Menuju konten utama

Alasan Perajin Tempe Ancam Mogok Produksi Pekan Depan

Harga kedelai yang terus mengalami kenaikan dalam sepekan menjadi pemicu utama aksi mogok para perajin tempe.

Alasan Perajin Tempe Ancam Mogok Produksi Pekan Depan
Pekerja membuat tempe dari kedelai impor di sentra industri tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Kamis (23/9/2021). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hp.

tirto.id - Para pengrajin tempe berencana mogok produksi pada 21-23 Februari 2022. Ketua umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan, harga kedelai yang terus mengalami kenaikan dalam sepekan menjadi pemicu utama aksi mogok ini.

“Kalau daerah DKI, Jabodetabek, DKI itu artinya 5 wilayah ya, Jabotabek, kemudian ikut lagi Bogor, Cianjur, Jawa Barat. Sekarang diikutin lagi Jawa Tengah, kemudian diikutin lagi para pengrajin dari Jawa Timur. Kita gak ngajak mereka untuk demo, tapi malah kami [Gakoptindo] larang. Cuma mereka bilang kalau harganya mahal para pengrajin akan tertekan,” kata dia kepada reporter Tirto, Rabu (16/2/2022).

Aip menjelaskan, harga kedelai saat ini sudah mencapai Rp11.000/kg. Padahal harga normal yang didapat pengrajin sekitar Rp10.000/kg. Kenaikan mulai terasa pada awal Februari 2022. Kenaikan terjadi setiap hari dalam sepekan.

Aip menggambarkan soal kenaikan kedelai ini. Pada 5 Februari harga kedelai ada di angka Rp10.500, kemudian hari selanjutnya harga kedelai naik Rp10.100/kg, lalu kenaikan terus berlanjut sampai di angka Rp11.000/kg.

“Kedelai selalu ada, jadi untuk itu kami pengrajin tempe tahu berterima kasih pada pemerintah tapi, makin hari makin naik harganya, kadang sehari awal Februari itu tiap hari naik Rp100-200 dalam seminggu itu 5 kali naik,” terang dia.

Kondisi tersebut membuat para pengrajin harus mengurangi ukuran tahu dan tempe. Pasalnya, jika setiap pengusaha biasa membeli kedelai sebanyak 20 kg/hari sebesar Rp200 ribu, kemudian di hari selanjutnya uang Rp200 ribu tidak cukup untuk membeli 20 kg kedelai. Hal tersebut membuat pengrajin harus mengurangi kuota produksi kedelai untuk diolah menjadi tempe dan tahu.

“Kemendag sudah telepon, dan bilang jangan mogok. Kalau jangan mogok apa yang mau diberikan pada kami? Kami butuh harga kedelai turun. Kami di pengrajin cuma kalau naik terus, kan, harganya, ukurannya jadi kecil, kemudian kami nanti dimarain penjual. Harganya sama kok ukurannya lebih kecil,” kata dia.

Aip pun meminta jika ada kenaikan harga kedelai, tidak terjadi setiap hari. Ia juga meminta pemerintah untuk mengoptimalkan produksi kedelai di dalam negeri agar harga kedelai tidak terlalu mengalami fluktuasi mengikuti harga kedelai internasional.

Direktur Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan sebelumnya mengatakan harga tahu dan tempe di dalam negeri akan naik karena melonjaknya harga kedelai internasional. Hal ini terjadi karena kedelai menjadi bahan baku utama dalam memproduksi dua makanan kegemaran masyarakat Indonesia tersebut.

“Kondisi kedelai di dunia saat ini terjadi gangguan suplai. Kalau saya melihat di Brazil terjadi penurunan produksi kedelai, di mana awalnya diprediksi mampu memproduksi 140 juta ton pada Januari, menurun menjadi 125 juta ton. Penurunan produksi ini berdampak pada kenaikan harga kedelai dunia," kata Oke saat konferensi pers secara virtual, Jumat (11/2/2022).

Penyebab lainnya menurut Oke yakni inflasi di Amerika Serikat yang mencapai 7 persen, yang berdampak pada kenaikan harga daripada input produk kedelai.

Selain itu, terjadi pengurangan tenaga kerja, kenaikan biaya sewa lahan, serta ketidakpastian cuaca di negara produsen kedelai juga mengakibatkan petani kedelai di Amerika Serikat menaikkan harga.

“Dari data Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai pada minggu pertama Februari 2022 mencapai 15,77 dolar AS per bushel atau angkanya sekitar Rp11.240 per kilogram (kg) kalau ditingkat importir dalam negeri," kata Oke.

Dalam hal ini, diperkirakan harganya akan terus mengalami kenaikan hingga Mei 2022 yang bisa mencapai 15,79 dolar AS per bushel. Selanjutnya, akan terjadi penurunan pada Juli 2022 ke angka 15,74 dolar AS per bushel di tingkat importir.

Untuk itu, Oke mengatakan kenaikan harga kedelai dunia itu akan berdampak pada kenaikan harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe di dalam negeri. “Dan hal ini akan mempengaruhi ujungnya adalah harga produk turunan dari kedelai, yang utama di sini adalah harga tempe dan tahu," ujar Oke.

Baca juga artikel terkait TEMPE atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Abdul Aziz