2005), Wakil Menteri Pertahanan (2010-2014) hingga Wakil Ketua Pelaksana Asian Games Indonesia (2018).

Politik memisahkan mereka, tapi politik pulalah yang akhirnya mempertemukan mereka lagi. Sjafri pernah menjadi bakal calon Gubernur DKI Jakarta lewat partai pimpinan Prabowo, Gerindra, meski akhirnya gagal maju karena partai tersebut mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno untuk Pilkada 2017.

Sjafrie juga sempat hadir saat gaduh-gaduh demonstrasi dugaan kecurangan Pemilu 2019 di Bawaslu, 10 Mei 2019.

Eks Komandan Tim Mawar

Sjafrie bukan satu-satunya karib Prabowo yang ditarik ke kursi asisten khusus. Satu nama lain, Mayjen TNI (Purn) Chairawan Kadarsyah Kadirussalam Nusyirwan, juga punya hubungan masa lalu yang erat dengan Prabowo.

Secara struktural, Chairawan bahkan bisa dibilang lebih sering bertaut dengan eks capres 2014 dan 2019 tersebut.


Chairawan merupakan mantan Komandan Grup 4 Sandi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat pasukan elite Angkatan Darat itu dipimpin Prabowo. Tim ini adalah pihak yang melakukan penculikan terhadap sembilan aktivis 1997/1998, dibuktikan dengan keputusan Mahkamah Militer Tinggi II Jakarta pada 6 April 1999 lalu.

Mereka lebih dikenal dengan nama Tim Mawar.

Ikatan emosional Chairawan dengan Tim Mawar boleh dibilang begitu erat. Chairawan bahkan pernah melaporkan Majalah Tempo ke Bareskrim Polri atas pemberitaan keterlibatan Tim Mawar dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Dalam keterangannya kepada Tirto pada 10 Juni 2019, Chairawan menyebut apa yang ditulis Majalah Tempo bohong belaka. “Tim Mawar sudah bubar,” kata dia.

Kendati Tim Mawar dia klaim bubar, nyatanya koneksi erat antara Chairawan dengan Prabowo tak pernah benar-benar bubar. Chairawan, misalnya, berada di kubu politik yang sama dengan Prabowo. Di Gerindra, dia diberi jabatan Wakil Ketua Umum Bidang Pertahanan dan Keamanan.

Penunjukan Sjafrie dan Chairawan menegaskan upaya Prabowo merangkul konco lawasnya. Sebab sebelum ini, Prabowo juga merangkul Johannes Suryo Prabowo ke Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

Suryo yang berstatus konco lawas Prabowo. Keduanya pernah dikirim ke Timor Timur pada 1976.

“Kapasitas beliau sangat dibutuhkan Menhan untuk memberi berbagai masukan dan asistensi kerja Pak Prabowo,” kata sekretaris Prabowo, Dahnil Anzar, menjelaskan kenapa Sjafrie direkrut, seperti dikutip dari Antara, Senin (30/12/2019).


Semua Jenderal

Berbeda dengan Sjafrie dan Chairawan, tiga nama lain yang turut diangkat jadi asisten khusus Prabowo di Kemenhan relatif tak punya hubungan spesial dengan sang menteri. Kendati demikian, mereka tetap punya satu latar belakang yang sama dengan dua yang lain: sama-sama jenderal.

Hotmangaradja Pandjaitan misalnya, merupakan jenderal bintang tiga yang pernah berdinas di Pangdam Udayana pada 2008-2010. Purnatugas, dia sempat dipercaya jadi Duta Besar Indonesia untuk Perancis dan UNESCO (2014-2019). Penunjukan Hotmangaradja berasal dari presiden yang juga berlatar belakang militer, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), beberapa bulan sebelum lengser.

Didit Herdiawan, nama keempat yang dipercaya Prabowo, berlatar belakang TNI Angkatan Laut. Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain Wakil KSAL, Wakil Gubernur Lemhannas RI, Kepala Staf Umum TNI, dan Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (2019).

Nama terakhir, Chairawan Kadarsyah, berasal dari matra udara. Selain jabatan terkini sebagai Pati Mabes TNI AU, dia pernah menjajal karier sebagai Wakil Komandan Seskoau, Kepala Staf Koopsau, dan Staf Khusus Kasau.

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Rio Apinino
DarkLight