Warna Sepatu Bikin Warganet Terbelah: Abu-Abu atau Pink?

Oleh: Widia Primastika - 8 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Banyak penjelasan dari ilmuwan soal fenomena ini.
tirto.id - Bukan hanya pilpres yang bikin warganet terbelah. Gambar sepatu juga bisa berakibat demikian.

Beberapa hari ini, Anda mungkin sering menerima pesan gambar sepatu Vans di media sosial dan kita diminta menebak warna dari sepatu tersebut. Yang mengherankan, sebagian menangkap sepatu tersebut berwarna pink dengan garis putih, tapi ada pula yang mempersepsinya berwarna abu-abu beraksen toska.

Perdebatan soal warna sebuah objek tak terjadi kali ini saja. Mari mundur ke tahun 2015. Saat itu, ada juga perdebatan berlarut-larut ihwal warna sebuah gaun. Ada yang bilang gaun itu putih-emas, yang lain menangkapnya biru-hitam.

Bagaimana bisa?

Situsweb Popular Science menjelaskan fenomena tersebut dalam tulisan “The Science Of Why No One Can Agree On The Color Of That Dress”, dengan memberi penjelasan ulang dari telaah AsapScience, saluran Youtube yang berfokus pada topik sains.


Menurut mereka, keganjilan itu dinamakan colour constancy atau keajekan warna. Untuk mempermudah penjelasannya, mereka menggunakan kubus berwarna-warni. Ada banyak segi-empat warna-warni di setiap permukaan kubus. AsapScience kemudian menunjukkan bahwa warna kotak yang sama pada dua permukaan kubus yang berbeda bisa dipersepsi berbeda warna. Meski keduanya berwarna coklat, salah satu dari kotak itu nampak berwarna kuning.

Dalam keadaan tersebut, bayang-bayang benda memengaruhi persepsi otak terhadap warna. Menurut kanal Youtube tersebut, pada kasus gaun, ketika kita berada di ruangan dengan cahaya alami yang cukup, maka gaun akan berwarna putih emas karena lingkungan sekitarnya diterangi oleh cahaya biru. Namun, apabila kita melihat gaun itu di dalam ruangan dengan cahaya kuning, warna gaun menjadi biru hitam.

Namun, argumen itu tak sepenuhnya diterima publik. Ketika foto sneakers mengguncang dunia maya di tahun 2017, Bustle melaporkan bahwa masih ada kontroversi, meski tidak seramai isu gaun.

Bagaimana Penjelasan Para Peneliti?

Pada 2016, Rosa Lafer-Sousa, Katherine L. Hermann, dan Bevil R. Conway mencoba menelaah fenomena “the dress” melalui survei berjudul “Striking Individual Differences in Color Perception Uncovered by The Dress Photograph” (PDF). Ketiga ilmuwan tersebut melempar pertanyaan respons bebas gambar gaun bodycon kepada 1.401 orang. Dari jumlah tersebut, 313 responden belum pernah melihat gambar tersebut sebelumnya.

Setelah itu, mereka mendapat tiga jawaban terbanyak berkaitan dengan warna dari gaun bodycon pada gambar, yakni putih-emas (30 persen), biru-hitam (57 persen), biru-coklat (11 persen), dan sisanya melihat gaun itu berwarna lain. Dari hasil pengamatan itu, sebagian besar orang tua dan perempuan melaporkan warna gaun adalah putih-emas.

Lafer-Sousa, dkk. menemukan bahwa orang yang sering beraktivitas di luar ruangan (akrab dengan pencahayaan biru langit) cenderung menganggap warna gaun adalah putih-emas. Sedangkan mereka yang hidup di dalam ruangan (akrab dengan penggunaan cahaya lampu pijar) akan melihat gambar tersebut berwarna biru-hitam. Sisanya adalah orang yang memiliki penerangan netral, yang berpendapat bahwa foto itu berwarna biru-coklat.

Ada pula penjelasan lain. Direktur Vision Research Center di University of Pennysylvania, David Brainard, menjelaskan pandangannya kepada The Guardian: kepadatan di lensa mata seseorang akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal itu akan berpengaruh terhadap filter panjang gelombang cahaya yang jatuh ke retina dan berdampak pada informasi visual yang dikerjakan otak.


Jay Neitz, seorang ilmuwan saraf di University of Washington, memaparkan kepada Wired bahwa cahaya memasuki mata melalui lensa dengan panjang gelombang berbeda untuk setiap warnanya. Di mata, cahaya itu akan mengenai retina di bagian belakang mata yang terdapat pigmen untuk menyalakan koneksi saraf ke korteks visual. Bagian itulah yang memproses sinyal menjadi gambar.

Tim foto dari Wired pun kemudian melakukan uji coba mandiri terhadap gambar tersebut menggunakan aplikasi Photoshop.

“Awalnya saya pikir [gaun] itu putih dan emas,” ungkap editor foto Wired, Neil Harris. Namun, ternyata, ketika ia berusaha mengedit gambar menjadi lebih gelap, warna putih pada gaun berubah menjadi warna biru dan warna emasnya berubah hitam.

Persepsi Warna dan Preferensi Warna Individu

Claudia Feitosa-Santana dan empat orang koleganya tak menampik argumen bahwa tangkapan atas warna dipengaruhi oleh cahaya lingkungan. Namun, ia tak sepenuhnya setuju terhadap argumen Lafer-Sousa, dkk. yang menghubungkan persepsi warna dengan penuaan seseorang.

Dalam penelitian berjudul “Assessment of #TheDress With Traitional Color Vision Tests: Perception Differences Are Associated With Blueness” (PDF, 2018), mereka menunjukkan hasil observasi terhadap 52 partisipan berusia rata-rata 22,38 tahun (26 perempuan dan 26 laki-laki) siswa School of The Art Institute of Chicago atau teman dari murid sekolah yang berpartisipasi dalam studi ini.

Seluruh responden diketahui mempunyai penglihatan normal dan mengetahui tentang fenomena gambar gaun, tapi mereka tak tahu tentang penelitian tersebut.

Infografik warna berbeda
undefined


Hasilnya, 29 persen responden menjawab warna gambar itu adalah biru-hitam dan 40 persen responden menyebutkan gaun itu memiliki kelir putih-emas, sisanya mempunyai pandangan warna lainnya. Dari penelitian itu pula, Feitosa-Santana, dkk. tak melihat adanya hubungan signifikan persepsi warna berdasarkan usia dan etnis, tapi ada ada hubungan dengan jenis kelaminnya. Dalam studi tersebut, perempuan cenderung menangkap warna gaun tersebut putih-emas.


Argumen pencahayaan juga dibahas dalam penelitian Cristoph Witzel dan tiga orang rekannya dalam studi “The Most Reasonable Explanation of “The Dress”: Implicit Assumptions about Illumination” (PDF, 2017) dengan 31 orang responden (24 perempuan dan 7 laki-laki) sebagai peserta penelitian.

Mereka menunjukkan dua foto dress yang diambil dalam cahaya berbeda, satu di ruang terang dan lainnya di ruang gelap. Para ilmuwan tersebut setuju bahwa pencahayaan berpengaruh terhadap persepsi warna, tetapi mereka juga punya asumsi lain.

Menurut mereka, hal lain berperan terhadap persepsi warna tersebut adalah preferensi warna dan pengalaman sebelumnya. Persepsi warna pada seseorang biasanya dipengaruhi kemampuan adaptasi responden terhadap rangsangan cahaya. Namun, bisa juga perbedaan itu dipengaruhi kesukaan responden terhadap sebuah warna, sehingga ada pengaruh budaya terhadap preferensi warna. Hal itu lumrah; ketika responden melihat gambar tersebut, ada hal dalam bawah sadar yang mempengaruhinya.

Oh ya, kembali ke soal sepatu tadi, warna sepatu itu sesungguhnya adalah pink-putih, sedangkan gaun yang fenomenal pada 2015 itu aslinya berwarna biru-hitam.

Baca juga artikel terkait SEPATU atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani