Menuju konten utama

Tragedi Dody Pasha & Ancaman Fatal Heat Stroke Pelari Jarak Jauh

Kasus pelari ITB Ultra Marathon 2026 menyingkap bahaya mematikan heat stroke sekaligus mendesaknya pengetatan standar keselamatan lomba lari.

Tragedi Dody Pasha & Ancaman Fatal Heat Stroke Pelari Jarak Jauh
Dody Muhammad Pasha. foto/DOk. Linkedin
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dody Muhammad Pasha (21), mahasiswa Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB), kolaps setelah menempuh sekitar 8–9 kilometer saat mengikuti ITB Ultra Marathon 2026. Ia meninggal beberapa jam kemudian.

Lomba lari sejauh 180 km dari Jakarta ke Bandung melalui Puncak, Bogor, dan Cianjur ini dimulai pada Jumat (16/10/2026) pukul 21.00 WIB dari Kemdiktisaintek, Senayan. Peserta harus mencapai garis finis di Kampus ITB Ganesha dalam batas waktu maksimal 38 jam.

Dody mengikuti kategori Relay 16, yakni kategori beregu yang terdiri atas 16 pelari. Para anggota tim bergantian menempuh seluruh rute, dengan masing-masing mendapat giliran berlari sekitar 10 kilometer. Dody merupakan pelari ke-11 dalam timnya.

Pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, panitia menerima informasi bahwa seorang peserta ditemukan di luar jalur lomba, di lokasi menuju Pondok Pesantren Al-Ittihad, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Cianjur.

“Sekitar jam 12, kami mendapatkan informasi dari masyarakat, yang kemudian disampaikan kepada komunitas bahwa ditemukan salah satu pelari kami di relay 16,” kata Race Director ITB Ultra Marathon 2026, Ahmad Shalahuddin Zulfa, dalam konferensi pers di ITB, Minggu (18/10/2026).

Doddy sempat dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan bantuan pernapasan dan melakukan resusitasi jantung paru (RJP), tetapi nyawanya tak tertolong.

Berdasar latar keolahragaannya, Dody bukanlah pelari tanpa bekal. Dirinya merupakan anggota aktif di tim bola voli ITB dan telah menjalani latihan intensif selama lima bulan persiapan ultra marathon. Dalam proses penyaringan peserta (screening), ia juga telah mengisi kuesioner kesehatan dan memperoleh status hijau.

Hasil pemeriksaan medis yang dapat memastikan penyebab meninggalnya Dody belum diumumkan. Meski demikian, Zulfa mengatakan berdasarkan komunikasi panitia dengan komunitas Tambang Berlari, keluarga, dan dokter yang menangani, terdapat informasi mengenai cairan di paru-paru saat prosedur intubasi.

“Ada kemungkinan memang pada saat kondisinya panas sekali, mungkin dia juga dalam kondisi agak kurang sadar penuh meminum air, sepertinya sebagian masuk ke dalam paru-parunya, sehingga akhirnya membuat dia menjadi sulit bernapas,” ujarnya.

Ketika Panas Menyerang Kesadaran

Kolaps saat berolahraga jarak jauh dapat disebabkan oleh beragam kondisi medis. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah heat stroke. Dokter spesialis kedokteran olahraga di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, Antonius Andi Kurniawan, menjelaskan heat stroke adalah keadaan ketika panas yang dihasilkan tubuh melampaui kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri. Suhu inti tubuh dapat meningkat hingga lebih dari 40 °C dan mengganggu fungsi sistem saraf pusat. Andi menjelaskan risiko tersebut meningkat ketika panas dari aktivitas fisik bertemu dengan suhu lingkungan yang tinggi.

“Ketika kita berolahraga, tubuh kita menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan pada saat berolahraga ditambah dengan cuaca panas, itu akan menghasilkan panas tinggi sekali dari tubuh yang bisa sampai di atas 40 °C,” kata Andi ketika dihubungi Tirto melalui sambungan telepon, Senin (26/10/2026).

Suhu tubuh seharusnya berada di bawah 37 °C. Dalam keadaan normal, tubuh melepaskan panas melalui mekanisme seperti berkeringat. Namun, ketika intensitas olahraga dan suhu lingkungan membebani kemampuan tubuh untuk membuang panas, suhu inti dapat meningkat hingga mengganggu kerja otak.

Andi menerangkan pengaturan suhu tubuh melibatkan hipotalamus, bagian otak yang berperan mempertahankan kestabilan suhu. Ketika mekanisme pengaturan ini terganggu, seseorang dapat kehilangan fokus, mengalami kebingungan, meracau, hingga kehilangan kesadaran.

“Heat stroke tuh pusat termoregulasinya ada di hipotalamus, itu ada di otak. Jadi, ketika otak kita kekurangan cairan, kekurangan oksigen, kekurangan aliran darah, karena semuanya mengalir ke permukaan kulit untuk mendinginkan tubuh kita, bisa terjadi gangguan fungsi otak. Akibatnya, seseorang tidak bisa beraktivitas atau berpikir,” tuturnya.

Bahaya heat stroke terletak pada kemampuannya mengganggu penilaian seseorang terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Pelari yang mulai mengalami gangguan kesadaran dapat kesulitan mengambil keputusan untuk berhenti, meski tubuhnya sudah berada dalam kondisi berbahaya.

“Selagi dia masih bisa berpikir, ya dia harus memutuskan berhenti. Ketika dia mengabaikan sebentar, suhu tubuhnya tinggi, dia tidak bisa berpikir lagi dan kehilangan fokus, akhirnya terjadi heat stroke, collapse, dan bisa saja meninggal,” kata Andi.

Karena itu, kebiasaan tinggal di negara beriklim panas tidak serta-merta membuat seseorang siap berolahraga dalam kondisi serupa. Andi menekankan pentingnya aklimatisasi, yakni proses adaptasi tubuh melalui latihan dengan intensitas yang sesuai dalam kondisi suhu lebih panas.

“Orang sering bilang, ‘Kita, kan, sudah hidup di negara panas.’ Tetapi, sering berjalan di bawah terik matahari berbeda dengan berolahraga dalam kondisi panas,” ujarnya.

Riset kelompok studi Race Associated Cardiac Arrest Event Registry (RACER), yang mencatat henti jantung pada pelari marathon dan half marathon di Amerika Serikat sepanjang 2010-2023, menemukan 176 henti jantung di antara hampir 29,3 juta peserta yang finis—59 di antaranya meninggal.

Dari 67 kasus yang penyebabnya teridentifikasi, penyakit arteri koroner paling banyak ditemui dengan persentase sebesar 40%, sedangkan heat stroke menyumbang 6% dengan tiga kematian.

Gambarannya berbeda di iklim hangat. Riset Yankelson, et al. (2014) di Tel Aviv, Israel, menelusuri seluruh lomba jarak jauh populer pada 2007-2013. Dari 137.580 pelari, hanya ada dua kejadian jantung serius yang tidak fatal, sedangkan ada 21 kasus heat stroke serius, dua di antaranya menyebabkan kematian.

Dalam populasi dan rentang lomba yang diteliti di Tel Aviv, kejadian serius terkait heat stroke tercatat sekitar 10 kali lebih banyak dibandingkan kejadian jantung serius.

Namun, perlu dicatat bahwa masih jarang studi mengenai ultra marathon. Sementara di samping itu, belum terdapat studi komprehensif di Indonesia sehingga proporsi heat stroke di iklim tropis Indonesia belum terukur.

Heat Stroke Dapat Memicu Henti Jantung

Ilustrasi Heat Stroke

Ilustrasi heat stroke. Getty Images/iStockphoto

Selain mengganggu kesadaran, heat stroke juga dapat memicu gangguan pada sistem kardiovaskular. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Universitas Indonesia, Berlian Idriansyah Idris, menjelaskan peningkatan suhu inti tubuh dapat mengganggu irama jantung hingga menyebabkan henti jantung mendadak.

“Heat stroke sangat bisa memicu gangguan ritme jantung yang menyebabkan jantung berhenti mendadak,” kata Berlian, yang juga merupakan staf Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI–RS UI.

Ketika suhu tubuh meningkat, jantung harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan sirkulasi darah. Pada saat bersamaan, pembuluh darah di kulit melebar untuk membantu melepaskan panas, sedangkan keringat yang terus keluar mengurangi volume cairan dalam darah. Kombinasi ini dapat menurunkan tekanan darah dan membebani kerja jantung.

“Saat core temperature melonjak, jantung berdenyut lebih cepat, sistem listrik dan metabolisme sel jantung terganggu yang bisa memicu terjadinya gangguan irama jantung,” jelasnya.

Penurunan aliran darah juga mengancam organ-organ vital. Otak, misalnya, membutuhkan pasokan oksigen secara terus-menerus. Apabila aliran darah terhenti sepenuhnya, kerusakan organ dapat terjadi dalam waktu singkat.

“Otak akan mengalami kerusakan permanen mulai menit ke-4 tidak mendapatkan aliran darah total. Jantung mulai sekitar menit ke-30 tidak mendapatkan pasokan darah total,” paparnya rinci.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Siloam, Vito Anggarino Damay, menambahkan dampak heat stroke tidak hanya timbul akibat berkurangnya pasokan darah dan oksigen. Panas berlebihan juga dapat mencederai sel secara langsung serta memicu peradangan luas dan gangguan pembekuan darah.

“Otak bisa mengalami gangguan kesadaran, ginjal dan hati bisa cedera, dan otot dapat mengalami kerusakan yang turut membebani ginjal,” jelas Vito.

Vito menjelaskan beratnya dampak heat stroke bergantung pada seberapa tinggi suhu tubuh meningkat, berapa lama kondisi itu berlangsung, seberapa jauh sirkulasi darah terganggu, serta seberapa cepat pertolongan diberikan. Makin lama suhu inti tubuh bertahan pada tingkat yang sangat tinggi, makin besar risiko cedera organ.

Dokter RS Siloam tersebut juga mengingatkan tanda heat stroke pada pelari tidak selalu tampak seperti yang dibayangkan. Seseorang yang mengalaminya masih dapat berkeringat. Karena itu, kulit yang tetap basah bukan alasan untuk mengesampingkan kemungkinan kondisi tersebut.

“Intensitas tinggi menghasilkan banyak panas dari kerja otot, sementara kelembapan tinggi menghambat penguapan keringat. Bahkan atlet yang sangat bugar bisa kewalahan bila panas yang terbentuk melebihi kemampuan tubuh melepaskannya,” tegas Vito.

Meski heat stroke dapat memicu henti jantung, tidak semua kasus berakhir demikian. Sebaliknya, kolaps saat berolahraga juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami heat stroke.

“Bila ada atlet kolaps saat lomba, penyebabnya tetap perlu diperiksa. Cuaca panas saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penyebabnya pasti heat stroke,” ujarnya.

Jika pelari mulai mengalami kebingungan atau berjalan sempoyongan setelah terpapar panas, aktivitas harus segera dihentikan dan pendinginan tubuh dilakukan secepat mungkin dengan bantuan tim medis.

Meski demikian, apabila seseorang tidak responsif dan tidak bernapas normal, penanganan harus segera beralih pada pertolongan henti jantung.

“Ini membutuhkan resusitasi jantung paru atau CPR dan penggunaan AED secepatnya,” tegas Vito.

Standar Keselamatan yang Perlu Diperhatikan

Ilustrasi lomba lari marathon

Ilustrasi lomba lari marathon. FOTO/iStockphoto

Risiko medis dalam lomba lari jarak jauh tentu tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fisik peserta. Standar keselamatan penyelenggaraan turut menentukan seberapa baik panitia mengantisipasi keadaan darurat dan memberikan pertolongan.

Guru Besar Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Djoko Pekik Irianto, menilai pengamanan pertandingan harus disesuaikan dengan tingkat risikonya. Untuk ultramarathon yang memiliki risiko tinggi, persiapan perlu mencakup skrining kesehatan, pemeriksaan medis, ketersediaan tenaga medis dan ambulans, serta pemantauan kondisi peserta sepanjang perlombaan.

Menurut Djoko, penyaringan calon peserta tidaklah cukup. Riwayat kesehatan dan kemungkinan kelainan medis perlu ditelusuri melalui pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.

“Selain skrining tentu harus ada medical check-up, yang terkait dengan kemampuan fungsi organ dari atlet itu,” katanya.

Meski begitu, Djoko menegaskan bahwa lolos skrining tidak menjamin peserta terbebas dari risiko medis. Kondisi tubuh dan intensitas aktivitas selama lomba tetap berpengaruh terhadap keselamatan pelari. Oleh karenanya, ia menyarankan pemantauan suhu tubuh selama aktivitas, termasuk melalui perangkat seperti smart watch yang dilengkapi sensor suhu.

Meski demikian, penggunaan perangkat konsumen tetap memiliki keterbatasan. Pengukuran suhu yang dihasilkan tidak selalu sama dengan suhu inti tubuh sehingga tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis atau dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan apakah seorang pelari mengalami heat stroke.

Djoko turut menyoroti kebutuhan tenaga medis dan ambulans di sepanjang rute. Dalam lomba dengan jalur yang panjang, pengamanan perlu memperhitungkan kemungkinan peserta membutuhkan pertolongan di lokasi yang jauh dari fasilitas kesehatan.

“Kalau seperti ultra marathon itu harus dikawal medik, harus ada ambulans dan sebagainya. Termasuk suhu lingkungan harus betul-betul diperhatikan,” ujarnya.

Ketersediaan air juga menjadi bagian penting dari keselamatan lomba. Dalam World Athletics Technical Rules edisi 2026, air untuk lomba lari jalan raya diatur tersedia pada interval yang sesuai, sekitar setiap lima kilometer. Pos air dapat disediakan lebih sering apabila cuaca atau kondisi peserta menuntutnya.

“Aturannya memang setiap 5 kilo itu harus ada pos air. Pos air itu bisa digunakan untuk minum atau untuk mengguyur badan, dan itu yang akan menurunkan panas tubuh sebagai akibat dia lari jarak jauh,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan penyelenggaraan olahraga di Indonesia bukan semata-mata pemahaman terhadap regulasi, melainkan konsistensi penerapannya di lapangan. Penyelenggara, misalnya, perlu memastikan jumlah petugas di pos air memadai agar penyediaan air dan minuman berlangsung sebagaimana mestinya.

“Kalau ekosistem di Indonesia sebetulnya dari aspek regulasi itu penyelenggara sudah sebagian besar, ya, pada umumnya memahami. Hanya memang kontrol terhadap peraturan itu yang masih perlu diperketat,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait LARI MARATHON atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama