Ada Gurita Lippo di Balik Strategi Grab Gandeng OVO

Infografik Go pay vs grab evo
Ilustrasi Grabpay. FOTO/grab.com
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 19 Juli 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kerja sama strategis antara Grab dengan OVO merupakan bagian dari open ecosystem. Namun, di balik itu ada strategi hulu dan hilir dari entitas bisnis Lippo.
tirto.id - “Baru selama tiga hari terakhir pakai Grab OVO karena baru sejak bulan Ramadan kemarin aktif lagi pakai Grab. Saya sih intinya suka yang non-tunai karena biar enggak ribet cari-cari uang receh,” kata Teti Purwanti, 30 tahun, kepada Tirto.

Sebagai freelancer yang punya aktivitas luas, Teti terbantu dengan aplikasi transportasi online. Ia termasuk yang lebih memilih memakai sistem pembayaran elektronik karena mudah dan praktis. Di Indonesia tersedia beberapa uang elektronik yang disediakan penyedia aplikasi transportasi online yang jumlah pengguna seperti Teti terus bertambah.

OVO Balance sudah tidak asing lagi bagi para pengguna Grab. Dahulu, pengguna Grab sempat akrab dengan GrabPay, kini ada OVO Balance. OVO Balance memang baru meluncur sebagai salah satu fitur pembayaran elektronik atau non-tunai di Grab, sejak awal Juni 2018.

Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia belum mengetahui pertumbuhan transaksi non-tunai OVO Grab melalui OVO Balance saat ini. Ridzki juga mengaku, pihaknya masih belum dapat menghitung besaran sumbangan atau porsi dari penggunaan OVO Balance oleh pelanggan Grab terhadap keseluruhan transaksi non-tunai di Grab.

“Karena layanan ini baru saja berjalan, mungkin baru sekitar 1 bulan jadi kami belum bisa menyebutkan pertumbuhannya,” jelas Ridzki beberapa waktu lalu dalam seremonial kerja sama OVO dengan Grab di Jakarta.

Ridzki menjelaskan, fitur dompet elektronik OVO Balance yang terdapat dalam aplikasi Grab merupakan pilihan alat pembayaran non-tunai yang bisa digunakan konsumen, di samping pembayaran secara non-tunai lainnya yaitu melalui kartu debit maupun platform dompet digital lainnya.


Grab sempat punya layanan uang elektronik bernama GrabPay yang meluncur pada Januari 2016. Para pengguna Grab dapat mengisi uang elektronik GrabPay dengan menggunakan kartu kredit, transfer bank ataupun juga melalui beberapa minimarket yang telah bekerjasama secara resmi.

Co-Founder Grab, Hooi Ling Tan pada akhir 2016 sempat menyatakan menguasai metode pembayaran non-tunai merupakan hal yang krusial bagi pencapaian misi Grab sebagai driving Southeast Asia Forward, yang membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempercepat transisi menuju masyarakat non-tunai.

“Sejak peluncuran GrabPay pada Januari 2016, kami telah menarik minat lebih banyak pengguna yang ditandai dengan pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan dari bulan ke bulan,” ucap Hooi Ling Tan seperti dikutip dari DailySocial.

Akhir April 2017, Head of GrabPay yang dijabat oleh Jason Thompson optimistis GrabPay tumbuh pesat dalam industri pembayaran elektronik dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Sikap optimistis Grab tak sesuai harapan. Sebab, pada Oktober 2017, fitur dompet elektronik milik Grab yaitu GrabPay dibekukan operasionalnya oleh Bank Indonesia (BI). Fitur GrabPay belum memperoleh lisensi atau izin dari BI sebagai penerbit uang elektronik. Dengan begitu, pengguna Grab hanya bisa menggunakan pembayaran menggunakan saldo yang masih tersisa tanpa bisa melakukan isi ulang atau sistem pembayaran lain.

Untuk bisa mendapatkan lisensi dari BI memang tak mudah bagi platform pembayaran uang elektronik. Salah satu aspek yang krusial adalah Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 20/06/2018, yang mensyaratkan dokumen tambahan, seperti misalnya seperti surat pernyataan dan jaminan (representation and warranties), dan dokumen kepemilikan saham 51 persen adalah warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. Ketentuan ini berimbas pada beberapa perusahaan penyedia layanan uang elektronik.


Pada Desember 2017, fitur pembayaran elektronik GrabPay sempat muncul lagi pasca pembekuan. Ini menyusul pengumuman kerja sama dengan PT Visionet Internasional yang telah mendapatkan lisensi BI untuk menerbitkan uang elektronik bernama OVO sejak Agustus 2017. Lagi-lagi Jason Thompson bilang, “GrabPay, fitur non-tunai dalam aplikasi Grab melakukan co-branding dengan OVO dan berganti nama menjadi ‘Grabpay Powered by OVO’,” kata Jason seperti dikutip dari Kompas.

Namun tak lama berselang, pada akhir Januari 2018 fitur co-branding dompet elektronik Grab tersebut tidak dapat digunakan kembali dan sempat mati suri sampai dengan akhir Mei 2018. Mediko Azwar, Marketing Director Grab Indonesia menyatakan, fitur dompet elektronik tersebut dinonaktifkan karena terdapat kendala teknis dalam fitur isi ulang atau top-up, sehingga perlu dilakukan perbaikan.

“Memang kami sedang up-grade server base untuk top-up layanan GrabPay. Jadi masih ada kendala,” ucap Mediko seperti dilansir dari DailySocial.

Sampai akhirnya pada Juni 2018, fitur pembayaran elektronik di aplikasi Grab menjadi OVO Balance dan dapat digunakan sepenuhnya oleh pengguna termasuk fitur isi ulangnya. Apakah OVO Balance selamanya akan menjadi fitur pembayaran non-tunai resmi dari Grab sebagai pengganti GrabPay?

Ridzki pun memberikan jawaban samar atas pertanyaan ini. “Kami memilih untuk melakukan strategic partnership dengan OVO dibanding membesarkan fitur dompet digital secara organik (sendiri), dan diharapkan menjadi pilihan utama untuk pembayaran non-tunai bagi pelanggan Grab,” jelas Ridzki.



Ridzki menegaskan strategic partnership dengan OVO merupakan bagian dari open ecosystem yang dilakukan untuk menyentuh 60 juta pengguna smartphone di Indonesia termasuk pengguna Grab yang tersebar di 135 kota. Ini memberi kesan bahwa Grab di Indonesia tidak akan membesarkan GrabPay yang digadang-gadang sejak awal akan menjadi andalan mereka. Ada peluang, Grab sepenuhnya bakal menyerahkan mekanisme transaksi non-tunai kepada OVO.




Dengan adanya strategic partnership, seluruh kebutuhan pembayaran digital pelanggan Grab bisa terlaksana, tidak hanya pembayaran transportasi online, tetapi juga untuk pembayaran pesan-antar makanan alias GrabFood, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh GrabPay.

Open Ecosystem atau ekosistem terbuka ini diakui oleh Adrian Suherman, President Director OVO, dapat menjadikan OVO sebagai dompet digital yang universal di Indonesia. Kerja sama dengan berbagai pihak termasuk dengan Grab, menurut Adrian, membantu mempercepat transformasi ekonomi digital di Indonesia.



“Inklusi keuangan menjadi salah satu tantangan terbesar di Indonesia saat ini. Dengan open ecosystem yang dilakukan OVO bersama mitra-mitra strategis lainnya, diharapkan mampu membuat transaksi pembayaran non-tunai menjadi lebih mudah bagi masyarakat Indonesia di manapun berada,” kata Adrian.

Adrian mengklaim, hingga saat ini OVO telah diunduh sebanyak 5-10 juta kali. Selain itu, platform ini selain melakukan strategic partner dengan Grab, juga melakukan kemitraan dengan entitas lainnya seperti perbankan yaitu Bank Mandiri dan Alfamart.

Data unduhan sebanyak 5-10 juta kali tidak pasti mencerminkan seluruh transaksi OVO yang digunakan di Grab tapi untuk seluruh kegiatan pembayaran elektronik yang bermitra dengan OVO. Di dalamnya juga ada karyawan Lippo Group yang menggunakan pembayaran untuk transaksi non-tunai. OVO merupakan platform pembayaran digital di bawah Grup Lippo. Multipolar yang jadi bagian Grup Lippo bidang teknologi digital memiliki anak usaha PT Visionet Internasional yang punya layanan aplikasi OVO.

Kerja sama strategis antara Grab dan OVO (Lippo) ibarat simbiosis mutualisme. Grab butuh memanjakan para pelanggannya agar bisa mengakses berbagai ekosistem, sedangkan OVO butuh dukungan pengguna. Keduanya memang punya kedekatan, dalam laman resmi Lippo Group mencantumkan informasi investasi Lippo pada GrabTaxi melalui Venturra Capital. Techinasia pernah membuat laporan pada Maret 2016 lalu, soal pengakuan Direktur Lippo Group John Riady bahwa Lippo merupakan salah satu investor di Venturra Capital sebagai perusahaan yang membenamkan modal di Grab.



Laporan Indonesia Digital Landscape yang diterbitkan oleh GDP Venture menyebutkan, Grab di Indonesia memiliki pertumbuhan penetrasi pengguna sebesar 3,93 persen dengan pertumbuhan pengguna aplikasi sebanyak 29,65 persen per akhir tahun 2017. Laporan tersebut juga menyatakan, Grab di Indonesia melayani 7,6 juta pelanggan setiap harinya, sebelum bergabung dengan Uber pada kuartal I-2018.

Pertumbuhan Grab tersebut mengekor pertumbuhan Go-Jek yang per akhir 2017 memiliki pertumbuhan penetrasi mencapai 7,41 persen dengan pertumbuhan pengunduh aplikasi sebesar 33,03 persen. Sepanjang 2017, Go-Jek melayani 8,2 juta perjalanan setiap hari. Upaya Grab maupun Go-Jek mengembangkan platform layanan uang digital tak terlepas dari potensi pasar yang besar.



Laporan KPMG (PDF) tahun 2017 menyebutkan, layanan pembayaran uang digital yang dikembangkan oleh aplikasi transportasi online tumbuh lebih pesat dibanding pertumbuhan bisnis perusahaan e-commerce. Ini seperti tergambar di pertumbuhan Go-Pay maupun GrabPay yang dilakukan oleh Go-Jek dan juga Grab. Menurut KPMG, sebanyak 24 persen dari pertumbuhan uang elektronik di Indonesia secara keseluruhan, disumbang oleh uang elektronik dari aplikasi transportasi online. Indonesia diperkirakan akan mengalami ledakan pembayaran non-tunai pada 2020 mendatang.

“Secara keseluruhan, Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan uang elektronik tertinggi di smartphone dengan pertumbuhan mencapai dua digit. Penggunaan uang elektronik di Indonesia dominan digunakan untuk transportasi online dan menjadikannya sebagai transaksi ritel terbesar,” tulis laporan (PDF) tersebut.

Dalam konteks kerja sama strategis Grab dan OVO dalam platform uang elektronik, semakin menegaskan penguasaan hulu dan hilir, dalam arti ekosistem (Grab) dan sistem pembayaran digital (OVO) perlu dikuasai. Ini perlahan telah dilakukan oleh Lippo yang jauh-jauh hari sudah ancang-ancang masuk bisnis era digital.

Baca juga artikel terkait GRAB atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight