Menuju konten utama

Aktivitas Fisik & Gizi Seimbang: Resep Dorong Prestasi Anak NTT

WVI berharap program BOKS dapat mendukung program pemerintah terkait gizi dan kesehatan anak-anak.

Aktivitas Fisik & Gizi Seimbang: Resep Dorong Prestasi Anak NTT
Senam Anak Indonesia Hebat yang dilakukan siswa SD di Kabupaten Manggarai dalam melaksanakan program BOKS tirto.id/Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Joko tepekur di meja belajarnya menyimak guru melontarkan berbagai pertanyaan di depan kelas. Bocah kelas 4 SD itu sigap mengangkat tangannya ketika keluar pertanyaan tentang menu sarapan murid-murid pagi itu.

Ikan, nasi, ditambah sayur. Joko menjawab semangat sambil tersipu-sipu. Dia lancar merinci bahwa menu sarapannya itu mengandung protein dan karbohidrat.

Suasana kelas di salah satu SD di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu tampak kondusif. Ketika Tirto berkunjung ke sana, Selasa (11/3/2025), puluhan murid di sekolah itu tengah berbaris rapi bersiap untuk melakukan senam pagi. Masih belum pukul 09.00 pagi, tapi mentari sudah menyiram hangat di tengah lapangan sekolah.

Sekolah Joko berjarak sekitar 14 kilometer dari Ibu Kota Ruteng, berlokasi di sebuah dusun yang cukup dalam. Mencapai sekolah itu mesti melewati kelir-kelir jalan yang berbatu dan licin karena habis tersiram hujan malam sebelumnya. Namun, sepanjang jalan, murid-murid berseragam SD dan SMP berjalan kaki penuh tawa menuju sekolahnya masing-masing di daerah tersebut.

Kembali ke SD yang kami kunjungi, aktivitas fisik anak-anak pagi itu bertajuk Senam Anak Indonesia Sehat. Tiga orang siswa memimpin gerakan senam di depan. Jumlah siswa yang berbaris di lapangan sekitar 70 orang.

Mereka kompak mengikuti irama musik dan gerakan yang dikomandoi teman sebayanya. Sementara guru di sekolah itu mengiringi anak didiknya dari belakang barisan.

Senam berlangsung efektif dalam durasi 15 menit. Tidak terlihat satu siswa pun yang diam atau ogah-ogahan melakukan senam. Malah, mereka berjingkrak-jingkrak dengan semangat dan terlihat menguasai berbagai gerakan.

Sesudah senam, para murid berdoa sebelum memulai pelajaran di kelas masing-masing.

“Saya bawa [air] minum dari rumah, tadi pagi makan sayur dan proteinnya ikan,” ucap Joko saat ditemui Tirto di kelasnya.

Kesadaran dan pemahaman siswa terhadap kebiasaan hidup aktif dan sehat ternyata dipupuk lewat program BOKS (Build Our Kids’ Success) yang digagas Wahana Visi Indonesia (WVI).

Program yang diluncurkan sejak 2022 silam itu memang diniatkan untuk membangun kesuksesan anak Indonesia lewat kebiasaan menjalani hidup yang sehat, aman, dan bugar. BOKS diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan prestasi akademik siswa di sekolah.

Program BOKS didanai oleh Sun Life melalui WVI dan dalam penerapannya bekerja sama dengan pemerintah, lembaga satuan pendidikan, sukarelawan sosial, komunitas masyarakat, dan anak-anak. Sejak 2022, program BOKS memang menyasar dua provinsi besar, yakni DKI Jakarta (urban) dan NTT (rural).

Khusus di NTT, kegiatan BOKS tersebar di banyak sekolah di enam kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai Barat, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

 Senam Anak Indonesia Hebat

Senam Anak Indonesia Hebat yang dilakukan siswa SD di Kabupaten Manggarai dalam melaksanakan program BOKS tirto.id/Mochammad Fajar Nur

Aktivitas Fisik dan Menu Bergizi

Joko adalah salah satu murid SD di Kabupaten Manggarai yang mengimplementasikan program BOKS. Dia mengaku kini lebih memahami pentingnya makanan bergizi dan sarapan pagi.

Hal itu disampaikan Joko saat ditemui di kelas. Tirto sudah mendapat izin dari pihak sekolah untuk mewawancarai siswa di kelas dan mengikuti kegiatan pembelajaran.

"Tidak lemas belajar kalau sudah sarapan," ucap Joko.

Murid lainnya dari kelas 5, Faldi dan Nila, juga mengaku mengalami peningkatan belajar yang signifikan usai sekolah mereka menerapkan program BOKS. Faldi, misalnya, menuturkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan sebelum masuk kelas membuat badannya segar dalam menerima pembelajaran.

Bocah berusia 10 tahun itu merasa tidak mudah mengantuk karena rutin melakukan senam pagi.

"Biasanya kami senam setiap pagi sekitar jam 7.15 mulainya dipimpin kakak kelas dan Nila," ucap Faldi.

Nila yang namanya disebut, tersenyum malu. Dia merupakan salah satu siswa yang rutin memimpin senam pagi di sekolah. Bahkan, Nila sudah dipanggil ke beberapa sekolah tetangga untuk mengajarkan gerakan Senam Anak Indonesia Hebat.

Dia mengaku belajar sendiri dari materi program BOKS yang didapat sekolah dari bimbingan WVI. Lebih dari itu, Nila dan kawan-kawannya di sekolah saat ini lebih sering mengonsumsi makanan yang ada di rumah ketimbang beli jajanan instan.

Program BOKS, memang memantik siswa dan keluarga mereka agar menyadari pentingnya makan menu bergizi. Tidak harus mahal, menu-menu tersebut merupakan lauk-pauk yang biasa mereka hidangkan di rumah sehari-hari.

Untuk melecutkan pemahaman dan aksi nyata, program BOKS oleh WVI turut mendorong sekolah untuk membuat kebun gizi. Kebun itu ditanami sayur-sayuran yang bisa dimanfaatkan oleh siswa sekolah.

Nila mengingat bahwa kebun gizi di sekolahnya mulai aktif digarap sejak Desember tahun lalu. Mereka menanam tomat, buncis, umbi-umbian, hingga sawi. Mereka sudah sempat panen besar dan menjual sayur-sayuran itu ke wali murid.

Alhasil, selain dinikmati sendiri, hasil penjualan sayuran itu bisa dibelikan perlengkapan sekolah.

"Uang yang didapat bisa buat beli buku dan pulpen, itu setelah jual," ujar Nila.

Setelah mendengar kisah dari para siswa, Tirto menemui kepala sekolah SD tersebut untuk mencari tahu dampak implementasi program BOKS yang digagas WVI terhadap pembelajaran dan prestasi siswa.

Stefan, sang kepala sekolah, menjamu di kantornya dengan hidangan tradisional yang menggiurkan. Ada singkong rebus, pisang goreng, kue tradisional yang terbuat dari singkong dan gula merah atau disebut lemet, serta tak luput kopi khas tanah Flores.

"Anak-anak jadi senang belajar, anak-anak jadi senang bermain di sekolah, karena kami gabungkan aktivitas fisik tadi," kata Stefan kepada wartawan Tirto.

Stefan mengatakan bahwa program BOKS juga terintegrasi dengan Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yang menjadi program Kemdikbudristek era pemerintahan sebelumnya. Karena itu, tak hanya membekali murid dan orang tua, guru di sekolah ikut belajar kembali bagaimana cara menemukan metode belajar terbaik bagi implementasi program BOKS.

Di sekolah yang dipimpin Stefan, program BOKS sudah masuk sejak 2023. Kala itu, Stefan baru ditunjuk menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. Namun, dia merasa program BOKS sejalan dengan visi-misinya yang ingin siswa lebih aktif dan sehat.

Terbukti, siswa memang dinilai mengalami peningkatan semangat belajar dan lebih aktif. Beberapa murid bahkan ada yang mengikuti olimpiade di tingkat provinsi. Hal ini dipandang Stefan sebagai salah satu buah dari implementasi aktivitas fisik yang menstimulasi minat belajar siswa.

Maka ketika ada dorongan untuk membuat kebun gizi, Stefan tak ragu-ragu langsung menyiapkan lahan bagi siswa.

Sekolah tak memungkinkan ditanami sayur karena keterbatasan lahan. Stefan tak kehabisan akal. Dia melobi warga sekitar sekolah untuk meminjamkan lahannya untuk dibuat sebagai kebun gizi sekolah.

Gayung bersambut, seorang warga yang sehari-hari berprofesi sebagai petani bersedia meminjamkan dua petak lahan kosong bagi sekolah. Hal ini dipandang Stefan sebagai sambutan baik masyarakat terhadap implementasi program BOKS.

"Harapannya mereka [siswa] sadar bahwa menanam sayur itu bisa mendatangkan uang. Selain itu, mereka jadi rajin bawa bekal dari hasil sayur yang dipanen," ujar Stefan.

Stefan

Stefan, kepala sekolah salah satu SD di Kabupaten Manggarai yang mengimplementasikan program BOKS WVI. tirto.id/Mochammad Fajar Nur

Anak Sehat Aset Generasi Emas

Sudah lewat tengah hari ketika kunjungan di SD pertama rampung. Tiba-tiba, hujan mengguyur deras. Padahal, ada satu lokasi SD lain yang harus disambangi. Jaraknya kurang lebih 7 kilometer dari lokasi SD pertama.

Perjalanan pun ditempuh dengan berat karena harus ambil jalur memutar untuk menghindari jalur yang tertutup longsor. Mobil yang ditumpangi berkali-kali terguncang karena mengakali lubang. Lokasi SD kedua ternyata tak mampu dilewati mobil karena lokasi yang curam dan jalanan rusak.

Setelah perjalanan dengan mobil yang mengocok perut selama 20 menit, Tirto sampai di lokasi SD kedua setelah berjalan kaki sekitar 7 menit menembus hujan di trek berbatu dan tanah merah.

Eca, salah satu wali murid, dan jajaran guru di SD itu menyambut hangat kehadiran kami yang sudah kuyu. Di kantor guru, kami kembali melanjutkan perbincangan soal program BOKS sambil makan siang.

Menu santapan makan siang memang amat mencerminkan implementasi program BOKS yang mendukung gizi seimbang. Ikan bakar, sup ayam kampung, sayur bunga pepaya, dan nasi hangat ludes disikat seraya bertukar cerita.

Sebagai orang tua, kata Eca, program BOKS yang digagas WVI membuat anak-anak rajin melakukan olahraga. Setiap Sabtu, siswa-siswa sekolah berkumpul melakukan senam dan aktivitas fisik berupa permainan dan olahraga.

Tak hanya dihadiri murid satu sekolah, tetapi juga anak-anak sekolah lain dari tingkat PAUD sampai SMA. Eca melihat ini sebagai suatu kebiasaan baik dalam komunitas masyarakat.

Selain itu, Eca bersama orang tua lainnya menyediakan lahan bagi anak-anak yang hendak membuat kebun gizi. Sayur-sayuran yang ditanam sengaja tak memakai pupuk kimia. Eca melihat guru-guru sekolah mendorong anak-anak untuk membuat pupuk kompos sendiri.

Setelah kebun gizi dipanen, orang tua diwajibkan membeli sayuran yang ditanam oleh anak mereka. Dengan begitu, siswa bisa belajar bertani sekaligus menikmati hasil pertaniannya.

“Banyak dampak yang sangat besar bagi anak-anak kami. Yang pertama itu mereka dapat mengatur waktu, dari malas sampai melakukan kegiatan yang positif,” ucap Eca.

Kebun Gizi

Kebun gizi di salah satu SD dampingan WVI di Kabupaten Manggarai tirto.id/Mochammad Fajar Nur

Leader Tim Program BOKS Wahana Visi Indonesia, Saskia R. Panggabean, menyampaikan bahwa program BOKS memang dimulai usai Pandemi COVID-19 melanda.

Imbas pandemi, survei WVI menemukan bahwa anak-anak di NTT dan DKI Jakarta kurang melakukan aktivitas fisik. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik bagi usia 5 sampai 17 tahun selama 60 menit per hari secara akumulatif.

“Waktu itu, di tahun 2022, di Jakarta dan NTT hanya 52 persen anak-anak yang memenuhi standar WHO,” ucap Icha, sapaan akrabnya, ketika ditemui di Kota Ruteng, Rabu (12/3/2025).

Anak yang tidak mendapatkan aktivitas fisik cukup akan loyo dan gampang sakit. Ditambah jika asupan gizi harian mereka tidak tercukupi karena kurangnya wawasan keluarga. Pada 2022, WVI memutuskan untuk menginisiasi program BOKS yang bertujuan mendorong kebiasaan hidup sehat peserta didik.

WVI sengaja menyasar Jakarta dan NTT menjadi dua daerah penerapan BOKS. Sebab, di Jakarta yang notabenenya daerah urban, sering kali membuat anak-anak enggan olahraga. Sementara itu, NTT dipilih karena kejadian tangkes atau stunting yang masih cukup tinggi.

Icha melihat perubahan positif dari peserta didik yang menjadi dampingan program BOKS dari WVI. Anak-anak lebih senang olahraga dan membawa bekal sendiri dari rumah. Selain itu, orang tua turut mendukung anak-anak mengonsumsi pangan bergizi dan membawa minum ke sekolah.

“Kalau anak anak yang di NTT juga yang tantangan mereka hanya tahu olahraga jalan kaki dan lari, tapi akhirnya tahu ada beragam aktivitas fisik. Dan kesadaran keluarga untuk hidup sehat,” ucap Icha.

Selama implementasi BOKS sepanjang 2022-2024, sudah ada sebanyak 40.988 anak, 143 sekolah, dan 945 guru yang mengimplementasikan dan menerima manfaat program BOKS.

Sebanyak 106 komunitas menerima pelatihan program BOKS dengan 85 komunitas yang mengimplementasikannya. Selama tiga tahun itu, terbentuk 63 kebun gizi yang dikelola para siswa.

WVI berharap program BOKS dapat mendukung program pemerintah terkait gizi dan kesehatan anak-anak. Pasalnya, pekerjaan rumah soal gizi dan kesehatan anak memang masih cukup besar.

Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, proporsi remaja usia 13-15 tahun berstatus gizi pendek dan sangat pendek berimbang antara laki-laki dan perempuan, yaitu sebanyak 24,2 persen dan 24,1 persen.

Sedangkan, remaja laki-laki dan perempuan yang berstatus gizi kurang (thinness) dan gizi buruk (severely thinness) berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur berturut-turut adalah 9,8 persen dan 5,4 persen.

Menurut hasil penelitian Tim Peneliti Anak Nasional WVI tahun lalu, terdapat 44 persen anak yang pernah merasa lapar di malam hari karena tidak ada makan malam. Ada 16 persen anak tidak punya cukup uang jajan atau tidak bisa membawa bekal ke sekolah. Selain itu, 18 persen anak pernah merasa lapar, tapi tidak makan karena kehabisan makanan di rumah.

Dalam aspek frekuensi makan dan kecukupan makanan harian saja, masih ada 1 dari 3 anak yang terpaksa melewatkan sarapan karena tidak ada makanan. Ada 1 dari 5 anak tidak dapat makan sampai kenyang karena tidak ada makanan atau uang jajan. Ditambah, terdapat 1 dari 5 anak tidak mengkonsumsi protein setiap hari.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai, Wensislaus Sedan, menilai program BOKS WVI memang sejalan dengan visi-misi pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat. Pria yang baru menjabat Kepala Dinas PPO ini mendukung keberlanjutan program BOKS di Manggarai dan daerah lain di NTT.

Pasalnya, hasil temuan langsung Wensislaus ketika mendatangi 234 sekolah di Manggarai, masih banyak peserta didik yang tidak sarapan. Dia merasa program BOKS menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi proses perkembangan dan belajar anak.

“Tentu hal-hal seperti ini yang kemudian kami rindukan. Mudah-mudahan 2-3 tahun yang akan datang, sekolah kami selama ini punya kesan kurang kreatif jadi tambah maju,” kata dia saat ditemui di kantornya di Kabupaten Manggarai, Rabu (12/3/2025).

Baca juga artikel terkait KESEHATAN ANAK atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi