tirto.id - Apakah Gerhana Bulan harus terjadi pada tanggal 15? Pertanyaan tersebut ramai muncul setelah pada Selasa (3/3/2026) malam terjadi gerhana bulan. Munculnya fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan telah tibanya pertengahan bulan Hijriah. Lantas, apakah hal tersebut benar dan kapan Lebaran 2026?
Gerhana bulan merupakan salah satu peristiwa astronomi yang terjadi saat Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan. Hal ini menyebabkan bayangan Bumi menutupi Bulan. Dalam sudut pandang astronomis, fenomena gerhana tersebut hanya dapat terjadi ketika fase Bulan Purnama (Full Moon) dan berlangsung sekitar pertengahan bulan antara 13, 14, hingga 15.
Pada Selasa 3 Maret 2026, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan soal langit yang dihiasi Gerhana Bulan Total atau Blood Moon, meskipun penampakan bentuk bulan di sebagian wilayah Indonesia lainnya tak terlalu terlihat dengan jelas.
Berdasarkan kacamata astronomi, Gerhana Bulan Total atau dikenal juga sebagai Bulan Merah alias Blood Moon merupakan sebuah fenomena Gerhana Bulan saat Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi. Dengan demikian, cahaya matahari yang dibiaskan oleh atmosfer bumi yang mencapai permukaannya akan menghasilkan pantulan cahaya merah dan oranye yang khas.
Beranjak dari hal tersebut, munculnya fenomena Gerhana Bulan ini kemudian banyak dikaitkan sebagai penanda pertengahan bulan telah tiba. Lantas, apakah benar Gerhana Bulan harus selalu jatuh tanggal 15 atau bisa tanggal lainnya seperti 13? Cek ringkasan singkatnya berikut.
Apakah Gerhana Bulan Harus Tanggal 15 atau Bisa Tanggal 13?
Memang, gerhana bulan sering terjadi pada pertengahan bulan Hijriah. Akan tetapi, Gerhana Bulan tidak harus selalu jatuh tepat setiap tanggal 15 atau setiap pertengahan bulan.
Menurut penjelasan astronomi, dijelaskan bahwa gerhana bulan hanya akan terjadi saat fase Purnama. Dalam kalender lunar seperti Hijriah, fase Purnama umumnya jatuh antara tanggal 13, 14, hingga 15, bergabung pada awal penetapan bulannya.
Hal itu juga terjadi pada fenomena Gerhana Bulan pada Selasa malam kemarin (3/3/2026), yaitu bertepatan dengan hari puasa ke-13 dan malam ke-14. Artinya, kemunculan fenomena tersebut tidak terjadi tepat tanggal 15 dalam kalender Hijriah.
Dalam hal ini, terdapat beberapa alasan utama yang dapat menyebabkan adanya perbedaan waktu yang sangat spesifik namun tetap fleksibel. Penjelasan utama yaitu syarat utama, oposisi astronomis, menyatakan bahwa gerhana bulan terjadi saat Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan yang secara matematis diperkirakan akan jatuh di tengah siklus antara hari ke-14 atau ke-15.
Terkait alasan mengapa gerhana tak selalu jatuh di tanggal 15 itu bergantung pada waktu konjungsi, penentuan tanggal 1 dalam kalender lunar. Jika bulan baru dimulai lebih cepat atau justru lambat, maka Purnama diperkirakan akan jatuh di tanggal 14 atau bahkan 16.
Selain itu, tak setiap Purnama akan ada gerhana. Hal itu dapat dipicu oleh adanya kemiripan orbit bulan yang mengelilingi bumi miring sekitar 5 derajat terhadap orbit bumi mengelilingi matahari.
Kapan Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah & NU?
Setelah terjadi Gerhana Bulan pada Selasa (3/3), yang kerap dikaitkan dengan pertengahan bulan dalam kalender Hijriah, lantas kapan hari Lebaran 1447 H Muhammadiyah dan NU? Apakah lebaran akan dirayakan pada hari yang sama, ataukah berbeda seperti awal Ramadhan?
Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah, organisasi Islam satu ini telah menetapkan kapan Idul Fitri. 1 Syawal 1447 H versi Muhammadiyah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut mengacu pada penggunaan metode hisab hakiki dan Parameter Kalender Global (PKG). Standar PKG Muhammadiyah adalah tinggi Bulan > 5° dan elongasi Bulan ≥ 8 derajat.
Ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 Н bertepatan dengan 19 Maret 2026 M, pukul 01:23:28 UTC. Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1. Dengan demikian, seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026.
Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) belum menetapkan kapan 1 Syawal 2026. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag RI) biasanya akan menetapkan 1 Syawal melalui sidang isbat.
Sidang isbat penentuan Idul Fitri 1447 H direncanakan akan digelar pada Kamis, 19 Maret 2026. Dalam menentukan awal Ramadhan, Kemenag mengikuti Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 dengan menggabungkan metode rukyatul hilal dan hisab. Setelah data hisab didapatkan, dilakukan rukyatul hilal sebagai pembuktian.
Oleh karenanya, ada 2 kemungkinan Idul Fitri 1447 H. Pertama, pada Jumat (20/3), jika hilal terlihat pada Kamis (19/3). Artinya, puasa akan berlangsung 29 hari. Namun, ada kemungkinan pula Lebaran jatuh pada Sabtu (21/3), atau puasa tahun ini sejumlah 30 hari.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































