Di Balik Sikap Fans Liverpool Suka Mengejek Lagu Kebangsaan Inggris

Oleh: Renalto Setiawan - 7 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Liverpool ialah kota yang berbeda dengan kota lain di Inggris. Saat kota lain memilih tunduk terhadap rezim, Liverpool lekat dengan perlawanan.
tirto.id - Fans sepakbola memang terbiasa menyoraki siapa saja: sesama fans yang berdiri dalam balutan seragam yang sama, fans tim lain, pemain mereka sendiri, dan pemain dari tim lawan. Namun dalam pertandingan Community Shield antara Liverpool versus Manchester City di Stadion Wembley, London, Ahad (4/8/2019) waktu Inggris, fans liverpool bikin dua hal langka.

Mereka menyoraki lagu kebangsaan Inggris, God Save The Queen dan melakukannya tepat di depan Pangeran William, putra mahkota Kerajaan Inggris Raya, yang hadir dalam pertandingan itu.

"Ketika nada pembuka lagu itu berkumandang," tulis Daniel Austin, editor konten di situs Liverpool.com, "lagu itu langsung disambut sorakan dari tribun yang dipenuhi suporter Liverpool."

Sorakan itu bukanlah wujud frustrasi para penggemar Liverpool karena hasil buruk anak asuh Jurgen Klopp dalam pertandingan pra-musim--tak dapat hasil maksimal lawan Borusia Dortmund, Sevilla, dan Sporting Lisbon--. Juga, bukan bentuk protes terhadap manajemen klub yang tak mau membeli pemain besar pada bursa transfer musim ini.

Cemoohan seperti ini bukan yang pertama kali dilakukan. Ulah serupa pernah dilakukan Liverpudlian di tempat yang sama pada 2012. Bahkan, saat sorakan mereka tidak cukup bikin gaduh se-Inggris,--terutama ketika Liverpool menguasai sepakbola Inggris pada tahun 70-an hingga 80-an--, mereka akan menyaingi lagu kebangsaan dengan menyanyikan You’ll Never Wall Alone pada saat bersamaan.

Fans Liverpool tentu mempunyai alasan yang lebih kuat untuk bersikap seperti itu. Apa?


Bentuk Perlawanan


Menurut Austin, Liverpool adalah kota yang "berbeda" dengan kota-kota di Inggris kebanyakan. Saat kota lain terisolasi dan memilih tunduk terhadap rezim, Liverpool memilih jalan lain. Liverpool membuka diri dan memandang luas hingga ke segala pelosok dunia. Berbagai kebudayaan dari beragam negara pun campur aduk di kota itu. Alhasil, keluarga kerajaan jadi tak populer di Liverpool.

Dalam politik, pandangan ini kemudian memberikan pengaruh yang amat besar: sejak 1979, dalam setiap pemilihan tunggal, Liverpool mantap memilih Partai Buruh sayap kiri. Sementara itu, sebagian besar Inggris mantap mengarah ke kanan.

Dari sana, Liverpool pun akhirnya "dikucilkan" di Inggris. Mereka dianggap "yang liyan" oleh kota-kota Inggris lainnya, sering mendapat perlakuan tak adil dari pemerintah, hingga dianggap musuh besar orang-orang konservatif.

Soal perlakuan buruk pemerintah Inggris terhadap Liverpool, kebijakan Margareth Thatcher, Perdana Menteri Inggris pada era 80-an, bisa menjadi contoh.

Saat terjadi kerusuhan besar di Toxteth, Liverpool, pada 1981, yang disebabkan tindakan semena-mena kepolisian Merseyside terhadap komunitas kulit hitam, Thatcher, memilih mendiamkan kerusuhan itu. Kerusuhan itu padahal bukan semata soal saling serang antara polisi dan kelompok kulit hitam, melainkan karena tingginya pengangguran di Toxteth.

Dalam sebuah laporan yang dirilis BBC, Thatcher malah berkata memperbaiki keadaan di Liverpool setelah kerusuhan Toxteth hanya akan "buang-buang uang negara." Tak sampai di situ, kebijakan The Iron Lady soal Tradegi Heysel dan Tragedi Hillsborough, makin bikin Liverpudlian makin membencinya.

Terkait Tragedi Hillsborough, misalnya, Thatcher bukannya menginvestigasi kejadian, tapi malah berpandangan itu tak akan pernah terjadi seandainya para pendukung Liverpool tidak bertingkah barbar. Kelak, setelah terus diusut, pendukung Liverpool akhirnya mampu membuktikan mereka hanyalah korban dari tragedi memilukan itu.

Puluhan tahun selepas Thatcher lengser, label Liverpool sebagai musuh besar orang-orang konservatif kembali menguat setelah Boris Johnson terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris pada Juli 2019. Para pendukung Liverpool punya sejarah panjang bermusuhan dengan Johnson.

Pada 2004, Johnson sempat melabeli Liverpool sebagai "kota nelangsa" dan menyebut orang-orang Liverpool selalu "berkubang dengan status mereka sebagai korban" dalam sebuah tulisannya di The Spectator. Kala itu, Liverpool langsung menuntut permintaan maaf, tapi Johnson menolak.

Namun yang mengganjal, mengapa dari permusuhan panjang Liverpool dengan pemerintah Inggris ini, lagu God Save The Queen yang menjadi sasaran tembak?

Alasannya, dalam lagu tersebut terdapat bait lirik yang berbunyi: "God save our gracious Queen, long live our noble Queen/send her victorious, happy and glorious, long to reign over us."

Bagi orang-orang Liverpool lirik itu tentu tak masuk akal. Dan, Austin pun menuliskan soal ketidakmasukakalan itu.

"Bisakah kita berhenti sejenak dan memikirkan betapa konyolnya kata-kata itu? Mengapa orang-orang berdiri, menaruh tangan di dada mereka, menyanyikan sebuah lagu wujud kepatuhan terhadap seseorang yang dilahirkan penuh kekayaan, kekuatan, dan hak istimewa karena tidak lebih dari keberuntungan genetika semata? Mengapa ada orang yang rela menghabiskan 60 detik untuk mengutarakan harapan kepada seseorang yang memiliki kekayaan tak terhitung... yang akan membuat mereka seakan hidup selamanya?"



Dibenci di Inggris


Fans Liverpool boleh saja punya pikiran seperti Austin, tapi publik Inggris dari kota di luar Liverpool tentu punya penilaian sendiri. Beberapa mau memahami, ada yang mengerti tapi menyayangkan, dan ada juga menghujat dengan menggunakan kacamata kuda.

Henry Winter, penulis olahraga di The Times, adalah salah satu yang memahami tapi juga menyayangkan sikap tersebut. Menurutnya, lagu kebangsaan Inggris memang kalah meriah, jika misalnya dibandingkan dengan La Marseillaise, lagu kebangsaan Perancis. Namun, fans Liverpool seharusnya bisa membedakan urusan di Istana Buckingham dan Istana Westminster yang menjadi pusat pemerintahan Inggris, sehingga Ratu Inggris seharusnya tak dilibatkan dalam protes tersebut.

"Puluhan ribu penggemar Liverpool yang bikin keributan itu akan mendapatkan rasa hormat seandainya mereka terdiam selama lagu kebangsaan dinyanyikan. Mereka bisa melakukan protes keras terhadap Johnson dan Thatcher setelah itu. Mengapa mereka harus memberikan "hadiah" kepada Ratu saat Thatcher lebih layak mendapatkannya?" tulis Winter.

Selain itu, saat fans Liverpool menganggap kehadiran Pangeran William di laga itu sebagai waktu yang tepat untuk mempertontonkan perlawanan, Winter justru menganggap sebaliknya: Pangeran William datang sebagai petinggi FA juga sebagai penggemar sepakbola, "mengapa ia harus diserang?"

Winter lantas berkesimpulan bahwa protes itu justru bakal bikin Liverpool semakin dibenci di Inggris.

Kesimpulan Winter itu tentu ada benarnya. Sejauh ini, sudah menjadi rahasia umum kalau Liverpool adalah klub yang paling dibenci di Inggris. Saat Manchester United, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, hingga Manchester City gagal menjadi juara, para penggemar mereka akan menyebut tim mana saja boleh menjadi juara, asal bukan Liverpool.

Selain karena sikap "berbeda" Liverpool, penyebab kebencian ini bermacam-macam. Pada 2017, lewat salah satu tulisannya di FourFourTwo, Mark Langshaw setidaknya memberikan beberapa alasan mengapa Liverpool dibenci: dari fans Liverpool yang selalu mengenang kejayaan masa lalu, keberuntungan, tim sepakbola untuk para turis dan para selebritis, dan lain-lain.

Namun, Liverpool--dan Liverpudlian maupun The Kopites--barangkali tak akan pernah menggubris pandangan tak mengenakkan tersebut. Bagaimana pun, Liverpool memang berbeda: lewat perjalanan panjang bersejarah, politik memang sudah mengakar di dalam budaya Liverpool.

Seperti Bill Shankly, mantan pelatih legendaris The Reds, Liverpool percaya bahwa sepakbola lebih dari sekadar urusan hidup dan mati.

"Bentuk sosialisme yang aku yakini ialah saat setiap orang bekerja satu sama lain dan saling berbagi penghargaan. Aku melihat kehidupan dengan cara seperti itu, pun demikan saat melihat sepakbola," kata Shankly.

Liverpool pun tampaknya akan terus menggunakan pernyataan itu sebagai mantra ampuh untuk melawan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip mereka. Tak peduli apa kata orang. Tak peduli seberapa besar mereka harus menanggung kebencian.

Baca juga artikel terkait PREMIER LEAGUE atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih
DarkLight