Misbar

Wednesday, Kisah Fantasi Remaja yang Riang Sekaligus Gelap

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 4 Des 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Kisah keluarga Addams dan sekolah Nevermore dari kacamata Wednesday. Membawa aura gelap sekaligus riang, juga padu padan modern-antik.
tirto.id - Wednesday Addams, remaja gothic berkepang dua, putri keluarga Addams. Mereka yang tumbuh besar pada dekade 1990-an mungkin familier dengan karakter dan kisahnya.

Kendati tak begitu familier dengan film-filmnya, saya mengetahuinya sebagai salah satu ikon budaya pop. Baik dari raut cemberut Christina Ricci—pemerannya dulu—yang kadang berseliweran di internet atau yang paling umum, dijadikan acuan fesyen para cosplayer.

The Addams tak lain ialah keluarga rekaan Charles Addams. Mereka adalah klan aristokrat kaya raya penyuka hal-hal aneh dan mengerikan. Mereka pun cenderung tak memedulikan pandangan orang lain terhadap polah mereka. Seri kisah satirical inversion untuk keluarga Amerika ideal abad ke-20 itu pertama kali dipublikasikan di The New Yorker pada 1938.


Anak perempuan keluarga ini baru dinamai Wednesday pada 1964, dalam serial TV pertama soal keluarga itu The Addams Family. Daftar panjang adaptasinya memang telah merambah berbagai medium dari wujud film live-action, gim video, buku, dan setidaknya enam judul serial TV.

Hingga pada akhir November lalu, adaptasi termutakhirnya Wednesday ditayangkan via Netflix. Kisahnya ditulis ulang oleh Alfred Gough dan Miless Millar (Smallville, Into the Badlands), Sementara itu, episode-episodenya disutradarai Gandja Monteiro, James Marshall, serta sineas kenamaan yang dalam 20 tahun terakhir tak pernah menyutradarai serial TV, Tim Burton. Nama terakhirlah alasan utama saya menyaksikan serial ini.

Dengan kebiasaan menampilkan cerita bermuatan karakter fantastis, elemen gothic yang kental, dan tak jarang cerita yang kekanakan, langkah Burton menggarap kisah seputar keluarga Addams ini memang cukup mengejutkan.


Latar dan Karakter yang Kuat

Di tangan para sutradara itu, serial ini dipersempit sorotannya menjadi kisah coming-of-age Wednesday (Jenna Ortega). Dia digambarkan sebagai remaja 15 tahun yang brilian, bertendensi sadis, dan punya skill set luas (selain menoleransi manusia lain). Tengoklah bagaimana Wednesday tak segan membalas anak-anak yang merisak adiknya, Pugsley, dengan melepaskan piranha ke kolam renang mereka.

Wednesday sangat jarang tersenyum, tak terpikat teknologi terkini, dan punya estetika pakaian serba hitam.

Sebagai pribadi yang self-centered, Wednesday akan menggunakan banyak diksi hanya untuk mengutarakan ekspresi sederhana, seperti "aku akan merindukanmu" atau ucapan terima kasih. Bahkan, butuh mulut orang sekitar untuk menjelaskan maksudnya. Sebagai seorang anak, Wednesday menolak kehendak orang tuanya menjadikan dia mini-me dan bersikukuh menjalani hidup sebagai dirinya sendiri. Belakangan, ia juga mulai terpapar berbagai visi masa lampau dan masa depan yang vivid, menerima anugerahnya sebagai cenayang.

Penulisan karakter macam itu mungkin bukanlah hal yang sulit, tapi menjaganya untuk konsisten sekaligus berkembang tanpa membuat jengkel penonton tentu bukan hal yang mudah.

Dan karakter yang semenarik itu tentu tak pantas untuk menghadiri sekolah normal. Serial ini mengambil latar di Nevermore Academy di Kota Jericho, tempat para outcast menjadi siswanya. Sebagian besar mereka terdiri dari fangs (vampir), furs (werewolf), stoners (gorgon), scales (siren), dan “spesies” lain seperti cenayang dan shapeshifter.

Kisah Wednesday bergulir bersama tangan sentien tanpa tubuh bernama Thing. Mulai dari perkenalannya dengan Enid Sinclair (Emma Myers) yang ceria lagi penuh warna, pengalaman romansa masa remaja, hingga rivalitas antarsiswa.

Nevermore masih pula menyediakan banyak kegiatan di luar studi yang atraktif. Mulai dari Poe Cup (balap kano tanpa peraturan), Outreach Day (kunjungan ke Pilgrim World yang mengambil set Amerika abad ke-17), hingga pesta dansa Rave'N dance di mana Wednesday berdansa laiknya Siouxsie Sioux. Slice of life kehidupan di sekolah yang sedari awal nyentrik jadi kian menarik kala disertai misteri mematikan yang harus dipecahkan.


Imbangi Sekolah dan Penyelidikan

Sedari mula, Wednesday telah dipenuhi dialog dan adegan lucu dengan latar apik yang menyimpan banyak potensi. Nyatanya, sekolah seaneh itu pun tetap tak membuat Wednesday terkesan.

Keriangan berbagi porsi dengan kegelapan. Ada mayat yang dimutilasi monster, teman sekolah yang dicabik, dan kasus pembunuhan oleh Gomez Addams yang kembali diangkat setelah puluhan tahun.

Di samping menghadapi kemungkinan ayahnya adalah seorang pembunuh, Wednesday harus menghadapi ramalan yang menyatakan bahwa dirinya akan menjadi sosok yang menamatkan Nevermore. Sebenci apa pun dia pada sekolah itu—atau sekolah pada umumnya, dia menyadari bahwa Nevermore sejatinya adalah ruang aman untuk para anak-anak outcast yang dikucilkan.

Di tengah kisah fantasi yang simpel soal anak-anak “monster” bersekolah, Wednesday bisa saja menjadi alegori atas pembersihan etnis atau golongan tertentu dan diskriminasi yang mengakar sejak masa silam. Bila tema macam itu terdengar terlalu berlebihan, setidaknya perisakan para normie (manusia normal) terhadap para outcast bisa dilihat sebagai prasangka, diskriminasi, dan persekusi tiada ujung terhadap satu golongan yang berbeda.

Sebagian dari kalian mungkin bakal menyadari anasir-anasir cerita yang mengacu pada peristiwa pembakaran “penyihir” di Amerika abad ke-17. Kasus-kasus kematiannya juga menyibak pendekatan berbeda dari mereka yang duduk di bangku kekuasaan, baik itu Walikota Jericho Noble Walker (Tommie Earl Jenkins) maupun pada skala lebih kecil, Kepala Sekolah Larissa Weems (Gwendoline Christie).

Perspektif kontras tua-muda pun dihadirkan. Penyelidikan dengan metode radikal ala Wednesday terang berbeda dengan kehati-hatian yang diterapkan Larissa. Sebagai kepala sekolah, Larissa punya dua tugas penting: menjaga reputasi sekolah sekaligus tetap menjaga ruang aman tersisa untuk mereka yang dikucilkan.

Kita memang tak sedang menghadapi serial semacam True Detective. Jalannya pemecahan misteri dalam Wednesday berlangsung dengan metodis, meski tak sulit untuk diterka. Teknik pengalihan dalam naratifnya kerap berulang. Tokoh-tokoh yang ditampilkan lebih berpeluang memicu konflik dengan Wednesday, seperti Xavier Thorpe maupun Dr. Valerie Kinbott, terus dibingkai sebagai calon antagonis utama.

Sedangkan mereka yang menyambut baik bahkan akrab dengan sang gadis gothic, seperti Tyler Galpin dan Marilyn Thornhill, terus “disembunyikan” motifnya hingga akhir.

Meski begitu, kelemahan serial ini bukan terletak pada mudah atau tidaknya ia diterka. Kelemahan itu adalah ketergantungan plotnya terhadap faktor kebetulan, cara Wednesday mendapat visi yang tak konsisten, shots kematian seorang karakter yang janggal.

Kejanggalan-kejanggalan dalam serial ini agaknya mudah diabaikan lantaran sifatnya yang fantastis. Namun di balik imajinatif kisahnya, Wednesday juga memiliki poin-poin yang menjejak.

Para siswa Nevermore memang remaja spesial, tapi mereka pada dasarnya juga remaja biasa. Mereka tetap menghadapi problem khas sebagaimana remaja pada umumnya. Pada salah satu episode, Wednesday tak luput menyajikan gambaran para remaja spesial yang juga tak lepas dari problem keluarga, tekanan ekspektasi, atau bagi Wednesday, takkan pernah bisa menyamai prestasi mentereng ibunya semasa sekolah.

Sementara itu, langkah menemukan jati diri juga tidaklah mudah. Karakter “sempurna” seperti Wednesday pun bisa kewalahan juga. Konflik demi konflik pecah antara dia dan Enid, Xavier, dan siapa saja yang tak tahan lagi dengan ulahnya.

Ada momen kala Wednesday yang penyendiri itu merasa betul-betul sendiri dalam artian negatif. Pada akhirnya, ini bukan lagi soal benar atau salahnya metode-metode yang dilancarkan Wednesday, melainkan keharusannya untuk kooperatif atau, minimal, menoleransi perspektif berbeda.

Infografik Misbar Wednesday
Infografik Misbar Wednesday. tirto.id/Ecun



Tak Pernah Kehilangan Momentum

Wednesday mengambil banyak referensi dari khazanah klasik, seperti Edgar Allan Poe juga kisah Jekyll dan Hyde karya Robert Louis Stevenson. Serial ini juga cukup rapi memadukan anasir dunia kuno dan modern, seperti mesin tik yang berdampingan dengan laptop atau adanya mantra dan aplikasi healing seluler. Fantasi dan teknologi sukses disandingkan tanpa terkesan aneh.

Ia juga lancar melontarkan humor di sana-sini dan memotret keriuhan romansa remaja. Durasi per episodenya yang berkisar antara 40 menit hingga nyaris sejam membuat eksplorasi banyak aspek jadi lebih komprehensif. Plot-plot selingan pun bisa tetap relevan dengan plot utamanya.

Karenanya, saya bisa bilang dengan percaya diri bahwa Wednesday adalah serial drama remaja (Gen Z) yang tetap relevan kendati dituturkan secara fantastis. Tema coming-of-age yang whimsical soal menjadi buangan dan melawan perisakan, dengan sinisme meluncur lancar dari mulut karakter utamanya, entah itu sindiran terhadap patriarki, whitewashing di sejarah Amerika, atau sekadar memandang remeh remaja kebanyakan.

Kuatnya karakter Wednesday tentu tak lepas dari andil pemerannya. Jenny Ortega menyuguhkan kemampuan akting yang top sebagai gadis yang muram dan total tsundere. Begitu juga Emma Myers yang karakternya ditulis untuk kerap membuat jengkel Wednesday. Meski begitu, pembawaannya justru jadi menggemaskan dan tak menjengkelkan penonton.

Dan pastinya Gwendoline Christie sebagai Kepala Sekolah Nevermore Academy yang menyimpan rapat rahasia, tapi tetap hadir dengan penuh otoritas. Saya sedikit berharap para kreator mau putar otak agar dia bisa kembali di season berikutnya, bila berlanjut.

Wednesday juga ditopang oleh komposisi garapan Danny Elfman dan Chris Bacon. Musik latarnya tak hanya fantastis, tapi juga cukup berkesan kala disandingkan dengan lagu-lagu populer versi cello dari The Rolling Stones hingga Metallica, Vivaldi hingga Dua Lipa.

Kendati ditangani beberapa sutradara berbeda, tiap episodenya cukup berhasil menyajikan tone yang konsisten. Ia ringan, tapi tetap mampu memikat banyak golongan umur. Pantaslah jika Wednesday mampu menjangkau khalayak luas. Jika berlanjut, bukan tak mungkin ia menjadi salah satu judul andalan Netflix.

Wednesday adalah tontonan tepat untuk kalian penggemar Harry Potter, penyuka karya-karya Tim Burton, atau kisah fantasi pada umumnya. Namun, saya tak tahu apakah ia bisa dinikmati dengan mudah oleh para fan lama The Addams Family. Sebabnya, untuk saya sendiri, solidnya Wednesday hari ini justru membuat saya tak begitu tertarik dengan adaptasi kisah The Addams Family lainnya di masa lampau.

Saya mungkin akan tetap mengikuti kisah keluarga ini, tapi dari serial ini saja. Cukup dari sudut pandang Wednesday Addams yang ini.

Baca juga artikel terkait SERIAL TV atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight