Jelang Piala Super Cup UEFA

Adrian Punya Modal, tapi Apa Layak Gantikan Alisson di Liverpool?

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 14 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Cedera Alisson bikin Liverpool terpaksa bergantung pada performa Adrian di bawah mistar mereka, bisakah eks penggawa West Ham ini menjawab ekspektasi Jurgen Klopp?
tirto.id - Kurang dari sepekan setelah berkata skuatnya 'sudah cukup tangguh' untuk merebut gelar Premier League musim ini, manajer Liverpool, Jurgen Klopp harus mendapat ujian berat. Sabtu (10/8/2019) akhir pekan lalu, kiper andalan Klopp, Alisson Becker dihantam cedera saat Liverpool menjamu Norwich City di Stadion Anfield, pada pekan pertama Liga Inggris 2019-2020.

"Bukan kabar yang baik. Ali cedera betis yang akan bikin dia absen sementara," tutur Klopp setelah pertandingan.

Senin (12/8/2019) kemarin, kepastian soal cedera yang dialami Alisson akhirnya terjawab. Seperti dilaporkan laman resmi Liverpool, mantan penggawa AS Roma ini butuh waktu empat sampai lima pekan supaya bisa kembali ke kondisi terbaiknya. Ini berarti, Alisson baru bisa tampil ketika Liverpool menjamu Newcastle pertengahan September mendatang dan kudu rela absen dalam duel Piala Super Eropa melawan Chelsea, Kamis (15/8/2019) dini hari besok.

Peran Alisson lantas akan diisi Adrian San Miguel del Castillo, kiper berkebangsaan Spanyol yang baru direkrut The Reds musim panas kemarin.

"Dia [Adrian] telah melalui banyak situasi sulit selama kariernya. Aku yakin dia cukup melakukan hal normal dan semua akan baik-baik saja [di pertandingan besok]," tutur bek Liverpool, Virgil van Dijk menanggapi kesiapan rekannya.

Van Dijk boleh saja yakin, tapi bagi Adrian pertandingan besok akan menjadi sebuah tantangan besar.

Bermain di kompetisi Eropa barangkali sama sekali tidak ada dalam bayangannya musim lalu. Pada tahun terakhirnya di West Ham United, Adrian dibikin frustrasi karena cuma jadi pelapis kiper utama The Hammers, Lukasz Fabianski. Dari 38 laga EPL musim 2018/2019, dia tak semenit pun dapat kesempatan bermain. Adrian cuma tiga kali tampil dan itu cuma di ajang Carabao Cup.

Faktor ini pula yang bikin Adrian emoh memperpanjang kontrak di London Stadium dan menerima pinangan Liverpool. Manajer Liverpool, Jurgen Klopp kabarnya menjanjikan menit bermain lebih untuk Adrian.

"Adrian adalah orang yang selalu percaya diri dan aku tidak bilang dia datang ke sini cuma ingin duduk di bangku cadangan. Dia, telah membuat dirinya terlihat siap," aku Jurgen Klopp seperti dilansir Evening Standard.

Adrian, menurut Klopp, didatangkan sebagai solusi ketergantungan Liverpool terhadap Alisson Becker. Musim lalu, The Reds memaksa Alisson tampil dalam 52 pertandingan di seluruh kompetisi. Jika diteruskan sepanjang musim, kebugaran Alisson bisa jadi terganggu.

Lantas, di antara puluhan kiper berbakat di EPL, mengapa pilihan Klopp jatuh kepada Adrian?



Tangguh di Bawah Mistar


Salah satu faktor yang bikin Adrian populer di kalangan fans West Ham United beberapa tahun terakhir adalah ketangguhannya menghentikan tembakan keras lawan. Dalam hal adu penalti, kiper berusia 32 tahun ini juga bisa diandalkan.

Salah satu aksinya yang masih lekat di ingatan fans West Ham, adalah saat membawa timnya menundukkan Everton dalam adu penalti di Piala FA musim 2014/2015.

Ketangguhan Adrian di bawah mistar juga tercermin dalam rapor cleansheet-nya. Menurut laman resmi EPL, Adrian sukses mendulang 35 kali nirbobol dari 125 pertandingan. Untuk ukuran kiper yang menghabiskan banyak waktunya bermain bagi tim semenjana sekelas West Ham, catatan ini jelas patut diapresiasi.

"Sebelum setiap pertandingan, aku selalu melihat video rekaman tiga atau empat pemain lawan yang piawai mengeksekusi penalti," kisah Adrian dalam sebuah wawancara dengan FourFourTwo.

Selain persiapan, Adrian punya jangkauan tangan serta postur badan setinggi 1,9 meter yang bikin ia cakap mengadang bola dan menunjangnya berjibaku menghentikan tembakan lawan. Namun tak cukup sampai di situ, Matt Pyzdrowski, kolumnis di The Athletic yang juga kiper profesional asal AS, menilai potensi Adrian juga dipengaruhi satu faktor lain: dia piawai memanfaatkan kaki untuk leluasa bergerak.

Dalam teknik dasar sepakbola, menurut teori Pyzdrowski, ada tiga gerakan kaki yang biasa diandalkan penjaga gawang. Pertama, meloncat secara vertikal ke atas atau menjangkau bola ke depan. Kedua, menggunakannya sebagai langkah samping atau sebagai alat menjangkau bola secara horizontal. Dan terakhir, pijakan untuk memantul ke arah berlawanan layaknya cara kerja sebuah per. Adrian, menurut Pyzdrowski, menguasai ketiganya.

Saat menggantikan Alisson dalam pertandingan lawan Norwich, Sabtu lalu, Adrian telah membuktikan kemampuannya untuk melakukan dua teknik pertama dengan baik. Pada menit 79, Adrian menyelamatkan gawang Liverpool dari ancaman tembakan bebas Emiliano Buendia dengan teknik pertama. Sedangkan teknik kedua dia peragakan pada menit 90, ketika mengantisipasi sepakan luar kotak penalti Ben Godfrey yang mengarah tajam ke sisi kiri bawah gawang.


Untuk teknik dasar ketiga, Adrian pun kerap melakukannya ketika masih berkostum West Ham. Salah satunya saat dia mengamankan tendangan bebas Alexis Sanchez dalam sebuah partai EPL melawan Arsenal musim 2017-2018. Adrian, yang saat itu mampu membaca dengan jeli sepakan Alexis yang mengarah ke sisi kirinya, memilih sedikit bergerak ke kanan, kemudian menjulurkan badannya ke arah berlawanan layaknya sebuah per.

Dalam teknik dasar ketiga ini pula, Pyzdrowski menggarisbawahi perbedaan antara Adrian dengan Alisson.

"Alisson sebenarnya juga memiliki kemampuan bagus dalam hal ini. Bedanya, Adrian cenderung kerap mengambil langkah lebih panjang untuk bisa menjangkau bola lebih jauh. Sementara Alisson biasanya mengambil langkah yang secukupnya," tulisnya.



Tantangan Adrian

Perbedaan di atas bisa bermakna positif sekaligus negatif. Positifnya, Adrian punya jangkauan bola lebih jauh ketimbang Alisson. Namun negatifnya, terlalu banyak menyelamatkan gawang dengan gerakan ini bisa bikin Adrian kerap terlihat ‘berlebihan’.

Faktor ‘penyelamatan berlebihan’ ini yang kemudian bikin Adrian sempat mengalami fluktuasi dalam kariernya.

"Salah satu kelemahan terbesarnya adalah aksinya yang kerap mendramatisasi penyelamatan. Kadang dia memblok sebuah tendangan yang seharusnya lebih aman jika ditangkap," tutur Dan Lawless, seorang pengamat sepakbola yang juga sportcaster di West Ham Fan TV.

Argumen yang sama juga diutarakan penulis sepakbola Vice dan The Set Piece, Tom Victor. Dalam sebuah wawancara dengan This is Anfield, Victor bahkan menambah satu kelemahan Adrian, yakni sering buruk dalam mengambil keputusan. "Konsentrasinya terkadang terlihat kacau," imbuhnya.

Apa yang dimaksud Victor adalah tindakan Adrian yang kerap memilih mengambil risiko menjemput bola. Tidak seperti Alisson, yang punya kalkulasi matang sebelum naik ke luar kotak penalti, Adrian cenderung mudah terpancing keluar dari kotak enam belas.

Kebiasaan itu bahkan masih terlihat saat terakhir kali Adrian bertanding melawan Liverpool, klub yang ironisnya justru dia perkuat saat ini. Tepatnya pada partai EPL tertanggal 24 Februari 2018 di Anfield, hitung-hitungan Adrian mendekati striker The Reds, Roberto Firmino pada menit 57 justru jadi mala petaka. Firmino akhirnya melewati Adrian dengan sebuah dribel dan mencetak gol ketiga dalam laga yang berakhir dengan skor telak 4-1 tersebut.


Pengambilan keputusan yang buruk ini bakal jadi petaka jika dikaitkan dengan fakta bahwa Adrian belum lama berlatih dengan rekan-rekan setimnya (dia didatangkan ke Liverpool hanya lima hari sebelum laga pembuka EPL). Koordinasi dengan para pemain bertahan Liverpool pada akhirnya akan jadi aspek yang menentukan bagaimana performa Adrian selama tiga atau empat laga ke depan.

Baca juga artikel terkait LIVERPOOL atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mufti Sholih
DarkLight