Viral Pawang Hujan di Mandalika: Cara Kerja dan Sejarah Rain Shaman

Penulis: Dipna Videlia Putsanra - 21 Mar 2022 09:25 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Cara kerja pawang hujan di Mandalika dan bagaimana sejarahnya?
tirto.id - Pawang hujan Mandalika menjadi perbincangan di media sosial Indonesia dan luar negeri. Pawang hujan ini menjadi tren perdebatan karena muncul di gelaran MotoGP di Mandalika, NTB, Minggu (20/3/2022).

Pawang hujan Mandalika bernama Rara Istiani Wulandari atau akrab disapa Mbak Rara ini. Selain menjadi perbincangan di antara warganet, akun resmi MotoGP di Twitter juga ikut mengomentari aksi Mbak Rara.

Lantas bagaimana cara kerja pawang hujan dan apa asal-usulnya?


Sejarah Pawang Hujan


Pawang hujan tidak hanya muncul pada saat festival musik atau acara besar saja. Istilah pawang hujan sudah dikenal sejak dahulu kala, bahkan sudah ada sejak zaman manusia purba.

Dahulu kala, pawang hujan atau disebut shaman ini tugasnya tidak hanya memanggil atau menghentikan hujan, tetapi juga menjadi tabib atau mengobati orang sakit. Intinya, ia bertugas menghubungi dewa-dewa.

Sebelum Homo sapiens berevolusi, ada keinginan bawaan untuk mengalami hubungan langsung dengan dewa, leluhur, dan penghuni dunia roh lainnya. Salah satu media yang digunakan shaman untuk berkomunikasi adalah tanaman.

Menurut US Forest Service, budaya paling kuno di Afrika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika dan sepanjang waktu hingga zaman pra-industri, banyak klan, sekte, dan suku yang mengonsumsi tanaman untuk penggunaan spiritual dan/atau obat.

Kegunaan dan efek kuratif dari tanaman ini sangat terkait dengan ritual. Bagi banyak budaya suku, tanaman itu sendiri adalah suci. Kekuatan supranatural bersemayam di jaringan mereka sebagai hadiah ilahi bagi manusia di bumi.

Para “herbalis” ini berperan sebagai pemandu spiritual dan penafsir mimpi dan memimpin banyak upacara sakral. Dukun memiliki kekuatan untuk "kesurupan" dan berkomunikasi dengan roh, ia bisa memerangi roh jahat dan penyakit, berkomunikasi dengan leluhur, mencegah kelaparan, dan mengendalikan cuaca (tarian hujan).


Cara Kerja Pawang Hujan


Di Afrika Selatan, para peneliti pernah menemukan sebuah situs "pengendalian hujan" yang menjulang tinggi. Zaman dahulu kala, situs tersebut digunakan para dukun untuk meminta dewa menurunkan atau menghentikan hujan.

Terletak di daerah semi-kering di negara itu, dekat Botswana dan Zimbabwe, situs Ratho Kroonkop (RKK) berada di atas bukit setinggi 1.000 kaki (300 meter) dan berisi dua "tangki batu" yang terbentuk secara alami.

Ketika para ilmuwan menggali salah satunya, mereka menemukan lebih dari 30.000 spesimen hewan, termasuk sisa-sisa badak, zebra, dan bahkan jerapah.

"Apa yang membuat RKK istimewa adalah bahwa setiap bagian dari materi fauna yang ditemukan di RKK dalam beberapa hal dapat dikaitkan dengan pengendalian hujan," peneliti Simone Brunton, seorang kandidat doktoral di Universitas Cape Town, menulis dalam email ke LiveScience.

Dukun, atau pemimpin agama, akan naik ke puncak Ratho Kroonkop melalui terowongan alam (celah) di batu. Ketika mereka mencapai puncak bukit, mereka akan menyalakan api untuk membakar sisa-sisa hewan sebagai bagian dari ritual hujan mereka.

Orang-orang yang melakukan ritual ini berasal dari San, sebuah kelompok pribumi di Afrika bagian selatan yang hidup sebagai pemburu-pengumpul.

"Mereka adalah pengendali hujan San yang dipekerjakan oleh para petani untuk mengendalikan hujan," jelas Brunton. Para petani, pada gilirannya, bergantung pada pemimpin mereka untuk memastikan pengaturan ini berjalan lancar dan bahwa mereka, pada kenyataannya, mendapatkan hujan.

Akses ke lokasi pengendalian hujan akan dikontrol dengan ketat.

"Para dukun atau spesialis ritual biasanya satu-satunya yang terlibat langsung dengan pelaksanaan ritual yang sebenarnya. Akan sangat dilarang bagi orang biasa untuk pergi ke dekat lokasi," ujar Brunton.

Situs itu "ditempatkan jauh dari masyarakat karena dianggap sangat berbahaya atau 'panas', dan gangguan apa pun akan menyebabkan para dewa marah."


Pawang Hujan di Indonesia


Seiring berkembangnya zaman, pawang hujan mulai tak lagi mendapat tempat. Kini, prediksi hujan lebih banyak menggunakan sains, dan dikendalikan oleh lembaga seperti badan meteorologi.

Di Indonesia, pawang hujan dianggap sebagai "pekerjaan". Banyak nama-nama pawang hujan di Indonesia ang sudah sangat terkenal, seperti Mbak Rara contohnya.

Para pawang ini biasanya akan muncul ketika ada kegiatan-kegiatan besar seperti konser musik, kampanye, olimpiade, dan gelaran-gelaran besar lainnya.

Menurut jurnal OBJEK-OBJEK DALAM RITUAL PENANGKAL HUJAN oleh Imaniar Yordan Christy, tradisi tolak hujan juga dikenal dalam tradisi Kejawén (Jawa). Ritual dilakukan dengan mendirikan sapu lidi yang ditusukkan cabai dan bawang merah dengan diiringi doa.

Di Jepang, untuk menolak hujan mereka mempercayai boneka putih yang digantung di jendela. Boneka itu disebut teru-teru bozu. Boneka ini sudah digunakan sejak zaman dahulu sebagai penangkal hujan di Jepang.

Teru teru bozu adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kertas atau kain putih yang digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan mendatangkan cuaca cerah dan menghentikan atau mencegah hujan.

Dalam bahasa Jepang, teru adalah kata kerja yang berarti "bersinar" atau "cerah", dan bozu dapat berarti bhiksu.


Baca juga artikel terkait PAWANG HUJAN atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Politik)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight