Menuju konten utama

Arti Invisible String Tren TikTok tentang Jodoh yang Viral

Makna invisible string tren TikTok yang sedang viral. Tren ini menggambarkan bagaimana jodoh itu pernah bertemu dengan kita tanpa disadari.

Arti Invisible String Tren TikTok tentang Jodoh yang Viral
Ilustrasi pacaran. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Tren invisible string tengah ramai di TikTok. Dalam tren ini, pembuat video akan mengunggah foto lama dan foto terbaru mereka.

Foto lama akan mengungkap ada sosok lain selain mereka yang ternyata berkaitan dengan masa sekarang atau dengan masa terbaru di 2023.

Tren ini tampaknya tidak mungkin, tetapi beberapa akun TikTok telah membuktikannya. Ada yang masih memiliki foto pawai saat TK. Anak laki-laki yang ada di foto tersebut ternyata merupakan jodoh mereka saat ini.

Jika Anda pernah mengalami hal serupa, itulah yang oleh para pembuat TikTok disebut sebagai Invisible String Theory.

Tagar tersebut saat ini telah ditonton sebanyak 32,6 juta kali di TikTok, dengan banyak pembuat konten menggambarkan fenomena bertemu dengan jodoh mereka dan kemudian menyadari bahwa mereka telah berpapasan berkali-kali sebelumnya, tanpa menyadarinya pada saat itu.

Dengan kata lain, gagasan bahwa jodoh Anda tersembunyi di depan mata, sampai alam semesta memutuskan untuk mempertemukan adalah benar adanya, dan ini tidak hanya berhubungan dengan hubungan romantis.

Salah satu unggahan menggambarkan dua bayi yang lahir jarak satu hari di rumah sakit yang sama. Kemudian di masa sekarang mereka ternyata bersahabat.

Dari Mana Asal Teori Invisible String?

Tren invisible string ini tak lepas dari lagu Taylor Swift "Invisible String" yang dirilis pada tahun 2020 sebagai bagian dari albumnya Folklore

Lagu tersebut mengeksplorasi benang merah takdir yang mampu menghubungkan dua belahan jiwa. Pengulangan "kamu telah bersembunyi di depan mata, lalu muncul" dari lagu tersebut bertindak sebagai musik latar untuk banyak postingan ini.

Namun, gagasan tentang cinta yang ditakdirkan sudah ada sebelum lagu tersebut dan tetap bertahan sampai saat ini. Faktanya, gagasan serupa sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Di Asia Timur, ada legenda bernama Benang Merah Takdir atau Red String. Legenda ini menyatakan bahwa dua orang yang ditakdirkan untuk menjadi cinta sejati memiliki tali merah tak kasat mata yang mengikat mereka.

Meskipun mereka dipisahkan oleh waktu, jarak , atau rintangan yang akan mereka temukan jalan pulangnya satu sama lain.

Pidato Aristophanes dalam The Symposium karya Plato mengatakan bahwa manusia pada awalnya dimulai sebagai makhluk berkepala dua, berlengan empat, dan berkaki, yang kemudian terbelah menjadi dua atas perintah Zeus, meninggalkan mereka ditakdirkan untuk menjadi manusia, berkeliaran di bumi, dan mencari separuh lainnya.

Baru-baru ini, sejumlah film, buku, dan program TV seperti Past Lives, Normal People, One Day, Sliding Doors, dan When Harry Met Sally, mengeksplorasi tema-tema tentang koneksi yang terlewatkan dan pertemuan yang ditakdirkan.

Ada juga kaitannya dengan hukum fisika. Teori string, yang dikenal sebagai "teori segalanya", yang muncul dari karya banyak fisikawan, menyatakan bahwa bahan penyusun alam semesta bukanlah partikel melainkan string yang sangat kecil.

Baca juga artikel terkait TREN TIKTOK atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Addi M Idhom