Menuju konten utama

Arab Saudi Idul Adha, MUI Persilakan Masyarakat Tetap Puasa Arafah

MUI mengatakan masyarakat di Indonesia tidak perlu jadikan waktu Idul Adha di Arab Saudi sebagai pedoman boleh tidaknya berpuasa Arafah.

Arab Saudi Idul Adha, MUI Persilakan Masyarakat Tetap Puasa Arafah
Umat Muslim berkumpul di Padang Arafat dalam naik haji tahunan, diluar kota suci Mekah, Arab Saudi, Minggu (11/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Ahmed Jadallah

tirto.id - Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi menetapkan waktu (mathla) yang berbeda untuk Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriah. Di Arab Saudi, Idul Adha jatuh pada Selasa, 21 Agustus 2018. Sedangkan di Indonesia, Idul Adha jatuh pada Rabu, 22 Agustus 2018. Perbedaan ini memantik polemik soal hukum puasa sunnah Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijah atau sehari sebelum Idul Adha.

Ada yang memandang puasa Arafah pada hari Selasa, 21 Agustus 2018 haram dilakukan masyarakat di Indonesia. Alasannya lantaran pada Senin, 20 Agustus 2018 jamaah haji di Arab Saudi telah melaksanakan wukuf dan mereka sudah merayakan Idul Adha pada Selasa, 21 Agustus 2018. Namun ada juga yang menganggap puasa di Arafah pada Selasa, 21 Agustus 2018 tetap boleh dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini karena Idul Adha di Indonesia baru akan jatuh pada Rabu, 22 Agustus 2018.

Perbedaan hari dan tanggal Idul Adha antara Indonesia dengan Arab Saudi mestinya tidak memicu polemik tentang hukum puasa Arafah. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Hasanuddin AF mengatakan setiap negara memiliki ketentuan sendiri dalam menetapkan datangnya hilal (bulan sabit muda tanda masuknya bulan baru).

Di Arab Saudi hilal sudah terlihat pada Sabtu malam, 11 Agustus 2018. Sehingga tanggal 1 Dzulhijah jatuh pada Minggu, 12 Agustus. Sedangkan di Indonesia hilal baru terlihat pada hari Minggu malam, 12 Agustus 2018. Sehingga tanggal 1 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada Senin, 13 Agustus 2018. Dari perbedaan itu wajar jika penetapan Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah antara Indonesia dengan Arab Saudi berbeda.

“Cuma di sana (Arab Saudi) hilal malam Minggu sudah kelihatan di sini baru malam Senin, kan hilal pedomannya,” kata Hasanuddin kepada Tirto, Senin (20/8).

Mengacu pada perbedaan itu, Hasanuddin mengatakan masyarakat Indonesia tidak perlu berpedoman pada tanggal atau waktu yang berlaku di Arab Saudi. Sehingga masyarakat Indonesia bisa tetap berpuasa Arafah pada Selasa, 21 Agustus 2018 meski pada tanggal yang sama di Arab Saudi sedang Idul Adha.

Hasanuddin mengatakan jika waktu Arab Saudi mesti jadi pedoman soal boleh tidaknya berpuasa Arafah maka mestinya hal yang sama juga dilakukan dalam menentukan waktu salat. Contohnya jika salat zuhur di Arab Saudi pukul 12.00 siang, maka mestinya salat zuhur di Indonesia dilaksanakan sekitar pukul 16.00 sore.

“Begitu juga puasa Arafah besok. Haram untuk di sana (Arab Saudi). Di kita haramnya hari Rabu. Enggak usah bingung,” ujar Hasanuddin.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Didin Hafinuddin menilai polemik soal hukum puasa Arafah karena perbedaan mathla Idul Adha antara Indonesia dengan Arab Saudi bukanlah hal baru. Ia meminta masyarakat saling menghormati. “Masalah ini sudah lama. Silakan sesuai keyakinan tanpa saling salah menyalahkan,” kata Didin kepada Tirto.

Meski begitu Didin memandang saat terjadi perbedaan mathla antara Indonesia dengan Arab Saudi, maka umat Islam di Indonesia sebaiknya mengikuti pedoman waktu yang berlaku di Indonesia. Sehingga jika pada Senin, 20 Agustus 2018 masyarakat melaksanakan puasa tarwiyah, maka puasa Arafah akan jatuh pada Selasa 21 Agustus 2018 untuk selanjutnya merayakan Idul Adha pada Rabu, 22 Agustus 2018. “Kalau terjadi perbedaan mathla kita ikuti mathla di daerah kita dan di negeri kita. Enggak ada masalah sekarang kita puasa tarwiyah besok puasa Arafah,” ujar Didin.

Baca juga artikel terkait PUASA ARAFAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Akbar Wijaya

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Muhammad Akbar Wijaya
Editor: Muhammad Akbar Wijaya