Yang Membuat Liverpool Amat Istimewa di Liga Champions

Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan - 25 Mei 2018 11:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Lini tengah Liverpool kali ini tak sekuat lini tengah mereka musim 2008, namun Klopp punya solusi jitu.
tirto.id - Statistik Liverpool di Liga Champions musim ini menunjukkan: mereka memang pantas melenggang ke babak final dan menantang sang juara bertahan Real Madrid. Selain menjadi tim paling produktif dengan 40 gol, The Reds juga hanya kebobolan 13 gol -- keduanya jauh lebih baik ketimbang Madrid.

Dari 12 pertandingan yang telah dilalui, empat diantaranya sukses dimenangi dengan gol lebih dari lima gol. Hal itu terjadi saat menggulung Manchester City dan AS Roma pada fase knock-out. Liverpool juga menang dengan skor besar 7-0 saat menggasak Maribor dan Spartak Moscow di fase grup.

Sulit untuk menyangsikan ketajaman lini serang Liverpool di Liga Champions musim ini. Jika 40 gol sejak fase grup itu ditambah dengan gol di fase kualifikasi, angkanya bertambah menjadi 46 gol. Catatan mengesankan ini membuat Liverpool menjadi tim terproduktif dalam satu musim sejak format Piala Champions berganti jadi Liga Champions pada 1992.

Jumlah gol Liverpool itu berhasil menggeser rekor Barcelona yang ditorehkan pada musim 1999/2000 lalu. Kala itu Barca mencetak 45 gol dari 16 pertandingan.

Masalahnya, mencetak gol terbanyak dalam satu musim tak menjamin gelar juara. Sejak berganti format dari Piala Champions ke Liga Champions pada 1992 lalu, kini sudah 25 musim, hampir setengah dari klub yang berstatus pencetak gol terbanyak gagal menjadi juara. 15 klub pencetak gol terbanyak namun gagal juara itu termasuk Barcelona pada musim 1999/2000. yang contoh kasus terbaru adalah Bayern Munich pada musim 2014/2015 dan 2015/2016 lalu.

Ketajaman Liverpool tentu saja banyak disumbang oleh produktifitas trisula lini depan mereka. Hampir 72 persen gol Liverpool di Liga Champions dicetak Mohammad Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino. Salah dan Firmino mencetak 10 gol, sedangkan Mane 9 gol.

Pencapaian itu mendapuk mereka menjadi trio tersubur di Liga Champions, mengalahkan calon musuh mereka di final yaitu trio Ronaldo, Benzema dan Bale yang mencetak 28 gol pada musim 2013/2014 atau trio penyerang Barcelona (Messi, Neymar, Suarez) yang membuat 27 gol pada musim 2014/2015.

Mengapa Salah-Mane-Firmino Istimewa?

Yang menakjubkan, berbeda dengan catatan trio Madrid dan Barcelona, seluruh gol-gol Salah, Mane dan Firmino dibikin dari permainan terbuka, bukan hasil bola mati macam tendangan bebas atau pinalti.

Masalah lain bagi Madrid adalah dalam soal kerjasama. Trio Liverpool pemain ini rajin memberi peluang satu sama lain. Selain Milner, Salah dan Firmino adalah pemain yang rajin memberi asist. Firmino mencetak tujuh asist, Salah empat asist dan Mane 1 asist. Menariknya, 100 persen asist dua pemain ini diberikan kepada salah satu di antara mereka berdua.

Tak hanya urusan menyerang, tiga penyerang ini pun turut andil dalam pertahanan Liverpool. Mike Goodman, analis dari StatBomb, memvisualisasikan statistik yang membuktikan bahwa Liverpool memang selalu mengganggu lawan jauh di wilayah mereka sendiri.

Gegenpressing yang selama ini dilekatkan pada Klopp berjalan efektif di Liverpool, khususnya oleh Firmino di barisan depan. Dalam konteks bertahan, Firmino adalah pemain yang tersering melakukan pelanggaran. Dalam statistik yang dirilis StatBomb, aksi tekel dan pelanggaran yang dilakukan Firminho dilakukan di area lawan.

Saat berbincang dengan Jammie Carragher dalam acara SkySport, Salah mengakui mobilitas Firmino ini.

"Dia melakukan segalanya. Berlari, berjuang untuk mendapatkan bola, lalu mengopernya kembali dan mencoba mendapatkan bola di posisi apa pun. Dia sangat baik untuk kami, dan sangat penting. Dia sangat pintar," kata Salah.

Dalam analisisnya di StatBomb, Mike menemukan Salah tak sekadar melakukan cutting inside memotong sisi kanan dan membiarkan kaki kirinya yang lebih kuat untuk meneror pertahanan. Namun selain itu, kata Mike, "Salah, di sisi lain, dia berlari enam hingga dua belas meter di tengah lapangan."

Kepada Carra, Salah menuturkan dirinya bukan seorang striker. "Saya bukan striker, saya bermain di sayap. Firmino menjadi pemain nomer 9, aku dan Sadio (Mane) di sayap. Ini sangat istimewa karena Anda melakukan sesuatu sebagai seorang penyerang juga," katanya.


Ia mengaku bermain ke tengah (ke posisi penyerang) demi membiarkan Alex Oxlade-Chamberlain naik ke atas. "Saya harus melakukan itu bukan hanya untuk saya saja, itu membuka ruang di belakang saya juga," ungkap Salah.

Bagaimana pun kedatangan Salah di musim panas lalu jelas membuat perbedaan besar bagi Liverpool. Tidak hanya untuk golnya, tetapi kecepatan dan bahaya yang ia buat saat serangan balik telah menambah dimensi lain bagi Liverpool. Musim lalu, penekanan itu terlalu banyak diemban Sadio Mané seorang, namun kini juga dilakukan oleh Salah.

Meski begitu, bukan berarti Salah tak memiliki kekurangan. Kecepatan yang ia miliki membuatnya gemar akan bola-bola daerah. Namun akan jadi soal jika ruang-ruang ini dipersempit oleh lawan.

Kepada Carra, ia mengakui pola ini membuatnya kesulitan saat ia berjumpa Everton dan Spurs di Liga Inggris. Namun, Salah mengaku punya banyak cara mengakali kesulitan ini.

"Saya selalu tahu harus mengubah cara saya mencetak gol. Setiap pertandingan berbeda. Saya melakukan beberapa latihan tambahan untuk meningkatkan diri," bebernya.

Namun keliru menyebut penampilan mengesankan Liverpool di Liga Champions musim ini semata disebabkan Salah, Firmino dan Mane belaka. Kolektifitas dan kejelian Klopp merotasi pemain menjadi penentu yang lebih mendasar.



Liverpool adalah tim di Liga Inggris yang paling sering gonta-ganti susunan pemain. Data StatsZone mencatat, hingga Februari lalu, rerata pergantian susunan pemain dari satu pertandingan ke pertandingan lain mencapai 3,9 kali. Artinya, ada hampir empat pemain yang akan diganti dari satu pertandingan ke pertandingan lain.

Statistik itu memperlihatkan tren baru yang diterapkan Juergen Klopp musim. Rerata perubahan susunan pemain itu ini amat timpang dibandingkan musim lalu yang hanya 1,2 pergantian saja.

Musim lalu, ada empat pemain Liverpool yang tampil lebih dari 85 persen dari seluruh menit pertandingan di Premier League. Itu pun terjadi dalam catatan starting XI yang hampir 60 persennya tidak pernah berubah. Musim ini, kesempatan bermain itu dibagi lebih merata. Hanya Salah satu-satunya pemain yang tampil lebih dari 80 persen.

Kekuatan Lini Tengah dan Sosok Milner

Meski berganti-ganti pemain, Klopp tak pernah mengubah pakem formasi front-three. Data dari Football-Line Up, 55 laga yang dilakoni Liverpool di Piala FA, Piala Liga, Liga Champions dan Liga Inggris musim ini, 45 pertandingan diawali dengan formasi 4-3-3. Tujuh sisanya dengan 4-2-3-1, dua kali dengan 4-4-2 serta 3-5-1-1 sebanyak satu kali.

Musabab Klopp meninggalkan 4-3-3 biasanya disebabkan saat satu di antara Salah, Mane atau Firmino absen. Saat memakai 4-4-2 dan 3-5-1-1, misalnya, Mane absen karena cedera. Ketika memakai 4-2-3-1, Klopp menghadapi situasi saat gelandang macam James Milner atau Alex Oxlade-Chamberlain absen. Saat berganti menjadi 4-2-3-1, biasanya Klopp menggeser Salah dan Mane jadi gelandang sayap, menarik Firmino jadi pemain nomer 10 serta memainkan Solanke sebagai penyerang tunggal.

Khusus formasi 4-2-3-1, Klopp sempat sangat lama tak memakainya lagi. Sejak Januari lalu, usai kalah dari Swansea FC, Klopp tak pernah lagi memakai formasi 4-2-3-1 pada menit-menit awal. Klopp akhirnya kembali memakai formasi ini pada laga terakhir Liga Inggris saat menghadapi Brighton Hove & Albion dua pekan lalu. Klopp memakai pola ini akibat Milner yang biasa dipasang sebagai jangkar mengalami cedera.

Menghadapi Madrid, Klopp tampaknya tidak akan ambil risiko dan tetap memakai formasi 4-3-3. Apalagi dikabarkan, Milner sudah membaik dan bisa tampil di final nanti. Milner adalah jantung di lini tengah Liverpool. Ia baru saja memecahkan rekor pencetak asist terbanyak di Liga Champions saat melawan AS Roma. Ia telah mencetak 8 asist di Liga Champions musim ini.


Infografik Liverpool di Liga Champions 2017/2018


Sepanjang kariernya, Milner lebih sering menghabiskan waktunya sebagai bek kiri. Hanya sedikit yang bisa menduga Milner akan tampil baik di posisi gelandang. Pengaruh Milner di engine room musim ini tidak dapat disangkal, intensitasnya dalam berlari, kreativitas dan upayanya yang sering berlari hingga area lawan, kerap dipuji fans. Selain sebagai top asist, rerata jarak tempuh Milner sejak pertengahan musim lalu mencapai 12 kilometer per laga.

Penampilan Milner semakin membaik sejak Januari lalu. Dan itu menjadi semacam oase setelah kepergian Phillipe Coutinho ke Barcelona di jeda transfer musim dingin kemarin. Petaka sempat mendekati Liverpool karena lini tengah yang tinggal menyisakan Emre Can, Jordan Henderson, Wijnaldum, Milner, dan Chamberlain sempat ditinggal Chamberlain dan Can karena cedera. Hanya Henderson, Wijnaldum dan Milner saja yang kini jadi tulang punggung Liverpool.

The Reds juga punya pemain muda Trent Alexander-Arnold. Pemain berumur 20 tahun ini diberi kesempatan bermain saat melawan AS Roma dan penampilannya cukup baik. Tapi menurunkan Trent di babak final, terlalu berisiko bagi Klopp. Pilihan ini bisa diambil jika Milner ternyata belum cukup fit untuk turun.

Lini tengah punya peran vital di antara tajamnya lini depan dan tangguhnya lini pertahanan. Apalagi dalam kasus Liverpool.

Dalam analisisnya di ESPN, Michael Cox mengawali tulisan dengan kalimat begini: "Untuk semua diskusi tentangt trisula Liverpool dan pertahanan mereka yang kurang meyakinkan musim ini, misi Jurgen Klopp di Anfield pada dasarnya adalah untuk membangun tim yang berbasis di sekitar lini tengah."

Mesti diingat, Liverpool kali ini bukanlah tim yang sama seperti saat mereka lolos ke final Liga Champions 2008 dengan engine-room yang diisi trio Steven Gerrard, Xabi Alonso dan Javier Mascherano. Kerja tiga pemain ini menghasilkan energi, visi, dan daya kerja yang kuat. Sedangkan, kata Cox, komposisi sekuat itu tak muncul musim ini.

Meski begitu, Liverpool setidaknya memiliki mobilitas dan semangat juang. Dan yang terpenting, menurut Cox, gegenpressing dikombinasikan dengan bantuan dari pemain belakang dan penyerang hingga meminimalkan ruangan yang mesti dilindungi para gelandang.

"Zona tanggung jawab mereka pada dasarnya dipagari, baik oleh pemain depan maupun belakang," tulis Cox.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan

DarkLight