Apa Saja Ciri-ciri Historiografi Tradisional dan Pengertiannya

Kontributor: Wulandari, tirto.id - 20 Jan 2022 13:20 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Historiografi merupakan tahap menceritakan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan sejarah.
tirto.id - Historiografi berasal dari kata history yang berarti sejarah dan grafi yang berarti deskripsi/penulisan jadi historiografi berarti penulisan sejarah.

Menururt Kuntowijoyo dalam buku Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas X historiografi merupakan tahap menceritakan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan sejarah.


Soedjatmiko dalam buku Manusia dan Ruang Lingkup Ilmu Sejarah menyatakan bahwa historiografi tradisional Nusantara ditulis dalam bentuk pros maupun puisi (syair), seperti babad, serat, kanda, sajarah, carita, hikayat, sejarah, tutur, salsilah, dan cerita-cerita manurung.


Historiografi di Indonesia terbagi atas tradisional, kolonial, dan modern. Penulisan historiografi di Indonesia sudah dimulai pada zaman kerajaan Hindu-Budha sampai berkembangnya Islam.

Di Indonesia historiografi diawali dari masa aksara atau tulisan dengan karya pertama berupa prasasti oleh Mpu Prapanca yang menulis kitab Negarakertagama.

Pada masa tradisional buku dengan judul Cristische Beschouwing Van Sadjarah Van Banten atau buku tentang sejarah Banten pada 1962 – 1963 dianggap sebagai titik balik berakhirnya historiografi tradisional di Indonesia.

Historiografi Tradisional Masa Hindu-Budha



Pada masa Kerajaan Hindu-Budha, historiografi berkembang pesat yang dibuktikan dengan terciptanya 1.000 buah naskah di seluruh Nusantara dengan beberapa di antaranya berupa penulisan kitab. Contoh karya tulisan pada masa tradisional dari kerajaan Hindu-Budha berupa:

1. Babad Tanah Pasundan
2. Babad Parahiangan
3. Babad Tanah Jawa
4. Pararaton
5. Nagarakertagama
6. Babad Galuh
7. Babad Sriwijaya dll

Historiografi Tradisional Masa Islam


Cerita sejarah yang dibuat sebagian merupakan penyesuaian kebudayaan Islam. Contoh karya yang ditulis oleh pujangga pada saat kerajaan Islam di Nusantara meliputi:

1. Kerajaan Islam Cirebon
2. Babad Banten dari Kerajaan Islam Banten
3. Babad Diponegoro yang menceritakan mengenai kehidupan Pangeran Diponegoro
4. Babad Demak yang mengisahkan tentang Kerajaan Islam Demak
5. Babad Aceh dll

Ciri-ciri Historiografi Tradisional


Menurut Hasnawati dalam buku Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas X menyatakan bahwa terdapat 6 (enam) ciri-ciri historiografi tradisional, yaitu,

1. Istana sentris, yaitu karya hanya difokuskan pada kehidupan raja atau keluarga istana jadi tidak ada cerita mengenai kehidupan masyarakat umum

2. Religius magis, yaitu sejarah yang berhubungan dengan kepercayaan dan hal-hal gaib. Hal ini bertujuan agar rakyat patuh kepada raja karena seorang raja dianggap sebagai penjelmaan Tuhan atau Dewa.

3. Bersifat feodalistis-aristokratis, yaitu cerita sejarah yang menceritakan tentang bangsawan feodal, sama seperti istana sentris, cerita yang dikisahkan hanya terpusat pada kaum bangsawan dan tidak ada sangkut paut mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat umum

4. Tidak ada perbedaan peristiwa nyata dan khayal karena semua dianggap sama

5. Bersifat regio-sentris atau enocentrisme (kedaerahan), yaitu cerita sejarah yang menekankan pada budaya dan suku bangsa di kerajaan tersebut

6. Terdapat kesalahan-kesalahan dalam penguraiannya. Cerita yang ditulis tidak seluruhnya berdasarkan fakta yang terjadi, melainkan dalam menulis nama, fakta sejarah, penggunaan kosa kata, dan penulisan waktu pada cerita berbeda.


Baca juga artikel terkait HISTORIOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Wulandari
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Wulandari
Penulis: Wulandari
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight