Arti Penting Talk Show Politik: Cerita dari Amerika

Oleh: Husein Abdul Salam - 10 Agustus 2017
Dibaca Normal 2 menit
Beberapa hal yang membuat talk show politik itu penting dan bisa laku dijual.
tirto.id - Suaranya tegas, pelan, tapi pasti. “Seratus enam hari itu artinya tiga bulan setengah. Saya kira kejadian yang penyerangan dilakukan di tengah orang-orang banyak. Fakta-faktanya banyak. Barang buktinya banyak, walaupun sebagian, saya dapat informasi, sudah dihilangkan,” ujar Novel Baswedan.

Tepat di akhir kalimat itu, Najwa Shihab menyela, “Oleh siapa?”

Sedikit kaget, Novel pun menjawab, “Itu nanti mungkin kita bicarakan lebih jauh.”

Sepenggal pembicaraan di atas menggambarkan percakapan antara Najwa Shihab dengan penyidik KPK, Novel Baswedan. Percakapan yang tayang dalam Mata Najwa berjudul "Eksklusif Bersama Novel Baswedan” itu ternyata menjadi wawancara terakhir program yang disiarkan Metro TV tersebut.

“Pada pengujung Agustus (2017), Mata Najwa akan tiba pada episode final: 'Catatan Tanpa Titik',” kata Najwa dalam rilisnya.

Mata Najwa mengudara sejak 25 November 2009 dengan episode perdana bertajuk “Dunia dalam Kotak Ajaib”. Hingga 2017, sudah 511 episode Mata Najwa menghiasai layar kaca. Untuk kategori talk show televisi, ini bukan capaian yang biasa, meski bukan yang paling lama.

Di Indonesia, ada 12 talk show televisi yang mampu tayang selama lebih dari 5 tahun. Kick Andy (Metro TV) menduduki peringkat pertama dengan jangka penayangan 11 tahun (dan masih terus berjalan). Menyusul di bawahnya, Apa Kabar Indonesia Pagi (TV One), Apa Kabar Indonesia Malam (TV One), dan Tupperware She Care (Trans 7) dengan jangka penayangan 9 tahun. Seperti halnya Kick Andy, ketiganya pun masih tayang hingga kini.

Mata Najwa berada di posisi berikutnya. Selebihnya, ada empat talk show televisi yang berusia 7 tahun, yakni Ceriwis (Trans TV; berhenti tayang pada 2010), e-Lifestyle (Metro TV; berhenti tayang pada 2011), Hitam Putih (Trans 7), dan Sentilan Sentilun (Metro TV). Sedangkan, Just Alvin (Metro TV), Empat Mata yang kemudian menjadi Bukan Empat Mata (Trans 7; berhenti tayang pada 2016), dan Ada Apa Berita (Jak-TV) berumur 6 tahun.

infografik talkshow di tv indonesia

Mengawasi Politikus Lewat Talk Show

Di Amerika Serikat (AS), The Tonight Show (NBC) dicatat sebagai yang tertua, bahkan di dunia. Ia pertama kali disiarkan pada 27 September 1954 dan masih tayang hingga kini meski berganti host beberapa kali. Beberapa program juga melegenda, seperti Larry King Live dan The Oprah Winfrey Show.

Sejak kemunculannya, talk show menjelma program yang dipandang penting. Menurut Emily Harmer dalam Talk Shows, Political, talk show bertajuk politik berperan sebagai ruang yang memungkinkan penonton membentuk pandangan politik. Dengan menyimak menyimak beragam pendapat yang muncul dalam talk show, kata Emily, penonton menjadi mawas dengan berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah sekaligus mengetahui sosok yang bekerja di baliknya.

Harmer juga menyatakan, dengan adanya talk show, jurnalisme televisi berkembang menjadi sarana pengawas para politikus dan pejabat publik. Wawancara dalam talk show menjadi ajang para host meminta pertanggungjawaban tokoh-tokoh publik.

Inilah yang juga ditekankan oleh Wimar Witoelar saat berbicara tentang ide di balik pembuatan talk show Perspektif yang tayang di SCTV pada pertengahan 1990an. Wimar mengatakan bahwa talk show, apalagi yang tayang live, memungkinkan percakapan tentang politik berlangsung terbuka.

Diambil dari buku Fira Basuki, Wimar Witoelar: "Hell, yeah!", Wimar menyebut bahwa ia memulai Perspektif dengan latar belakang: "Concern kemasyarakatan. Selama ini, kan, jarang ada dialog netral dan jernih dalam masyarakat. Dalam ruang sempit, sih, sering orang ngobrol, di ruang kelas, di warung kopi, banyak dialog menarik. Tapi yang keluar di koran, di TV, itu bukan dialog. Itu monolog, briefing," katanya.

Wimar menekankan bahwa Perspektif sebagai forum untuk bertukar pikiran secara jernih. Ia selalu bilang bahwa tak ada pertanyaan yang disiapkan, tidak ada yang diedit. Ini sebagai usaha untuk menantang keterbukaan yang enggan disediakan oleh rezim.


Untung Dari Talk Show

Talk show tidak hanya memberi informasi kepada penonton, tapi bisa juga menjadi medium merayapi tangga politik sampai meraup pundi-pundi uang.

Menurut Bernard M. Timberg dalam bukunya Television Talk: A History of The TV Talk Show (halaman 73), di Amerika Serikat, jejak politik masuk talk show memuncak pada awal 90-an, khususnya semasa kampanye menuju Pilpres Amerika pada 1993. Sepanjang 1992, talk show politik di TV memainkan peran penting dalam memanggungkan perdebatan politik.

Pada 20 Februari 1992, Ross Perot tampil di Larry King Live. Di acara tersebut, ia mengungkapkan maksudnya untuk maju sebagai kandidat presiden jalur independen. Tidak mau kalah, kandidat dari Partai Demokrat, Bill Clinton, pun tampil di Donahue, The Arsenio Hall Show, dan MTV. Clinton menang. Suami Hillary Clinton itu pun akhirnya dijuluki "talk show President".

Menurut Timberg, sejak itu talk show menjadi wahana yang memautkan berita, hiburan, dan kuasa di setiap momen pemilu. Tidak hanya itu, karena populer, maka talk show juga sangat mungkin menghasilkan uang.


Pada 1993, sebagian besar pendapatan Entertainment Media Division yang berjumlah 63,3 juta dolar AS berasal dari dua talk show yang dipandu host terkenal, yakni Phil Donahue dan Sally Jessy Raphaël. Pada 1994 Oprah Winfrey menghasilkan sekitar setengah keuntungan dari King World. Pemasukannya sekitar $180 juta pada saat itu. Kekhawatiran akan hilangnya kontrak dengan Oprah Winfrey dikhawatirkan bisa menurunkan saham King World hingga 30 persen dalam satu hari.

Secara keseluruhan, ada 100 talk show muncul selama pemilu AS 1993. Menjelang akhir masa kampanye, tampilnya kandidat meningkatkan rating talk show rata-rata sebesar 40 persen. Untuk CNN, pemilu adalah angin segar yang memberikannya rating tertinggi setelah Perang Teluk dan membuatnya melebarkan jaringan ke negara-negara lain yang tertarik dengan politik AS.

Baca juga artikel terkait MATA NAJWA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdul Salam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Husein Abdul Salam
Penulis: Husein Abdul Salam
Editor: Zen RS
Dari Sejawat
Infografik Instagram