Menuju konten utama

Apa Itu Silicon Valley Bank AS yang Bangkrut dan Penyebabnya

Kenapa Silicon Valley Bank bangkrut dan dampaknya terhadap Indonesia.

Apa Itu Silicon Valley Bank AS yang Bangkrut dan Penyebabnya
Ilustrasi Bank. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Silicon Valley adalah bank yang mengalami masa kegagalan terbesar sebagai lembaga keuangan ternama di Amerika Serikat sejak puncak krisis keuangan lebih dari satu dekade terakhir melanda negara tersebut hingga menyebabkan kolaps bahkan terancam bangkrut.

Seperti diberitakan Euro News, pekan lalu regulator AS telah menyita aset Silicon Valley Bank yang mengalami kolaps serta dinyatakan tak bisa lagi mengatasi permintaan penarikan besar-besaran para pelanggannya.

Silicon Valley Bank sendiri merupakan salah satu bank terbesar ke-16 di Amerika Serikat serta memiliki spesialisasi dalam pembiayaan startup di AS dengan memiliki aset pada akhir tahun 2022 mencapai 209 miliar dolar AS serta 175,4 miliar dolar AS dalam deposito.

Akan tetapi, dalam satu dekade terakhir ini SVB mengalami kolaps yang membuat para deposan yang sebagian besarnya merupakan pekerja teknologi dan perusahaan yang didukung oleh modal ventura bergegas menarik uang mereka karena adanya kekhawatiran terhadap situasi bank yang tidak stabil.

Untuk mengatasi bobroknya salah satu lembaga keuangan itu, otoritas AS kemudian mengambil kebijakan dengan mengambil alih Silicon Valley Bank serta mempercayakan pengelolaannya kepada badan AS yang memiliki tanggung jawab dalam memberikan jaminan terhadap simpanan, yakni Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC).

Tak lama dari itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, memanggil beberapa regulator sektor keuangan bersama di pekan lalu untuk membahas kondisi Silicon Valley Bank yang mengalami kolaps serta mengingatkan agar segera mengambil tindakan yang tepat.

Sebelum dikabarkan kolaps pada Jumat pekan lalu, sehari sebelumnya SVB sepat mengumumkan bahwa pihaknya tengah berusaha untuk mendapatkan modal dengan cepat untuk mengatasi penarikan besar-besaran oleh para pelanggannya, namun malah menuai kegagalan yang akhirnya kehilangan aset 1,8 miliar dolar AS serta memicu kepanikan di pasar AS.

Tak hanya di pasar, pengumuman SVB itu juga mengejutkan para investor serta memicu kekhawatiran kembali terkait kesehatan seluruh sektor perbankan, terutama dengan kenaikan suku bunga yang cepat yang menurunkan nilai obligasi dalam portofolio mereka dan meningkatkan biaya kredit.

Di hari yang sama saat SVB memberikan pengumuman mendadak, sekitar empat bank terbesar di AS kehilangan 52 miliar dolar AS di pasar saham yang berimbas juga pada bank-bank Asia dan Eropa sama-sama menggelepar.

Penyebab Silicon Valley Bank Kolaps

Terkait penyebab Silicon Valley Bank kolaps, diwartakan New York Times, kegagalannya dipicu oleh pembobolan bank dimana para nasabah menarik deposito mencapai 42 miliar dolar AS.

SVB dinyatakan tidak bangkrut jika kepercayaan dari para deposan serta uang tunai yang ditarik para nasabah dapat terpenuhi. Akan tetapi jadi berbalik jika dua hal itu tak terpenuhi.

Runtuhnya SVB mulai menggemparkan AS ketika manajemen SVB, Moody’s, disebutkan memilih menjual obligasi senilai 21 miliar dolar AS dengan kerugian mencapai 1,8 miliar dolar AS di samping suku bunga yang telah meningkat secara drastis, sedangkan kinerjanya terpantau menurun ketimbang bank lainnya.

Moody’s yang dibantu oleh penasihatnya, Goldman Sachs, mempertimbangkan untuk menurunkan peringkatnya serta memilih mengumpulkan ekuitas baru dari perusahaan modal ventura General Atlantic sekaligus menjual obligasi konservasi kepada publik.

Hal tersebut dimaksudkan guna meyakinkan para investor, akan tetapi malah berdampak sebaliknya sehingga mengejutkan pasar dan membuat para pemodal ventura yang merupakan nasabah bank mengarahkan nasabah portofolio mereka untuk menarik deposito secara besar-besaran dan massal.

The Fed dan FDIC Akan Sediakan Dana Tambahan untuk SVB

Melansir ABC News, Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dan Departemen Keuangan di AS, The Fed (Federal Reserve) mengumumkan pada hari Minggu, 12 Maret 2023, akan menyediakan dana tambahan guna memastikan semua deposito di Silicon Valley Bank akan dibayarkan secara penuh, baik yang diasuransikan maupun tidak.

"Setelah menerima rekomendasi dari dewan FDIC dan Federal Reserve, dan berkonsultasi dengan Presiden, Menteri [Janet] Yellen menyetujui tindakan yang memungkinkan FDIC untuk menyelesaikan penyelesaian Silicon Valley Bank, Santa Clara, California, dengan cara yang sepenuhnya melindungi semua deposan," pernyataan The Fed dan FDIC.

“Para deposan akan memiliki akses ke semua uang mereka mulai Senin, 13 Maret. Tidak ada kerugian yang terkait dengan resolusi Silicon Valley Bank yang akan ditanggung oleh pembayar pajak."

Presiden Amerika Serikat Joe Biden kemudian mengeluarkan pernyataan di hari yang sama terkait tindakan pemerintahan untuk melindungi para deposan dengan menyetujui tindakan yang dilakukan oleh The Fed dan FDIC.

"Saya senang bahwa mereka mencapai solusi yang cepat yang melindungi pekerja Amerika dan usaha kecil, dan menjaga sistem keuangan kita tetap aman. Solusi ini juga memastikan bahwa uang pembayar pajak tidak terancam," ungkap Joe Biden dalam sebuah pernyataan.

"Saya sangat berkomitmen untuk meminta pertanggungjawaban penuh dari mereka yang bertanggung jawab atas kekacauan ini dan melanjutkan upaya kami untuk memperkuat pengawasan dan regulasi bank-bank besar agar kita tidak berada dalam posisi ini lagi,” tambah Biden.

Seorang pejabat senior Departemen Keuangan dan pejabat Federal Reserve menyebut bahwa dana yang digunakan untuk membayar para deposan Silicon Valley Bank berasal dari Dana Penjamin Simpanan FDIC, yakni DIF yang didanai oleh biaya pada bank-bank yang saat ini memiliki lebih dari 100 miliar dolar AS di dalamnya.

"Saya tegaskan bahwa selama krisis keuangan, ada investor dan pemilik bank-bank besar yang sistemik yang ditalangi, dan kami tentu saja tidak akan melakukannya. Dan reformasi yang telah dilakukan berarti kami tidak akan melakukan hal itu lagi. Namun kami prihatin dengan para deposan dan fokus untuk memenuhi kebutuhan mereka," jelas Menteri Keuangan Janet Yellen.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Ekonomi
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Dipna Videlia Putsanra