Update Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Oleh: Yantina Debora - 20 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Update perkembangan uji klinis vaksin Sinovac untuk Covid-19 di Indonesia.
tirto.id - Uji klinis tahap ketiga vaksin Covid-19 Sinovac asal Cina yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang baik.

Head of Corporate Communication PT Bio Farma Iwan Setiawan, Rabu (18/11/2020), menjelaskan perkembangan uji klinis berjalan baik, dengan tidak ada kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang berat ataupun mengkhawatirkan.

Iwan mengatakan uji klinis saat ini memasuki tahap monitoring untuk diketahui efektivitas dari Vaksin Sinovac ini. Selanjutnya akan dilakukan analisis sample darah relawan untuk mengetahui pembentukan aktibodi untuk peningkatan imun tubuh.

"Baik itu dari keamanan vaksin dan respons imun dari vaksin itu, apakah memberikan kekebalan atau tidak. Jadi faktor keamanan ini adalah yang paling utama untuk dilihat lagi," kata Iwan.

Bio Farma memperkirakan uji klinis tahap ketiga selesai bulan Januari 2021. Selanjutnya Bio Farma akan mendaftarkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan emergency use authorization.

PT Bio Farma pada tahap awal akan memproduksi sebanyak 50 juta dosis vaksin Covid-19, untuk didistribusikan kepada masyarakat pada bulan Februari - Maret 2021.

Terkait harga vaksin, Iwan memperkirakan sekitar Rp200 ribu per dosis. Vaksinasi dilakukan dua kali dengan rentan waktu 10 - 14 hari.

Imunitas atau kekebalan tubuh terhadap Covid-19 akan terbentuk maksimal 14 hari setelah dosis kedua.

Uji klinis Covid-19 dilaksanakan di Bandung dengan jumlah relawan sebanyak 1.620 yang berasal dari multi etnis yang ada di Indonesia, bahkan beberapa relawan ada yang berasal dari keturunan Eropa.

Terkait dengan vaksin Covid-19, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin mengatakan izin dari BPOM dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait vaksin Covid-19 harus sudah terbit sebelum pelaksanaan vaksinasi bagi masyarakat Indonesia.

“Vaksinnya sudah ada dan sedang diperiksa [uji klinis] yang ada di Beijing itu. Sudah ada tim bersama dari BPOM juga dari MUI. Nanti menjelang vaksinasi, [izin dan fatwa] itu harus terlebih dahulu keluar,” kata Ma’ruf Amin saat meninjau simulasi vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/11/2020).

Fatwa dari MUI tersebut, lanjut Ma’ruf Amin, bisa tergolong dalam dua kategori, yakni kehalalan vaksin Covid-19 atau kondisi kedaruratan pandemi yang membolehkan vaksin tersebut disuntikkan ke masyarakat meskipun belum halal.

“Kebolehan dari MUI itu bisa karena dia [vaksin] halal atau karena dasarnya kedaruratan, yang penting MUI sebagai lembaga otoritas akan memberikan fatwanya tentang masalah itu,” tambahnya.

Tentang Vaksin Sinovac

Vaksin Sinovac diproduksi di Beijing, Cina. Berawal dari tahun 1993, CEO Weidong Yin dan tim di Tangshan Yian Biological Engineering Co. Ltd. terlibat dalam penelitian awal yang mengarah pada keberhasilan pengembangan vaksin hepatitis A pada tahun 1999.

Vaksin hepatitis A nonaktif pertama yang dikembangkan oleh para ilmuwan Cina. Selama dua dekade terakhir, Perusahaan telah mengembangkan dan mengkomersialkan enam vaksin yang digunakan manusia dan satu vaksin hewan.

Sinovac juga terlibat dalam pengembangan vaksin H1N1 pada tahun 2009.



___________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yantina Debora
Editor: Agung DH
DarkLight