Menuju konten utama

Air Bersih Amat Krusial Perbesar Peluang Sintas Korban Bencana

Selain itu, pemerintah juga perlu menaruh perhatian khusus pada kelompok bayi, lansia, serta ibu hamil dan menyusui.

Air Bersih Amat Krusial Perbesar Peluang Sintas Korban Bencana
Sejumlah warga korban banjir mengambil air bersih saat penyaluran di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Sabtu (6/12/2025). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Per Sabtu (6/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 914 orang meninggal dunia, 389 orang hilang, dan ribuan terluka akibat bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra.

BNPB melaporkan perkembangan penanganan dampak bencana di Sumatra setiap hari. Di hari-hari lalu, kerisauan terbit dari bencana yang memakan korban jiwa. Setelah beberapa pekan berlalu, kekhawatiran di tanah bencana justru bertambah karena kelaparan.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dengan gamblang menyatakan kekhawatirannya atas kelaparan yang mengintai di pengungsian.

"Kondisi membimbangkan, mati bukan mati [karena banjir], mati [karena] kelaparan," tuturnya kepada awak media, Sabtu (6/12/2025).

Muzakir yang juga dikenal sebagai Mualem menyebutkan sejumlah daerah yang paling rawan mengalami kelaparan karena terhambatnya distribusi bantuan, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara.

Gubernur Aceh Terobos Aceh Tamiang Antar Bantuan

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menerobos wilayah Aceh Tamiang untuk menyalurkan bantuan pada Rabu (3/12/2025) malam. (FOTO/Tim Media Gubernur Aceh)

Banjir juga disebutnya masih menggenangi akses menuju sejumlah kawasan itu. Beberapa jembatan di Aceh juga hancur imbas bencana.

"Mereka [bantuan] tidak dapat kami salurkan ke pedalaman karena masih banjir dan jembatan putus," ucap Mualem.

Di tengah kesulitan itu, Mualem menyebut BNPB masih berupaya menyalurkan bantuan ke sejumlah kawasan yang terisolasi menggunakan perahu karet.

"Semua upayakan, melalui BNPB, perahu karet antar ke situ," tutur Mualem.

Peluang Bertahan Hidup

Ahli kesehatan lingkungan sekaligus praktisi manajemen bencana, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa manusia secara umum dapat bertahan tanpa makan selama 10-20 hari. Namun, manusia hanya dapat bertahan tiga hari tanpa air.

Oleh karena itulah, akses air bersih di masa-masa darurat amat krusial. Selain perkara makanan, peluang manusia bertahan hidup juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya.

"Pada kondisi panas, apalagi diare atau luka terbuka, itu [korban bencana tanpa air] bisa [bertahan] hanya 1-2 hari. Bahkan kalau dia diare berat, dehidrasi berat, tidak akan dalam kurang dari atau kurang lebih 24 jam," terang Dicky melalui sambungan telepon, Senin (8/12/2025).

β€œIni [diare berat] menyebabkan gagal ginjal akut, gangguan irama jantung, penurunan kesadaran, dan akhirnya kematian. Jadi, tanpa air bersih manusia lebih cepat meninggal dibanding tanpa makanan," sambung dia.

Selain itu, kata Dicky, korban bencana riskan mengalami stres berat, luka, atau infeksi. Yang juga harus diperhatikan betul-betul adalah kelompok bayi atau balita, lansia, ibu hamil dan menyusui, serta orang dengan komorbid.

Akses antardesa di Aceh Tamiang mulai pulih

Warga melintasi jalan akses antardesa pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (7/12/2025). ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/nz

"Jadi, pada kelompok rentan ini, tanpa bantuan, itu bisa meninggal dalam satu atau tiga hari saja," tutur Dicky.

Dicky mengaku tidak dapat memperkirkan berapa persen korban bencana dapat bertahan hidup tanpa bantuan. Sebab, tidak ada angka pasti dalam hal tersebut. Akan tetapi, berdasar pengalamannya, jumlah kematian korban bencana akan meningkat drastis dalam 3-7 hari usai bencana bila tidak ada air bersih, tidak ada makanan, tidak ada layanan medis, cuaca ekstrem, dan tempat pengungsian padat.

"Maka secara etis medis, saya harus katakan secara jujur tidak boleh ada asumsi bahwa mereka [korban bencana] masih bisa bertahan sendiri," urai Dicky.

Senada dengan Dicky, Dokter Andreas Wilson Setiawan menyebutkan manusia dapat bertahap hidup tanpa makan mulai 7-10 hari. Lebih dari 10 hari, manusia disebut secara otomatis mengonsumsi karbohidrat di tubuh.

Tanpa minum, manusia disebut dapat bertahan hidup mulai 3-5 hari. Lebih dari 5 hari, manusia disebut akan mengalami dehidrasi berat.

"Kalau dalam keadaan bencana bisa jadi berbeda [rentang hidup manusia tanpa makan/minum] karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan, bahkan lebih pendek waktunya," tuturnya, Senin.

Peran Pemerintah Krusial

Dicky Budiman menegaskan pemerintah harusnya mengambil peran besar dalam menjamin kehidupan orang-orang yang terdampak bencana. Dia menilai menunda penyaluran bantuan sama dengan membiarkan korban meninggal perlahan.

Sebab, penundaan penyaluran bantuan berpeluang menyebabkan penyakit massal di antara korban bencana. Beberapa di antaranya diare, gizi buruk, kelelahan (hipoglikemia), hingga trauma psikologis berat.

"Termasuk, kerusuhan sosial karena berebut makanan. Jadi, kelaparan pascabencana bukan hanya masalah perut kosong, tapi pemicu runtuhnya seluruh sistem kesehatan masyarakat," ucapnya.

Dicky juga meminta semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, berupaya semaksimal mungkin membantu korban bencana di Sumatra. Pasalnya, air bersih hingga obat-obatan disebut masih belum tersalurkan secara merata ke korban bencana.

Minimnya bantuan disebut bukan menjadi kegagalan masyarakat, melainkan kegagalan pemerintah.

"Itu bukan kegagalan korban, bukan kegagalan masyarakat yang terdampak, tapi kegagalan sistem perlindungan kemanusiaan," kata Dicky.

"Keterlambatan bantuan pangan adalah penyebab kematian yang sepenuhnya, sepenuhnya, seharusnya, bisa dicegah, ya," lanjut dia.

Sementara itu, Andreas Wilson Setiawan menyatakan pemerintah harus memastikan akses jalan atau jembatan menuju lokasi bencana segera dipulihkan. Sebab, bantuan disebut akan berujung sia-sia ketika tidak ada akses menuju korban bencana.

"Ini konteks bencana ya, tentu adalah akses penyaluran bantuan dahulu yang terutama. Karena percuma kalau bantuan ada, tapi akses tidak ada," tuturnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi