6 Cara Membangun Komunikasi dengan Anak: Hindari Kalimat Negatif

Penulis: Dhita Koesno - 9 Jul 2020 12:53 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Cara berkomunikasi dengan anak: membuat posisi nyaman saat berbicara, menjadi pendengar yang baik, hingga selalu menghindari kalimat negatif.
tirto.id - Membangun komunikasi dengan anak menjadi tantangan tersendiri pagi para orang tua, karena pola komunikasi antara orang tua dan anak akan memengaruhi tumbuh kembang anak serta akan terbawa hingga ia dewasa.

Menurut Psikolog anak Dian Nirmala, budaya pola komunikasi orangtua dan anak di Indonesia umumnya tidak terbiasa untuk menyampaikan pendapat secara langsung.

"Di Indonesia itu budayanya enggak pernah langsung terbuka untuk ngomong ke masalah intinya apa, harus basa-basi dulu, ngomong hal lain dulu, ngomong masalah orang lain dulu," ujar Dian seperti dilansir dari Antara.

Padahal, kata Dian, jika komunikasi lancar, anak akan percaya diri, kreatif dan berani mencoba berbagai tantangan. Sebaliknya, jika komunikasi tidak berjalan dengan lancar maka akan muncul kesalahpahaman, salah menilai dan keliru dalam bersikap.

"Itu akan menimbulkan potensi masalah yang besar. Keluarga diharapkan jadi wadah untuk anak menghadapi konflik, karena di rumah itu kan biasa ada perbedaan pendapat dan pandangan. Kalau anak enggak biasa menghadapi konflik, ke depannya rentetan masalahnya akan panjang sekali," jelas Dian.

Ada 5 macam bentuk komunikasi yang dilakukan orangtua kepada anak, berikut penjelasannya seperti dikutip dari situs Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud):

    • Komunikasi terbuka
Orangtua memposisikan dirinya sebagai seorang teman, sehingga anak akan leluasa bercerita dan mengekspresikan perasaan serta pikirannya kepada orangtua dan orangtua mau mendengarkannya juga mau memberikan pendapat jika diminta, begitu pula sebaliknya.

    • Komunikasi terapung
Orangtua dan anak melakukan komunikasi hanya untuk basa basi saja, biasanya sebuah pertanyaan yang diberikan membutuhkan jawaban yang sangat singkat. Misal, ”Adek sudah makan belum hari ini?” dan dijawab ”Sudah, Bu”, tanpa ada kelanjutan lebih mendalam.

Hal ini terjadi karena di antara keduanya tidak ada rasa untuk saling terbuka, sehingga tidak ada keinginan untuk mengetahui segala hal lebih mendalam.

    • Komunikasi cuek
Komunikasi ini terjadi apabila di antara anggota keluarga satu sama lain saling menghindar. Mereka akan berbicara dalam waktu yang singkat, bahkan pembicaraan yang belum selesai akan segera ditinggal pergi atau mengerjakan hal lain.

Dengan begitu terjadi pembicaraan yang tidak terfokus antara anak dan orangtua.

    • Komunikasi satu arah
Dalam tipe ini, biasanya terdapat satu figur yang paling mendominasi di dalam sebuah keluarga, misalnya ayah atau ibu. Figur ini yang akan menentukan kapan saja waktu anak berbicara.

Tipe komunikasi ini menuntut anak menuruti semua perintah orangtuanya. Orangtua memberikan segala hal dengan semaunya tanpa meminta pendapat atau mendengarkan anak. Dengan begitu, apabila anak memiliki keinginan, mereka jarang mengungkapkannya.

Anak akan terbayang dengan kemarahan orangtuanya, dan ini membuat anak berpeluang untuk melakukan sebuah kebohongan.

    • Silent communication
Pada tipe ini sangat jarang sekali terjadi pembicaraan di antara orangtua dan anak. Bisa jadi karena faktor kesibukan yang melanda salah satu atau keduanya.


Infografik SC Cara Berkomunikasi dengan Anak
Infografik SC Cara Berkomunikasi dengan Anak. tirto.id/Fuad


Cara Berkomunikasi dengan Anak


Untuk membangun komunikasi efektif antar orangtua dan anak agar terjadi komunikasi aktif dua arah, ada 6 cara yang bisa dilakukan:

1. Pancing anak bercerita

Tidak hanya orangtua saja yang memiliki suatu permasalahan, namun sesungguhnya anak-anak pun memiliki hal serupa. Misal saat anak buang air kecil di celana, lalu saat dipanggil orangtuanya ia tidak mau beranjak karena takut kena marah.

Di sini peran orangtua untuk tanggap dan peka terhadap gerak-gerik dan kebiasaan anak. Karena jenis anak mengomunikasikan suatu permasalahan ada yang harus di wawancarai dahulu dan ada pula yang berani menyampaikan permasalahannya tanpa harus ditanya.

2. Buat posisi nyaman saat berbicara

Tatap atau pandang anak saat tengah bercerita, seperti orangtua duduk di sebelahnya dan memposisikan badan ke arah anak, atau orangtua menyetarakan tinggi mata dengan cara berlutut.

3. Menjadi pendengar yang baik

Dengan menunjukkan rasa antusias orangtua kepada anak, mereka akan merasa dirinya dihargai. Mereka tak akan segan menceritakan segala hal mulai dari yang terkecil hingga yang besar. Hal ini akan berdampak besar hingga anak dewasa.

4. Menghargai pendapat anak

Saat tengah terjadi suatu diskusi dalam sebuah keluarga, perkenankanlah seluruh anggota keluarga menyampaikan pendapatnya masing-masing. Berikan ruang bicara, terutama anak untuk berpendapat. Orangtua dilarang meremehkan pendapat anak.

Saat anak berbicara dan mengungkapkan pendapatnya, di situlah anak akan belajar berbicara di depan umum dengan begitu rasa percaya diri anak menjadi meningkat, tak hanya itu anak juga akan belajar bersosialisasi di lingkungan masyarakat karena sudah terbiasa berbicara di depan umum.

5. Hindari kalimat negatif

Orangtua memang kerap kali memberikan nasihat kepada anak, tetapi yang perlu diingat, jangan melontarkan kalimat negatif.

Kalimat negatif membawa banyak dampak negatif pula kepada anak, di antaranya mereka akan kehilangan kepercayaan kepada orangtua dalam beberapa waktu, dan menurunkan rasa percaya diri pada anak

6. Beri pujian dan kritikan membangun

Berikan apresiasi kepada anak jika telah melakukan tindakan yang baik, namun jangan berlebihan. Hargai setiap jerih payahnya dan berikan semangat lebih agar anak dapat termotivasi memberikan dan melakukan hal yang baik.

Namun, ketika anak mengalami keterpurukan atau kegagalan, rangkul mereka dan berikan motivasi yang dapat membesarkan hati mereka, dan orangtua baiknya selalu berada di samping mereka dalam kondisi apa pun.


Baca juga artikel terkait POLA ASUH ANAK atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Agung DH

DarkLight