Apa Itu Microsleep yang Jadi Ancaman Pemudik Penyebab dan Gejalanya

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari - 22 Apr 2022 11:14 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mengemudi sambil mengalami microsleep adalah bahaya umum yang sering kali terjadi terutama saat periode mudik Lebaran.‌
tirto.id - Mudik Lebaran 2022 menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil mungkin akan menjadi salah satu pilihan karena tak terikat oleh jadwal dan meminimalisir interaksi dengan orang lain sehingga bisa mencegah penularan COVID-19.

Meski begitu, saat memutuskan untuk mudik Lebaran 2022 dengan mobil, tetap saja ada risiko yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah microsleep.

Apa itu microsleep?



Dilansir dari laman Web MD microsleep mengacu pada episode tidur yang berlangsung kurang dari 30 detik. Seringkali, Anda tidak menyadarinya.

Seringkali dalam kondisi microsleep, otak Anda beralih dengan cepat antara tertidur dan terjaga. Dalam kasus microsleep setiap periode tidur hanya berlangsung beberapa detik. Padahal suatu periode tidur perlu berlangsung setidaknya satu menit sebelum otak dapat mencatatnya.

Saat mengalami microsleep, orang akan kehilangan kendali atas kinerja mereka. Dilansir dari laman Sleep Foundation, para ilmuwan bekerja untuk lebih memahami apa yang terjadi di otak selama microsleep dengan mempelajari fenomena pada manusia dan hewan.

Microsleep kadang-kadang disebut sebagai behavioral microsleep karena ditandai dengan perubahan perilaku. Episode microsleep dapat terlihat berbeda pada setiap orang, tetapi sering kali diidentifikasi oleh seseorang yang memejamkan mata sebentar atau mengalami penurunan perhatian.

Peneliti dapat mendeteksi microsleeps dengan mengukur aktivitas otak, dengan mengamati wajah dan tubuh seseorang, atau dengan menguji kinerja psikomotorik mereka, seperti hasil penelitian yang dipublikasikan di laman Pubmed.

Selama episode microsleep, gelombang otak yang diukur dengan electroencephalogram (EEG) terasa melambat. Pemindaian otak yang dilakukan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (MRI) menunjukkan bahwa microsleep melibatkan aktivitas otak yang berbeda dari yang ditemukan dalam tidur biasa. Selama microsleep, sebagian besar otak yang dinonaktifkan selama tidur tetap aktif, termasuk area otak yang didedikasikan untuk tetap terjaga.

Otak juga merespons suara secara berbeda selama microsleep dibandingkan saat terjaga atau tidur. Otak memiliki reaksi sebagai respons terhadap suara selama microsleep, tetapi pola reaksinya tidak sama dengan yang ditemukan saat seseorang terjaga. Misalnya, selama microsleep, otak tampaknya tidak membedakan antara suara dengan nada yang berbeda.

Bahaya microsleep saat mengemudi



Microsleep bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Jika Anda berada di rumah dan di sofa Anda, lalu mengalami microsleep mungkin bisa menyebabkan iritasi, tetapi hal ini tentu tidak berbahaya.

Namun, dalam situasi lain, microsleep dapat menimbulkan ancaman bagi diri sendiri dan orang lain. Mengemudi sambil mengalami microsleep adalah bahaya umum yang sering kali terjadi terutama saat periode mudik Lebaran.‌

Microsleeps sangat berbahaya bagi pengemudi karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kesalahan serius saat mengemudi sangat singkat.

Jika Anda tertidur selama 3 detik saat melaju dengan kecepatan 60 mil per jam, Anda dapat menempuh jarak 300 kaki ke arah yang salah. Hal ini tentu saja dapat membuat Anda keluar dari jalan atau ke jalur lalu lintas yang berlawanan.

Penyebab microsleep



Kurang tidur adalah penyebab utama dari microsleep. Sehingga banyak orang dengan gangguan tidur, seperti mereka yang kerja shift atau apnea tidur lebih cenderung bisa mengalami microsleep.

Namun, orang yang tidak memiliki gangguan tidur juga dapat mengalami tidur microsleep, bahkan pada mereka yang setelah satu malam tidur cukup atau tidak ada kekurangan tidur sama sekali. Dalam kasus ini, microsleep biasanya terjadi ketika orang melakukan tugas yang monoton, seperti mengemudi di jalan raya yang kosong.

Gejala microsleep



Salah satu gejala paling umum dari microsleep adalah menutup sebagian atau seluruh mata Anda, meskipun microsleep juga dapat terjadi dengan mata terbuka.

Gejala umum lainnya dari microsleep adalah kepala mengangguk. Anda mungkin berasumsi bahwa Anda akan tahu jika Anda mengalami episode microsleep, tetapi itu tidak selalu jelas. Orang yang mengalami microsleep tidak selalu menyadari bahwa mereka tertidur sebentar.

Alih-alih menyadari bahwa Anda tertidur, Anda mungkin berpikir sejenak berhenti memperhatikan apa pun yang ada di sekitar Anda.

Selama episode microsleep, orang menunjukkan respons yang berkurang terhadap rangsangan eksternal, seperti suara atau isyarat visual.

Dilansir dari Pubmed, para peneliti telah menemukan bahwa orang cenderung menggerakkan mata mereka lebih lambat pada saat-saat menjelang tidur mikro.

Namun, Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda menggerakkan mata lebih lambat, atau kelopak mata Anda terkulai. Dilatasi pupil adalah faktor lain yang dapat mengindikasikan microsleep.

Dilansir dari laman Healthline, berikut beberapa gejala atau ciri lain dari microsleep,

1. tidak menanggapi informasi

2. tatapan kosong

3. menundukkan kepala

4. mengalami sentakan tubuh tiba-tiba

5. tidak dapat mengingat satu atau dua menit terakhir

6. ketidakmampuan untuk menjaga mata tetap terbuka

7. menguap berlebihan

8. tubuh tersentak

9. terus berkedip untuk tetap terjaga


Baca juga artikel terkait MICROSLEEP atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight