Menuju konten utama

Antisipasi PMK, Pasar Hewan di Temanggung Tutup sampai 22 Juni 2022

Hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Temanggung, Jawa Tengah, sebanyak 155 sapi.

Antisipasi PMK, Pasar Hewan di Temanggung Tutup sampai 22 Juni 2022
Petugas memeriksa mulut seekor sapi saat pemeriksaan hewan ternak terkait wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Pasar Hewan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.

tirto.id - Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menutup sementara pasar hewan di wilayahnya pada 9-22 Juni 2022 untuk mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Bupati Temanggung M. Al Khadziq mengatakan kasus PMK pada hewan di wilayahnya terus bertambah. Ia mencatat hingga Rabu (8/6/2022), sebanyak 155 sapi di Temanggung terjangkit PMK.

"Angka kasus PMK masih tren kenaikan sehingga Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung mengambil langkah menutup pasar hewan yang ada di Kabupaten Temanggung," katan Khadziq dikutip dari Antara, Kamis (9/6/2022).

Khadziq berharap kasus PMK dapat menurun jelang bulan Dzulhijah atau Iduladha dengan penutupan pasar hewan. Hal itu agar tidak memunculkan kekhawatiran masyarakat dalam pengadaan hewan kurban.

Menurut Khadziq, saat ini tim dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan serta TNI-Polri terus berupaya mencegah penularan PMK.

"Sampai sekarang belum ditemukan sapi mati di Temanggung karena PMK, tetapi sapi yang kondisi kesehatannya mengkhawatirkan kemudian disembelih itu sekitar 10 ekor," kata dia.

"Penularan ke binatang lain seperti kambing atau domba belum ditemukan dan kami terus waspada dan berhati-hati mencermati setiap perkembangan yang terjadi dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan supaya tidak merugikan masyarakat," imbuhnya.

Khadziq meminta peternak, pedagang serta masyarakat memahami kondisi tersebut. Ia bilang penutupan pasar hewan ini memang sebuah keputusan yang tidak enak, tetapi terpaksa demi mencegah penularan PMK.

"Karena kalau semakin banyak yang tertular masyarakat sendiri yang akan mengalami kerugian," kata dia.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT MULUT DAN KUKU

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: Antara
Editor: Gilang Ramadhan