Apa yang Harus Dilakukan Saat Terkena Virus Corona COVID-19?

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 24 Maret 2020
Dibaca Normal 1 menit
Dari keseluruhan total kasus positif corona yakni 382.644 jiwa, setidaknya 101.898 dapat dinyatakan sembuh.
tirto.id - Gejala virus corona akan muncul setelah 2-14 hari masa inkubasi virus di dalam tubuh. Gejala ringan berupa demam disertai batuk, sesak napas, nyeri sendi, hingga diare. Akan tetapi, ada juga orang yang tidak merasakan gejala tersebut dan hanya merasa tidak enak badan.

CDC melaporkan, orang tua dan mereka yang memiliki riwayat medis tertentu lebih berisiko untuk meningkatkan infeksi. Beberapa penyakit tersebut antara lain penyakit jantung, asma, diabetes, hingga HIV/AIDS.

Perempuan hamil juga memiliki risiko tinggi untuk tertular disebabkan oleh perubahan yang memungkinkan imunitas tubuh menurun. Meski demikian, sebuah penelitian telah membuktikan bahwa ibu hamil yang positif COVID-19 tidak menularkannya kepada bayi saat proses melahirkan.

Apa yang harus dilakukan jika terjangkit COVID-19?

Anda harus mengkarantina diri setelah melakukan kontak dengan seseorang yang positif COVID-19 atau melakukan perjalanan pada wilayah yang terjangkit. Terus monitor gejala yang muncul pada diri Anda selama kurang lebih 2-14 hari.

CDC menyarankan untuk segera mencari pertolongan medis jika muncul gejala. Akan tetapi, hubungi penyedia layanan kesehatan terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan. Melalui telepon, mereka akan memberitahu langkah yang perlu dilakukan sembari mereka mempersiapkan diri dengan alat pelindung diri seperti masker, baju disposal, dan lain-lain.

Saat pergi ke rumah sakit, kenakan masker. Namun apabila Anda tidak bisa mengenakannya, coba untuk menjaga jarak aman dari orang lain untuk melindungi mereka dari paparan virus COVID-19 tersebut.

Selanjutnya, dokter akan melakukan karantina terhadap Anda untuk mencegah virus tertular pada orang lain.

Peluang sembuh dari virus corona

Dari keseluruhan total kasus positif corona yakni 382.644 jiwa, setidaknya 101.898 dapat dinyatakan sembuh, menurut peta global John Hopkins per Selasa (24/3/2020) pukul 15:22.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 80 persen orang yang terjangkit virus ini dapat sembuh tanpa membutuhkan penanganan khusus, seperti diwartakan The Guardian. Hanya satu dari enam orang alami gejala yang parah hingga kesulitan dalam bernapas.

Dilansir dari Health Harvard, tingkat kematian akibat pandemi virus corona umumnya diperkirakan hanya 3-4 persen. Apabila dibandingkan dengan SARS dan MERS yang muncul dan diakibatkan oleh keluarga virus yang sama, angka tersebut jauh lebih kecil.

Risiko kemarian akibat SARS kurang lebih 11 persen, sementara MERS memiliki risiko kematian sebesar 35 persen.

Di sisi lain, CNN melaporkan bahwa risiko kematian akibat virus corona COVID-19 akan bergantung pada usia dan tingkat kesehatan secara keseluruhan. Hal tersebut disimpulkan dari data pasien Cina, sumber wabah COVID-19 tersebut.

Di antara orang dengan usia 49 tahun atau lebih muda, hanya 0,2 persen dari mereka yang positif terjangkit virus Corona 2019 meninggal, dibandingkan dengan 14,8 persen dari mereka yang berusia di atas 80 tahun.

Namun, para peneliti di Hong Kong mengatakan bahwa pasien yang telah berhasil pulih dari COVID-19 dapat mengalami penurunan kemampuan paru-paru. Hal tersebut berdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap 12 pasien yang telah dinyatakan sembuh, seperti dilansir dari DW.

Dua atau tiga di antara pasien tersebut alami penurunan fungsi paru-paru meski terlalu dini untuk mengonfirmasi efek jangka panjangnya. "Pada beberapa pasien, fungsi paru-paru dapat menurun sekitar 20 hingga 30 persen setelah pemulihan," kata Dr. Owen Tsang Tak-yin, direktur medis dari Pusat Penyakit Menular di Rumah Sakit Princess Margaret di Hong Kong dikutip dari DW.


Baca juga artikel terkait CORONA atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight