Menuju konten utama

Tren Lonjakan Kasus Virus Corona Covid-19 di Amerika Serikat

Berdasarkan data Worldometers, kasus corona di AS mencapai 2.089.825 dengan 116.035 korban meninggal.

Tren Lonjakan Kasus Virus Corona Covid-19 di Amerika Serikat
Ilustrasi Corona. foto/istockphto

tirto.id - Di tengah kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang melonggarkan lockdown, tren kasus positif di negeri Paman Sam itu terus mengalami lonjakan di hampir setengah dari negara bagian. Tren yang mengkhawatirkan ini ditengarai ketika orang-orang mulai kembali bekerja selama musim panas.

Berdasarkan analisis APNews, dari data yang disusun oleh COVID Tracking Project, sebuah organisasi sukarela yang mengumpulkan data pengujian coronavirus di Amerika Serikat, menemukan bahwa di 21 negara bagian pada hari Senin (8/6/2020), rata-rata kasus baru per tujuh hari lebih tinggi daripada tujuh hari sebelumnya.

Di Arizona misalnya, beberapa rumah sakit telah diwanti-wanti untuk bersiap “menghadapi hal yang lebih buruk”, begitu juga di Texas yang mengalami lonjakan pasien dari sebelumnya. Sementara gubernur North Carolina, tengah berpikir untuk membatalkan kebijakan membuka sekolah dan bisnis, ketika angka kasus meningkat di negara bagian tersebut.

Belum ada penyebab tunggal dari lonjakan ini. Di beberapa negara bagian, semakin banyaknya orang yang melakukan pengujian menjadi salah satu alasan, sementara di negara bagian lain transmisi lokal menjadi penyebab utama.

Hingga hari ini, Jumat (12/6/2020) waktu Indonesia, berdasarkan data yang dihimpun dari Worldometers, kasus di AS mencapai 2.089.825 dengan catatan 116.035 korban meninggal.

SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, pertama kali “mendarat” di AS dibawa oleh pelancong dari luar negeri yang singgah di pantai timur. Selama berbulan-bulan, episenter virus berada di negara bagian yang terletak di wilayah timur laut, meski kini, peningkatan terbesar berada di wilayah selatan dan barat.

Sementara pemerintah AS melalui Presiden Donald Trump, pada minggu ini mengatakan bahwa ia berencana menekan demonstrasi yang berpotensi menarik ribuan orang untuk berkerumun, demikian seperti dilansir Global News.

Dia akan menahan demonstrasi di empat negara bagian, Arizona, Florida, Oklahoma, dan Texas, di mana negara-negara bagian tersebut merupakan wilayah dengan peningkatan kasus Covid-19.

Berikut ini, Tirto telah merangkum hal-hal yang menjadi pendorong meningkatnya kasus Covid-19 di negara-negara bagian yang paling terdampak:

Arizona

Gubernur Arizona Doug Ducey mengakhiri kebijakan untuk "tetap di rumah saja" pada 15 Mei lalu, serta mulai merelaksasi pembatasan sosial pada bidang bisnis. Penduduk Arizona yang sebelumnya terkurung selama enam minggu terlihat mulai membanjiri pusat-pusat hiburan di Phoenix, dengan mengabaikan pedoman jaga jarak.

Lonjakan kasus baru mulai terlihat pada 10 hari berikutnya. Analisis yang dilakukan APNews menemukan, Arizona memiliki rata-rata 400 kasus baru sejak lockdown dilonggarkan dan melonjak dua minggu kemudian hingga melampaui 1.000 kasus baru per hari pada awal pekan ini.

Pasien rawat inap juga meningkat secara drastis yang mencapai angka 1.200 pada minggu lalu. Arizona juga telah mencatat kematiannya yang ke 1.000 pada minggu lalu.

North Carolina

Pada hari Sabtu (6/6/2020) lalu, North Carolina mencatat kenaikan kasus per hari tertinggi, dengan angka 1.370.

Profesor epidemiologi di University of North Carolina Kimerly Powers mengatakan, lebih banyaknya pengujian yang dilakukan orang-orang di North Carolina, menjadi pendorong utama dari lonjakan kasus baru-baru ini. Di negara bagian tersebut, jumlah orang yang melakukan pengujian meningkat dalam dua minggu terakhir.

Melihat tren yang demikian, pejabat kesehatan North Carolina bersama Gubernur Roy Cooper telah mendesak masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan demi melindungi diri mereka sendiri.

Texas

Ketika masyarakat mulai menghadiri Memorial Day Weekend dan mengerumuni garis pantai Texas, serta dibukanya sebuah taman air dekat Houston, terjadi peningkatan kasus sebesar 42 persen.

Masyarakat Texas tak mengindahkan imbauan Gubernur Greg Abbott untuk tetap berada di rumah, dan menyebabkan presentase angka positif tersebut menjadi yang tertinggi. Pada hari Rabu (10/6/2020) lalu, pasien rawat inap telah melewati 2.100 pada dan merupakan yang pertama selama pandemi.

Abbott, yang baru-baru ini mulai mengenakan masker di depan umum, belum menunjukkan niat untuk melonggarkan lockdown meski pengunjuk rasa pada Mei lalu menekannya untuk mempercepat waktu agar tempat-tempat bisnis kembali dibuka.

Alabama

Di Alabama, infeksi yang menyebar di panti jompo dan pabrik-pabrik menjadi pendorong utama meningkatnya angka kasus positif di negara bagian tersebut. Pada hari Rabu (10/6/2020) lalu, negara bagian itu mencatat jumlah kasus baru terbanyak dalam sehari, yaitu 849 kasus, tertinggi dari sebelumnya yang 640 kasus pada 5 Juni.

Menurut petugas kesehatan negara Scott Harris, ibu kota Montgomery menjadi titik pusat penyebaran terbesar infeksi virus.

“Saya pikir pembukaan kembali sektor ekonomi memberi kesan pada banyak orang bahwa,‘ Hei semuanya baik-baik saja. Ayo kembali normal, "kata Harris.

“Jelas, tidak seperti itu. Sungguh, sekarang lebih dari sebelumnya kita membutuhkan orang untuk tetap terpisah sejauh 6 kaki, memakai penutup wajah dan mencuci tangan. ”

Arkansas

Setelah mencapai puncaknya pada bulan April lalu, level kasus di Arkansas mulai rendah sampai kembali melonjak sekitar tiga minggu yang lalu, terutama di kota Rogers dan Springdale untuk wilayah barat laut dan di De Queen untuk wilayah selatan. Kasus-kasus tersebut, kebanyakan terkonsentrasi di kalangan orang Hispanik dan para pekerja di fasilitas produksi ayam, yang tidak pernah ditutup.

Lonjakan terjadi untuk kasus positif, rawat inap, hingga presntasi kenaikan. Meski demikian, Gubernur Arkansas Asa Hutchinson pada hari Rabu (10/6/2020) lalu mengatakan, negara bagian tersebut akan memulai fase “New Normal” mulai 15 Juni 2020 nanti.

Baca juga artikel terkait KASUS CORONA DI AS atau tulisan lainnya dari Ahmad Efendi

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto