Apa Itu 5M Selain 3M & 3T untuk Lawan COVID-19 Saat Pandemi Corona?

Oleh: Iswara N Raditya - 20 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Selain protokol kesehatan 3M dan 3T, kini mulai digalakkan aksi 5M untuk melawan COVID-19 di masa pandemi Corona, apa itu?
tirto.id - Selain protokol kesehatan 3M yakni memakai masker dengan benar, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak, kini mulai digalakkan aksi 5M untuk melawan COVID-19 di masa pandemi Corona yang hingga kini belum berakhir. Apa itu gerakan 5M?

Dihimpun dari beberapa sumber, makna gerakan 5M setidaknya ada dua versi. Versi pertama adalah sebagai pelengkap aksi 3M. Gerakan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

"Sudah tidak lagi 3M, menekan penyebaran virus Corona perlu penerapan protokol kesehatan 5M. Perlu kesadaran masyarakat, mengingat di jalanan kadang banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan," tutur Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD KRMT Wongsonegoro (RSWN) Semarang, dr Eko Krisnarto Sp KK beberapa waktu lalu, dikutip dari laman resmi Radio Republik Indonesia (RRI).

Eko Krisnarto menambahkan, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, termasuk dalam hal menekan angka penyebaran virus COVID-19 meskipun saat ini program vaksinasi sedang digalakkan.

Dengan pencegahan, lanjutnya, bukan hanya membantu menyelamatkan diri sendiri, tapi juga keluarga dan orang lain. "Jangan sampai setelah kena COVID-19, baru kemudian melakukan pencegahan itu," tandasnya.


Aksi 5M untuk Menguatkan 3T dan 3M

Adapun makna 5M versi lainnya dipaparkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Widyastuti. Ia memaparkan bahwa 5M yaitu "man" (sumber daya manusia atau SDM), "money" (pendanaan), "material" (sarana dan prasarana), "method" (metode), dan "machine" (mesin).

Tujuan gerakan 5M menurut Widyastuti adalah untuk menguatkan strategi penanggulangan pandemi COVID-19 sesuai acuan nasional dan merupakan kolaborasi dari aksi 3T yakni "testing" (tes), "tracing" (pelacakan), dan "treatment" (penanganan) dan kampanye 3M.

Sebagaimana diwartakan Antara, Widyastuti menjelaskan masing-masing poin dari pemaknaan aksi 3M tersebut. Pertama adalah “man” atau ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Diperlukan rekruitmen dan kerja sama yang apik antara petugas medis dan berbagai pihak lainnya untuk bahu-membahu menghadapi COVID-19.

Kedua adalah "money" atau pendanaan. Menurut Widyastuti, tidak mungkin hanya mengandalkan APBD untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat pandemi, melainkan juga sumber-sumber keuangan lainnya seperti ABPN, hibah luar negeri, serta kemandirian masyarakat.



Yang ketiga adalah “material” atau sarana dan prasarana. Material dalam bentuk penyiapan akomodasi dan transportasi untuk tenaga-tenaga kesehatan, termasuk peran-peran hotel swasta, yang turut menyiapkan isolasi mandiri terkendali dan berkoordinasi dengan otoritas terkait.

5M yang keempat adalah “method” atau metode alias cara. Ada berbagai metode yang bisa dilakukan oleh otoritas terkait dalam upaya menangani berbagai masalah di masa pandemi. Tentu saja cara yang ditempuh harus terukur dan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau protokol yang sudah ditetapkan.

Terakhir adalah "machine" atau mesin. Menurut Widyastuti, ini bisa dimaknai sebagai pemberian bantuan dari berbagai pihak untuk memperkuat serta melengkapi alat-alat kesehatan dan sarana logistik lainnya dalam upaya penanganan pandemi COVID-19.

Baca juga artikel terkait PANDEMI COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight