tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara langsung meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk mengurangi serangan ke Lebanon. Permintaan ini diajukan Trump agar kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS-Iran dapat berhasil.
“Saya sudah berbicara dengan Bibi dan dia akan bersikap tenang. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih tenang,” kata Trump dikutip NBC News, Jumat (10/4/2026).
Serangan brutal Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) mendapat kecaman dari banyak pihak, termasuk Iran. Menurut Iran, seharusnya Israel yang merupakan sekutu AS saat menyerang Iran, juga harus mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Lebanon dan kawasan lainnya juga disebutkan Pakistan, sang mediator, sebagai bagian yang tidak boleh diserang selama periode ceasefire yakni dua minggu sejak tanggal 7 April.
Israel Isyaratkan Gencatan Senjata dengan Lebanon
Netanyahu, pada Kamis (9/4/2026) malam mengumumkan bahwa negaranya akan segera memulai negosiasi langsung dengan Lebanon, dengan tujuan melucuti senjata Hezbollah dan mencapai perjanjian damai penuh antara kedua negara.
Pengumuman ini muncul hanya sehari setelah Israel melancarkan gelombang serangan udara terbesar ke Lebanon sejak eskalasi konflik terbaru dimulai dan di tengah tekanan internasional yang semakin kuat agar Israel membuka jalur diplomasi.
“Mengingat seruan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, kemarin saya menginstruksikan kabinet untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin,” kata Netanyahu dikutip The Times of Israel,Kamis (9/4/2026).
“(Pembicaraan tersebut) akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” lanjutnya.
Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa perwakilan dari Israel dan Lebanon dijadwalkan menggelar pembicaraan di Washington pekan depan.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pertemuan tersebut akan membahas kelanjutan negosiasi terkait gencatan senjata.
"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri akan mengadakan pertemuan minggu depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon," ungkap pejabat AS tersebut dikutip CNA, Kamis (9/4/2026).
Delegasi Amerika akan dipimpin oleh Duta Besar Michel Issa, sementara Israel dan Lebanon masing-masing diwakili oleh diplomat senior mereka.
Dari pihak Lebanon, Presiden Joseph Aoun menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah gencatan senjata yang diikuti dengan negosiasi langsung.
“Satu-satunya solusi untuk situasi yang dihadapi Lebanon adalah gencatan senjata dengan Israel yang akan mengarah pada negosiasi langsung antara kedua negara,” harap Aoun.
Seorang pejabat Lebanon juga menyebut bahwa Beirut tengah mendorong gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju pembicaraan yang lebih luas, dengan peran Amerika Serikat sebagai mediator dan penjamin kesepakatan.
"Lebanon menginginkan gencatan senjata sebelum memulai negosiasi," tegas pejabat tersebut dikutip CNA (9/4/2026).
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam dilaporkan juga telah melakukan upaya diplomatik dengan menghubungi Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, untuk memastikan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata yang dimediasi antara Iran dan pihak lain.
Iran dan Pakistan sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata juga berlaku bagi Lebanon, namun klaim ini ditolak oleh Amerika Serikat dan Israel, yang menegaskan akan terus melanjutkan serangan terhadap Hizbullah.
Selain memastikan Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, PM Nawaf Salam juga menginstruksikan aparat agar membatasi kepemilikan senjata hanya pada institusi resmi negara, bukan pada kelompok bersenjata termasuk Hizbullah.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































