Menuju konten utama

Arti Hari Tasyrik, Dalil Tidak Boleh Puasa, dan Amalan Sunah

Berikut penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan hari tasyrik, dan mengapa tak boleh berpuasa pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Arti Hari Tasyrik, Dalil Tidak Boleh Puasa, dan Amalan Sunah
Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

tirto.id - Hari Tasyrik adalah sebutan untuk 3 hari setelah Idhul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari tasyrik, umat Islam dianjurkan untuk makan dan minum, dan tidak boleh berpuasa.

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menceritakan mengenai penamaan hari tasyrik untuk tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah, dengan terjemahan redaksinya sebagai berikut:

"Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadits disebutkan, hari tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya.”

Sementara itu, di kitab Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, dijelaskan istilah tasyrik muncul karena umat Islam menyembelih kurban pada waktu syuruq, yakni waktu setelah matahari terbit, pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Mengapa Tidak Boleh Puasa di Hari Tasyrik?

Selama hari tasyrik, umat Islam tidak diperbolehkan berpuasa. Hukum berpuasa pada hari tasyrik atau tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah adalah haram.

Larangan berpuasa bagi umat Islam juga berlaku pada dua hari raya, yakni Idul Adha dan Idul Fitri.

Umat Islam dapat kembali berpuasa sunnah atau melakukan qada' puasa Ramadhan pada saat setelah hari tasyrik.

Dalil larangan berpuasa di hari tasyrik berdasarkan hadits yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyatakan hari-hari tersebut untuk makan dan minum.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda mengenai hari tasyrik: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi berpendapat hadis tersebut menjadi dalil larangan tidak bolehnya berpuasa di hari tasyrik.

Amalan Sunah di Hari Tasyrik

Hari tasyrik memiliki beberapa keutamaan. Meski puasa dilarang pada hari tasyrik, umat Islam tetap dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada tanggal 11, 12, 13 Zulhijah.

Berikut sejumlah amalan sunnah yang bisa dikerjakan di hari tasyrik:

1. Berkurban

Selama hari tasyrik, masih diperbolehkan untuk menyembelih hewan kurban. Bagi umat Islam yang memiliki kemampuan menjalankannya dan tidak sempat berkurban pada hari raya Idul Adha, dapat melaksanakan ibadah ini pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

2. Mengumandangkan takbir setelah sholat lima waktu

Setelah selesai mendirikan salat lima waktu, umat Islam dianjurkan melantangkan takbir pada hari-hari tasyrik. Takbir yang dibaca persis sama dengan takbir Hari Raya Idul Adha.

Bacaan takbir pada hari-hari tasyrik dapat dilafalkan sebagai berikut:

a. Tulisan Arab: اللهُ اكبَرْ، اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُو ِللهِ الحَمْد

b. Tulisan latin: "Allahu akbar, Allahu akbar kabira, Laa ilaaha illallaahu wallahu Akbar, Allahu akbar walillaa hilhamd"

c. Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

3. Memperbanyak berdoa dan berzikir

Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan zikir sepanjang hari tasyrik. Anjuran ini disampaikan Allah dalam firman-Nya:

"Dan berdzikirlah [dengan menyebut] Allah dalam beberapa 'hari yang terbilang'. Barang siapa mempercepat [meninggalkan Mina] setelah 2 hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa mengakhirkanya tidak ada dosa pula baginya. Yakni bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkannya," (QS. Al-Baqarah [2]: 203).

Sejumlah ahli tafsir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan "hari yang terbilang" merupakan hari tasyrik.

4. Makan dan Minum

Umat Islam dilarang berpuasa pada hari taysrik. Umat Islam justru dianjurkan makan-minum di hari-hari itu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum," (H.R. Muslim).

Baca juga artikel terkait IDUL ADHA atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Addi M Idhom