Menuju konten utama

Abdul Kahar Mudzakir: Darinya Timur Tengah Mengenal Indonesia

Di Yogyakarta, Abdul Kahar terlibat dalam pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga.

Abdul Kahar Mudzakir: Darinya Timur Tengah Mengenal Indonesia
Header Mozaik Abdul Khahar Mudzakir. tirto.id/Fuad

tirto.id - Mendung bergelayut di wajah Abdul Kahar tatkala mengunjungi makam kakek buyutnya di Tondano, Sulawesi Utara. Menurut Hamka, sahabatnya, kakek buyut Abdul Kahar adalah salah satu komandan pasukan Diponegoro yang diasingkan ke wilayah itu.

Darah perjuangan itulah yang agaknya mengalir dalam nadi Abdul Kahar. Tumbuh di tengah keluarga muslim modernis dan melewatkan masa mudanya di Mesir menjadikannya sosok aktivis, jurnalis, akademisi, dan politisi muslim yang berjasa besar mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Aktivis di Mesir

Seturut Mitsuo Nakamura dalam “Prof. H. Abdul Kahar Muzakkir dan Perkembangan Gerakan Islam Reformis di Indonesia” (2019: 206), sejak 1925 Abdul Kahar sudah berada di Mesir. Kepergiannya ke negeri seribu menara itu berkat dukungan finansial Haji Muchsin, salah seorang pamannya yang sukses menjalankan usaha grosir di Kotagede, Yogyakarta.

Semula Abdul Kahar ingin bermukim dan melanjutkan pendidikannya di Makkah, di samping untuk menunaikan haji. Namun karena situasi politik yang memanas antara Kerajaan Hijaz dan Kesultanan Nejd, ia terpaksa mengalihkan perhatian ke Mesir.

Sebagaimana pelajar asing yang baru tiba di Mesir, Abdul Kahar terpesona dengan daya tarik Universitas Al-Azhar. Namun setelah mendaftar dan menjalani perkuliahan selama dua tahun ia memutuskan pindah ke sebuah kampus yang kelak dikenal dengan Universitas Kairo.

Semula kampus swasta ini bernama Universitas Mesir, didirikan pada 1908. Pada 1925 pemerintah setempat mengambil alihnya, dan pada 1940 mengubah namanya menjadi Universitas Fuad I. Nama Universitas Kairo baru resmi digunakan pada 1954.

Abdul Kahar menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar pascasarjana dalam kajian hukum Islam pada 1936. Selain sibuk belajar, ia juga aktif dalam dunia pergerakan mewakili mahasiswa Jawah, sebutan orang Arab untuk kepulauan Nusantara.

Ia membidani berdirinya Jam’iyyah Syubbanil Muslimin dan dipercaya sebagai ketua Jam’iyyah Khairiyyah Indonesia. Ia juga turut serta mendirikan Perhimpunan Indonesia Raya cabang Mesir dan terpilih menjadi ketuanya yang pertama.

Dalam kapasitasnya sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di Mesir atau umat Islam di Indonesia, Abdul Kahar sering diminta hadir dalam berbagai konferensi umat Islam internasional, baik di Mesir maupun di negara-negara Timur Tengah.

Aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa juga membuat Abdul Kahar sering bersentuhan dengan tokoh-tokoh terkemuka. Tak kurang Sayyid Qutb, figur penting Ikhwanul Muslimin dan penyusun tafsir Fi Zhilalil Qur’an, berteman dengannya. Demikian pula tokoh-tokoh Partai Wafd, partai liberal nasionalis yang didirikan oleh Saad Zaghloul.

Sebagai pribadi yang terpelajar dan kritis ia kerap mengirimkan tulisan untuk dimuat di berbagai media massa Mesir seperti Al-Ahram, Al-Balagh, dan Al-Hayat. Di kemudian hari setelah bersinggungan dengan tokoh-tokoh Palestina ia dipercaya menjadi redaktur surat kabar Palestina, Al-Tsaurah.

Infografik Mozaik Abdul Khahar Mudzakir

Infografik Mozaik Abdul Khahar Mudzakir. tirto.id/Fuad

Pada 1931, Mufti Besar Yerusalem (1921-1937) yang bernama Sayyid Amin al-Husaini mengundang Abdul Kahar untuk hadir dalam Muktamar Islam Internasional di Palestina dalam kapasitasnya sebagai wakil umat Islam Asia Tenggara.

Dalam forum internasional tersebut Abdul Kahar menjadi peserta termuda dan terpilih menjadi sekretaris muktamar mendampingi Sayyid Amin. Dalam kesempatan itu pula ia memperkenalkan Indonesia kepada utusan negara-negara muslim dunia.

Sayyid Amin adalah ulama lulusan Universitas al-Azhar dan murid Rashid Ridha, seorang tokoh muslim modernis pengarang tafsir Al-Manar. Untuk menentang kebijakan Inggris terkait migrasi orang-orang Yahudi ke Palestina, ia menggalang dukungan dari sejumlah pemimpin dunia, termasuk diktator Jerman Adolf Hitler.

Pada 6 September 1944 setelah mendengar janji Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso terkait kemerdekaan Indonesia, Sayyid Amin mengucapkan selamat kepada bangsa Indonesia melalui sambungan radio yang didengar oleh negara-negara Arab.

Meski disiarkan setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ucapan selamat dari mantan Mufti Besar Yerusalem itu membuka mata negara-negara Arab terhadap eksistensi Indonesia dan mendorong mereka, setidaknya setelah naskah Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, untuk memberikan pengakuan terhadapnya.

Berkhidmat di Muhammadiyah

Abdul Kahar hanya dua tahun belajar di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kotagede. Saat kelas tiga ia pindah ke Surakarta dan masuk Madrasah Mambaul Ulum, sekolah Islam modern yang didirikan Kanjeng Raden Penghulu (KRP) Tafsir Anom V.

Selesai menimba ilmu di Mambaul Ulum ia mendaftar di Pesantren Jamsaren, sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh Kiai Jamsari pada 1750. Pesantren tersebut memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Pangeran Diponegoro sebab menjadi salah satu pendukungnya dalam Perang Jawa (1825-1830).

Abdul Kahar juga tercatat pernah nyantri di Pesantren Tremas yang saat itu diasuh KH. Dimyathi, yang juga guru KH. Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Pendiri Pesantren Tremas adalah KH. Abdul Mannan bin Dipomenggolo. Konon ia adalah angkatan pertama pelajar Indonesia yang bermukim di Mesir.

Setelah tamat dari Pesantren Tremas itulah, di usia yang masih 16 tahun, Abdul Kahar pergi ke Mesir dan melanjutkan pendidikan di sana. Setelah 12 tahun tinggal di Mesir ia pulang ke Indonesia dan berkhidmat di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Abdul Kahar juga melibatkan dirinya dalam aktivisme politik, di antaranya dengan menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII) pada 1938. Ketika Perang Pasifik antara Jepang dan Sekutu meletus ia tercatat sebagai salah satu pengurus Pemuda Muhammadiyah.

Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942 ia ditunjuk oleh Badan Intelijen Militer Jepang di Jakarta sebagai komentator siaran luar negeri berbahasa Arab dan Inggris. Pada 1944 ia dipindahkan ke Departemen Urusan Agama hingga menjadi Kepala Deputi.

Setelah lama bergelut di dunia politik Abdul Kahar kembali masuk ke dunia akademik. Saat Indonesia masih di bawah pendudukan Jepang ia membidani berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta dan ditunjuk sebagai rektornya. Pada 1947 STI berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dan lokasinya dipindah ke Yogyakarta.

Di tanah kelahirannya itu Abdul Kahar terlibat dalam pendirian lembaga pendidikan tinggi Islam milik pemerintah, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, kini dikenal dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Di lingkungan Muhammadiyah jasa Abdul Kahar juga masih bisa disaksikan, di antaranya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Aisyiah (Unisa) Yogyakarta.

Di Gelanggang Ibu kota

Abdul Kahar memang lahir di Yogyakarta, di episentrum gerakan modernisme Islam Muhammadiyah. KH. Mudzakir ayahnya berteman dekat dengan KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi tersebut. Meski begitu, Jakarta adalah kota yang melambungkan namanya.

Kiprahnya sebagai Kepala Deputi Departemen Urusan Agama menjadikannya tokoh yang diperhitungkan menjelang kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik. Ia pun ditunjuk menjadi anggota Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat), dengan Ir. Soekarno sebagai ketuanya.

Ketika Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk, Abdul Kahar juga masuk sebagai anggota. Demikian pula ketika Ir. Soekarno membentuk Panitia Sembilan, ia lagi-lagi menjadi salah satu tokohnya.

Sebagai wakil Muhammadiyah, Abdul Kahar terlibat langsung dalam merumuskan dasar negara. Bersama KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil Nahdhatul Ulama (NU) serta H. Agus Salim dan Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil politisi Islam, ia berusaha memastikan kepentingan umat Islam terakomodasi dalam sidang-sidang Panitia Sembilan.

Abdul Kahar pun dikenal sebagai salah satu perumus dasar negara dalam sidang yang berlangsung pada 22 Juni 1945. Rumusan dasar negara itu kemudian dipopulerkan oleh Prof. Mr. Mohammad Yamin dengan sebutan Piagam Jakarta (Jakarta Charter).

Pasca kemerdekaan Abdul Kahar Mudzakir melanjutkan kiprahnya di Pengurus Besar (kini Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, di samping aktif di Partai Masyumi. Mewakili partai tersebut pada Pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Dewan Konstituante.

Abdul Kahar Mudzakir mengembuskan napas terakhir pada 2 Desember 1973. Jenazahnya dikubur di pemakaman sederhana berdekatan dengan makam KH. Mudzakir ayahnya dan H. Muchsin pamannya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan lainnya dari Firdaus Agung

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Firdaus Agung
Penulis: Firdaus Agung
Editor: Nuran Wibisono